Pengalamanku Dengan Desi

Pengalamanku Dengan Desi

Dari kejauhan terlihat laki-laki setengah baya itu itu marah-marah dihadapan Mercedes Benznya. Tangan kirinya bertolak pinggang, sedang tangan kananya tak henti-hentinya memijit-mijit hand phone. Diwajahnya sudah terlihat butir-butir keringat membasahi jidatnya yang sudah kekurangan rambut. Akupun melintas dihadapannya, sambil sedikit melirik ke arah orang tua itu, namun tak disangka orang tua itu menyapaku, “dik….bengkel mobil jauh dari sini? tanyanya, 
“wah kalau bengkel Merce enggak ada di daerah sini,” jawabku. 
“Ada juga tambal ban,” tambahku. 
“Ngadat mesinnya ya pak,” sapaku. 
“Iya dik,” jawabnya. 
“Bisa saya lihat mesinnya,” pintaku memberanikan diri.
“oh… yah boleh,” jawabnya tanpa pikir panjang.

Bermodalkan pengalaman kerja di bengkel, akhirnya dapat juga kuperbaiki mesin mobil itu setelah 1 jam. Bukan main girangnya orang tua itu, namun ketika melihat jam rolex di tangannya wajahnya kembali agak murung, “waduh saya sudah terlambat,” gumamnya. Lalu ia bertanya “dik…kira-kira nanti mogok lagi enggak ya?,
Wah enggak ada jaminan pak, maklum bengkel jalanan,” jawabku. 
“Anda bisa nyupir?” tanyanya lagi, 
“mau kemana pak?” jawabku balik bertanya, 
“ke Bandung,” jawabnya, 
tapi waktu saya hanya tinggal 1 jam lebih ¼, 
“kalau saya bawa mana mungkin sampai dari Bogor ke Bandung 1 jam, belum lagi kalau mogok lagi,” keluhnya.

“Andakan bisa nyetir, bisa antarkan saya,” pintanya penuh pengharapan. “Kalau bapak percaya mengapa tidak,” jawabku. “Kalau gitu kita jalan,” ajaknya, sambil menyerahkan kunci mobilnya. Mobilpun ku pacu, awalnya pak tua itu ketakutan dengan mengatakan setiap ada tikungan “awas!” “hati-hati”, tapi dengan kelihaianku membawa mobil, lama-lama orang tua itupun terkagum-kagum dengan gayaku membawa mobilnya.

Di tengah perjalan kamipun berkenalan. Orang tua itu membuka perkenalan dengan menanyakan siapa namaku, “oh ya lupa belum nanya siapa nama adik?” Dudi jawabku pendek. “Masih kuliah atau sudah bekerja?” sambungnya. “Kuliahnya tinggal skripsi, selama kuliah saya bekerja serabutan kadang di bengkel, jual oli pokoknya apa saja yang penting bisa membiayai kuliah saya,” jelasku. “Dan sekarang kerja dimana?” susulnya, “kebetulan sekarang sedang nganggur,” jawabku. “Mau kerja dengan saya?” tanyanya. “Kerja apa,” jawabku balik bertanya. “Sementara supir, nanti kalau kau berbakat, saya naikan pangkatmu,” jawabnya. Tanpa pikir panjang, langsung aku iyakan, “boleh pak,” kataku senang.

Disinilah pertama kali aku berkenalan dengan orang tua yang belakangan ku ketahui bernama pak Broto (bukan nama sebenarnya) berusia 65 tahun, seorang direktur di beberapa perusahaan bonafit di negeri ini. Aku sendiri mahasiswa akhir jurusan Manajemen di PT negeri ternama di Bandung. Sebenarnya banyak sekali mahasiswi yang menyukaiku, sebab aku terbilang tinggi 170 cm, usia 24 tahun dan berkulit putih dengan dada bidang dan sangat atletis, karena memang aku pandai bela diri dan bermain musik. Demikian juga dengan wajahku, putih, mulus, hidung mancung dan mata mencorong tajam yang dihiasi bulu mata yang lentik dan halis yang hitam. Ditambah lagi dengan penampilanku yang selalu trendi, meskipun aku berasal dari keluarga yang serba kekurangan. 

Sampai di Bandung tepat hanya satu jam dari Bogor, pak Broto sangat suka sekali. Lalu ia minta aku untuk membawanya ke sebuah hotel berbintang 5 di kota Bandung. Sesampainya di pekarangan hotel aku lihat banyak orang yang menyambutnya, tampaknya mereka sedang menunggu untuk rapat. Mobil pun kuparkirkan dan aku menunggu sampai selesai. Setelah lebih dari 5 jam, tiba-tiba ada panggilan untuk mobil pak Broto. Akupun segera meluncur, kulihat pak Broto sudah menanti sambil di dampingi para koleganya.

Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, “kemana kita pak?” tanyaku. “Ke Lembang?” jawabnya, “tapi kita ke Dago dulu,” pintanya. Kamipun sampai alamat di Dago yang ditujunya, sebuah rumah yang cukup mewah, gerbangpun dibukanya, mobilpun kurapatkan didepan pintu utama. Belum lagi pak Broto keluar dari mobil, pintu depan rumah sudah terbuka dan muncullah dua sosok wanita. Yang satu sudah agak tua sekitar 45 tahun, yang satu lagi ini yang narik perhatianku, tinggi semampai, taksiranku tak lebih dari 165, wajahnya bukan hanya cantik tapi manis, enak di pandang, mirip Desi Ratnasari taksiranku umurnya tak lebih dari 23 tahun. Dengan kulit yang sangat putih bersih, si gadis menggunakan gaum hitam nan seksi.Hingga kulit paha dan bagian dada yang terbelah jelas kelihatan. Namun aku coba untuk tak ambil pusing. “Apa urusanku dengan wanita itu,” gumamku.

Pak Broto, tiba-tiba memanggilku, “ambilkan tasnya dan masukkan dalam bagasi,” pintanya. Akupun keluar untuk mengambil tas yang ada di tangan si wanita muda itu, wanita muda itu menatapkan dengan penuh seksama, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, seakan tak percaya kalau potongan aku ini seorang supir. Setelah kuambil tasnya, terdengar olehku dia bertanya pada pak Broto “siapa itu?”, “supir baruku”, jawabnya.

Kamipun meneruskan perjalanan, sepanjang perjalanan pak Broto menyebut nama wanita itu dengan nama Desi, dan mereka bercanda laksana sepasang muda-mudi yang sedang mabuk kepayang. Dari percakapan yang dilakukan aku tahu kalau Desi itu wanita simpanan pak Broto. Akhirnya sekitar pukul 9.15 kami sampai di Villa Lembang yang dimaksud. Sebagai supir yang baik, aku bukakan pintu pak Broto dan Desi. Namun saat membukakan pintu untuk Desi, pandangan mata kami beradu, dan tiba-tiba Desi mengerling genit ke arahku, tanpa terlihat pak Broto, karena hanya terjadi beberapa detik saja. Setelah membukakan pintunya, lalu kubawakan tasnya ke dalam Villa.

Di Villa itu terdiri dari 5 kamar, tiga kamar utama yang saling berjauhan. Setiap kamarnya ada tempat mandi dengan bak mandi dan air hangatnya, dan tentu saja dengan kasur busa yang sangat empuk dan berbagai macam kemudahan lainnya. Satu kamar lagi agak kecil dan satu kamar lagi di belakang sana untuk sang penunggu Villa. 

Aku menempati salah satu kamar utama yang berjauhan dengan kamar utama yang didiami pak Broto. Setelah mandi pak Broto mengajak saya untuk makan malam bersama. Saat itulah ku lihat Desi mencuri-curi pandang, mengerling genit ke arah aku. Perbuatannya itu membuat aku agak kikuk, karena khawatir terlihat pak Broto. Seusai makan aku langsung minta pamit untuk beristirahat, sesampai di kamar aku langsung tidur. Belum puas tidurku tiba-tiba ku dengar sayup-sayup suara langkah seseorang menuju kamarku. Sebagai atlet bela diri aku dapat mendengar dengan baik langkah halus yang menuju kamarku. 

Sebagai seorang yang tahu bela diri, maka cepat aku bergerak mengintip siapa gerangan yang datang, jangan-jangan maling masuk rumah. Bukan main tekejutnya hati ini ketika kulihat siapa yang datang. Dari balik hordeng kulihat Desi hati-hati berjalan menuju kamarku dengan baju tidur yang sangat trasparan dan tak mengenakan BH, sehingga dua buah gunung yang sangat Indah itu tampak jelas. Tahu Desi akan datang maka, lampu tidur ku matikan dan lampu neon kunyalakan dan aku pura-pura tidur.

Kreeek….pintu itu berderit saat dibuka, seiring dengan itu wangi parfum yang membangkitkan nafsu birahi pun turut masuk. Meski mataku dipejamkan, tapi jantungku berdebar keras, pelan-pelan Desi menghampiriku, semakin berdebar jantung ini rasanya. Dengan sedikit agak membungkuk Desi mengoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajahku, tampaknya ia ingin meyakinkan, apakah aku tertidur atau tidak. “Wah pules juga tidurnya”, gumamnya. Lalu dia berbatuk-batuk kecil, coba membangunkan. Aku pura-pura tak tahu. Melhat aku tak bergerak, lalu Desi duduk di samping kasur busaku dan memegangi kakiku, dan dicabutnya satu dari bulu kakiku. Tersontak aku kaget dan pura-pura terbangun.

Kulihat Desi tertawa kecil menunjukan kemenangannya, hi…hi…hi…, “Oh maaf kok ada Tante disini”, sapaku pura-pura gelagapan. “Ya, bangunlah ada yang ingin aku bicarakan,” katanya. Dengan sigap aku bangun, dan mempersilahkan Desi untuk duduk di Sofa. Lalu aku minta ijin untuk ke kamar mandi mencuci muka. Setelah itu ku hampiri Desi. Ketika aku menghampiri, Desi memandangku dengan seksama. Aku jadi agak risih dipandangnya seperti itu.

Setelah dekat, aku duduk di sofa, sambuil berkata, “ada apa tante malam-malam begini, ada yang bisa saya bantu, bagaimana kalau nanti ketahuan pak Broto?,”kataku. 
“Jangan takut pak Broto sudah kecapaian, habis perjalanan jauh, rapat dan main dengan aku, lalu minum obat, baru besok jam 10 pagi dia bangun,” paparnya. 
“Cerdasku juga orang yang mirip Desi Ratnasari ini,” pikirku. 
Tadi aku main dengan orang tua itu, dia terpuaskan, tapi aku kini yang tersiksa,” sambungnya. 
“Main apa?” tanyaku berlagak pilon. 
“Ah kamu berlagak bodoh”, jawabnya. 
“Serius Tante,” kataku meyakinkan. 
“Jangan panggil aku tante, panggil aku Desi,” pintanya sambil menghampiriku. 

Desi lalu duduk di meja kayu jati itu, “Dudi terus terang kamu ini supir, anak atau masih ada kerabat dengan pak Broto atau kau staf ahlinya di kantornya,” tanyanya. Sambil memandangku penuh selidik. 
“Ada apa memangnya?” tanyaku. 
Kau tak pantas jadi supirnya, “kau terlalu tampan, gagah dan menggairahkan,” katanya. Ah tante….eh….Desi bisa aja, kataku gagap. 
“Aku serius,” katanya membantah.

“Dud mau kau tolong aku,” tanyanya. Sambil berdiri di depan mukaku, sehingga demikian jelas terlihat kedua susunya yang mancung, padat berisi, nan putih itu di balik baju tidurnya yang transparan itu. Putingnya kulihat dengan jelas sudah agak menegang. “Apa yang biasa saya bantu tante…eh…Des,” kataku gugup. “Dud kau tak mengerti, sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merindukan untuk dibelai dan tidur denganmu, dan….,” ucapnya penuh permohonan. Belum lagi kata-kata itu selesai Desi sudah merangkul dan mendekapku diantara buah dadanya yang indah itu. 

Aku jadi gelagapan, belum lagi aku sempat berbuat sesuatu, Desi sudah menurunkan baju tidur bagian atasnya, sehingga kini buah dada itu tampak jelas tanpa penghalang apapun. “Dudi, ayo dud……, aku sudah tak tahan,” katanya lirih menahan gelora nafsunya. Melihat ini aku tak tega rasanya membiarkannya menderita. Maaf Des….belum lagi selesai, Desi memotong “Dud buatlah sesukamu,” katanya. Dan baju tidur itupun kini sudah terkapar di lantai. Tinggal cdnyalah yang masih melekat pada tubuhnya. Sekarang tampaklah tubuhnya yang putih bersih, mulus nan indah.

Akupun berdiri, kudorong perlahan tubuhnya, kucium bibirnya, dan kuhisap lidahnya, Desi pun merintih agh……agh…..augh………augh………….menahan kenikmatan. Desi pun membalas dengan penuh nafsu birahi, sementara itu tanganku mengusap-ngusap punggungnya yang putih laksana salju dan membelai-belai ramputnya yang hitam. Sementara itu tangan Nani sibuk membuka kamcing baju piamaku, dan tak lama kemudian baju ataskupun terbuka sudah.

Setelah lama kulumat bibirnya, mulutkupun kini mulai menciumi lehernya yang putih itu. Oh………iiiiihhh…….iiiiiiiiihhhhhh………geliiiii………augh………enaaaaaaakkkkkkk……..
terdengar Nani merintih menahan rangsangan yang luar biasa saatku kuciumi bagian lehernya. Setelah lehernya akupun beranjak ke arah bagian belakang kupingnya, dan Desipun bergumam ooooohhhh…….iiiiihhh…….iiiiiiiiihhhhhh………geliiiii………augh……… 
Pada saat yang sama tanganku sudah bergerilya ke teteknya yang indah itu. Susu Desi memang indah, ukurannya tak terlalu besar, menonjol penuh tantangan, selain memang berkulit kuning langsat, kelihatan sekali jarang disentuh oleh pria. Mula-mula kusentuh putingnya yang sudah menegang, lalu perlahan tapi pasti mulai kuremas-remas kedua tetek itu. Desipun merintih terussssss…….teruuuuuuussssssss…… auuuuuugh…….. oooooohhhhhhhhhhh…………….dan akupun terasa terpacu untuk terus meremasnya.

Kini giliran mulutku yang bergerak dari leher ke arah dadanya. Sesampainya di puncak gunung kujilat perlahan putingnya secara bergantian. Jilatan ini tampaknya memberikan rangsangan luar biasa bagi Desi, maka iapun menjerit auuuuuugh…….. oooooohhhhhhhhhhh…………….auuuuuuuugh………… enaaaaaaakkkkkkkk ………..sambil mendekapkan susunya kemukaku. Setelah kujilati perlahan, kini giliran yang jauh lebih nikmat. Perlahan-lahan mulai kuhisap puting yang berwarna coklat muda, semakin lama hisapan semakin dalam dan akibatnya luar biasa Desi menggelinjang-gelinjang sambil memegangi kepalaku. Pada saat yang sama mulutnya merintih gila……..augh……….enaaaaak………Dud……………..teruuuuuussss………….. oooooohhhhhhhhhhh…………….auuuuuuuugh………… enaaaaaaakkkkkkkk ………..Dan akupun semