Jangan Dianggurin

Jangan Dianggurin

“Baiklah Bapak-Ibu, sampai bertemu lagi di sesi berikutnya setelah makan siang nanti”, aku menutup penjelasanku. Lega rasanya bisa segera istirahat, perut sudah keruyukan dan rasanya agak kurang bergairah hari ini padahal aku masih harus 4 hari lagi di Bandung ini.

Aku sengaja duduk di meja pojok karena malas berbicara setelah 3 jam lebih ngomong rasanya cukup adil jika mulutku beristirahat dulu dari salah satu tugasnya. Sayangnya keinginanku segera buyar ketika tiga wanita peserta kursus mendekati mejaku. “Boleh gabung Pak ?’’ tanya mereka. “Och …silakan Mbak”, sautku agak tersedak karena tengah menyeruput kuah sup. “Waduh …gitu aja kok udah grogi Pak”, canda mereka sambil menarik kursi. Kami mulai terlibat percakapan yg akrab. Niatku untuk istirahat bicara lenyap karena mereka sangat menyenangkan diajak bicara. Setahuku cewe Bandung memang pandai bergaul. Lilis-ibu dua anak, berkulit putih berusia 27 tahun dan berbadan agak gemuk. Nur-belum berkeluarga, 28 tahun, berkulit putih dan bertubuh padat. Sementara teh Euis, begitu mereka selalu memanggil berusia 30, anak satu. Aku sendiri berusia 36 tahun tapi mereka tidak percaya. “Masa ?’ kata teh Euis. “ lho …kok nggak percaya”, memang umur berapa keliatannya ?” tanyaku. “yach …sekitar 45 mestinya”, saut teh Euis kalem. Ha…ha…ha….”, gelak tawa kami mengeras. Aku segera merasa akrab dengan canda teh Euis ini.

Siang hari pada jam praktek. Aku sudah duduk akrab di sebelah teh Euis menjelaskan program yg kami latih. Posisi duduk kami yg menyamping segera memperlihatkan sesuatu yg lain. Diantara celah kancing bajunya, warna merah BH berukuran 36 B segera menarik perahtian dan konsentrasiku. Aku begitu menikmati pemandangan itu sehingga tidak terlalu menghiraukan temen-temenku yg sibuk menanggapi panggilan dr peserta lain yg meminta penjelasan. Sudah 2 minggu aku tidak berhubungan dengan istriku dan pemandangan di depanku segera memicu sisi liar diriku. Aku jadi lebih memperhatikan teh Euis lebih teliti. Kumis halus di bibirnya semakin menarik perhatianku. Sementara lekukan roknya memperlihatkan bentuk pahanya yg cukup sekal dan mantap kalau menjepit. Gairahku terasa semakin naik. Entah teh Euis menyadari atau tidak. Selama proses pengajaran itu aku berusaha lebih akrab dengan sesekali menyentuh pundak atau lengannya ketika menjelaskan dan tampaknya dia tidak keberatan. Sore itu berakhir dengan janji jalan-jalan ke BIP untuk makan malam. Makan malam di Cafe Victoria terasa menyenangkan. Kami berbicara dengan terbuka mengenai keluarga masing-masing. Dari situ aku mengerti kalau suaminya kerja di Jakarta dan pulang seminggu sekali. “Waduch ….kalo gitu pulang dari sini langsung ada yg setor benggol sama bonggol”, candaku. “ich…. emang situ enggak setor juga, balas dia. “Hebat juga kamu bisa tahan seminggu sekali padahal Cimahi kan dingin ? tanyaku. “Namanya juga kepaksa”, jawabnya. Pulang dari BIP aku mencoba menggandeng dia tapi di depan hotel buru-buru kami melepaskan gandengan.

Di kamar menjelang jam 21.00 aku masih gelisah tidak bisa tidur karena membayangkan Euis. Akhirnya aku nekat menelepon kamarnya. Pura-pura menanyakan SIM. “Euis, kamu tadi ada liat SIM aku jatuh nggak waktu di café ?” tanyaku. “Enggak tuh, kenapa ?”, dia balik bertanya. “SIM aku nggak ada, padahal aku mau perpanjang pas pulang ke Jakarta nanti. Mudah-mudahan nggak jatuh di jalan waktu bayar sesuatu tadi”, kataku memberi alasan. “Kok belon tidur ?”’ tanyaku. “Susah tidur, abis si Ati yg sekamar nginep di Saudaranya. “Kalau gitu aku temenin ngobrol biar kamu nggak bingung”. “Boleh, ke sini aja’, ajaknya.

Di kamarnya aku ngobrol sambil memutar TV. Iseng aku pencet tombol saluran yg lain. Wachhh …ada film BF, kebetulan banget. Akhirnya obrolan kami terhenti dan kami lebih memperhatikan film tsb. Setelah beberapa saat, aku sudah terangsang tapi kuperhatikan Euis tenang saja hanya dia keliatan serius melihat adegan dalam TV. “Duchhh serius banget”, godaku sambil memencet telapak tangannya. “Gangguin aja yach”, balas Euis sambil berusaha mencubit lenganku. Aku tidak menghindar malah membiarkan dia mencubit, setelah itu sambil aku pegang telapak tangannya yg mencubit aku mengajak dia menonton kembali. Sambil menonton kugenggam tangannya. Setelah beberapa saat aku mulai meningkatkan aktivitas dengan memijat telapak tangannya sambil menaruh dipangkuanku. Euis tersenyum sambil berkomentar enak juga pijetannya. Mendengar komentarnya rasa percaya diriku meningkat. Dengan santai kutarik tubuhnya untuk bersandar ke tubuhku.

Sambil menyandar di tubuhku, aku mulai memijat pundaknya tapi itu hanya berjalan sebentar. Bau harum tubuh Euis membuatku seperti tak sadar menyingkap rambut belakangnya kemudian mengnecup pelan tengkuknya. “Achhhh …geli Mas”, saut Euis sambil meremas pahaku. Aku hanya tersenyum melihat reaksinya kemudian memutar tubuhnya. Sejenak kami saling bertatapan tapi itu sudah lebih dari cukup, tanda bahwa kami sudah memiliki keinginan yang sama dengan apa yang kami lihat di TV. “Kamu pinter mengarahkan aku ke suasana intim lho Mas”, kata Euis sambil mendorong tubuhku agar telentang di karpet. Kemudian Euis menindihku dan bibir kamu bertemu dengan cepat. Saling menghisap dan menggigit. Deru nafas kami semakin cepat dan hembusan nafas Euis terasa semakin hangat. Nafsu Euis tampaknya cukup tinggi, dengan gerak cepat dia menarik kaosku semnetara aku juga tidak mau kalah menarik kaosnya. Bibir Euis kemudian dengan cekatan sudah berpindah menjilat putting susuku. Uchhhhh …nikmatnya, sambil menjilat dia kombinasikan dengan menghisap …. kadang lembut …kadang keras. Ahhhh senang sekali jika bercinta dengan wanita yang berpengalaman. Aku juga tak mau kalah ketika dia menjilat putingku, jari-jariku dengan lincah bergerak di punggungnya melepas penutup payudaranya. Bagian tubuh yang menarik perhatianku dari awal segera terbuka lepas. Dari samping aku remas perlahan sambil mempermainkan ke dua ujung putingnya dengan jempolku. Setelah beberapa saat Euis mulai hilang konsentrasinya karena gesekan di ujung putingnya. Kami berguling mengganti posisi. Kutindih Euis dari samping, sambil mencium bibirnya dengan ciuman yang lembut dan dalam, jariku tetap memainkan putting sebelah kanannya. Dari bibir aku bergerak turun menciumi dan menggigit dagunya dan terus ke leher. Akhirnya dengan mantap aku menjilati dan menghisap puitng kirinya. Lenguhan halus terdengar dari bibir Euis sementara badannya bergetar lembut menerima rangsangan dari bibir dan jariku. Erangan demi erangan terdengar semakin keras …memberikan semacam rangsangan sendiri bagi telingaku. Aku semakkkkin terangsangt mendengar erangannya. Otot di selangkanganku semakin mengeras. Aku segera menggeser pantatku menindih selangkangan Euis yg menyambut dengan gerakan membuka kedua kakinya. Meski masih memakai celana pendek … aku segera memposisikan penisku yang sudah mengeras ke vaginanya yang tertutup celana dalam hitam. Aku gesek dan tekan penisku ke arah vaginanya dengan perlahan. Euis menyambut dengan gerakan menjepitkan kedua kakinya ke kakiku dan menggerakan pinggulnya ke atas menyambut geseka penisku. Hghhhh….heghhhh….. nikmat sekali rasanya penisku menggesek gundukan lembut vagina Euis. Matas Euis sendiri terpejam menikmati sensasi gesekan tsb sementara tangannya menekan pantatku. Aku sudah tak sabar menerima rangsangan ini. Dengan penuh keyakinan aku tarik celana dalam hitam tsb, dengan tubuh polos aku angkat dia ke kasur. Kami lanjutkan pergumulan yg tertunda sejenak. Mesin nafsu dalam tubuh kami sudah panas sehingga kami tidak merasa ada hal lain dalam pikiran kami. Hanya keinginan untuk mencapai orgasme yg ada dalam benak kami berdua. Sambil berciuman kembali, Euis yg berada di atas tubuhku mulai menggeser selangkangannya dan mengarahkan vaginanya ke penisku. Lembut ….digesekkannya lubang vaginanya ke ujung penisku.

Otot kelaminku segera merasakan sebuah celah licin mulai terbuka. Rasa licin dan hangat mulai melingkupi permukaan penisku. Aku tekan pantatnya dan penisku semakin dalam menyeruak dan menggesek dinding vagina. Euis mendesah lembut menerima tekanan tsb. Selanjutnya dengan mengangkat sedikit pundaknya, Euis mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan lembut. Ughhhhh…nikmat sekali sensasi yg ditimbulkan oleh gerakan pinggul Euis …terlebih lagi dia mengkombinasikan dengan gerakan menghentak lembut. Efeknya tidak hanya aku yg merasakan tapi setiap tekanan lembut yg dilakukan Euis membuat dia mendesah …. ooogghhhh….maju mundur beberapa kali kemudian menghentak lembut lagi …oggghhhh….erang Euis sambil memejamkan matanya. Terlihat jelas wajahnya menggambarkan kenikmatan yg sedang diburu dan sedang dinikmatinya. Bintik keringat kecil mulai muncul dikeningnya semntara punggungnya mulai basah juga. Aku imbangi gerak pinggul Euis dengan mendorong pantatku ke atas setiap Euis menghentak pinggulnya. Gerak kami semakin liar seiring dengan suhu tubuh kami yg semakin meningkat. Panassssss dan nikmaatttt …menyatu dalam setiap gerak tubuh kami.

Kami berguling berganti posisi. Ganti Euis yg berbaring, skala nafsu yg tinggi sudah kami capai naluri kami sudah menyatu. Aku bisa merasakan bahwa saat ini gerakan menghentak yg keras dan sedikit kasar akan membuat kenikmatan itu semakin indah. Sepretinya Euis juga merasakan hal yg sama. Dia segera menjepitkan kakinya kepinggulku, sementara aku sambil bertumpu pada kedua lututku yg ditekuk mulai gerakan menghentak dengan keras dan cepat. Hentakan demi hentakan kami lalui. Rasa nikmat menjalar semakin keras mengiringi setiap hentakan pinggul kami berdua. Jepitan kaki Euis makin mengeras diiringi tubuhnya yg mulai melengkung sementara tangannya mencengkeram tempat tidur. Mata Euis memejam sementara kepalanya mengeleng ke kiri ke kanan setiap kali aku menghentak. Ouchhhh…ouchhhh….oghhh…aghhhhhhhhh….tiba-tiba tubuhnya melengkung sementara tangannya berpindah mencengkeram keras ke dua pahaku. Vaginanya terasa meremas penisku lebih keras. Dia sudah mencapai orgaesmenya. Aku sendiri sudah merasakan ujung penisku juga berkedut dengan keras, kupercepat gerakan pinggulku, sesaat kemudian tubuhku bergetar mengejang. Cairan kenikmatan kemudian terpancar dari tubuhku. Aku tekan penuh setiap kali cairan tsb memancar. Ahhhhh …nikmatnya perjuangan ini. Kami terbaring diam dengan nafas yg masih menderu. Kulirik Euis, kepuasan terpancar di wajahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: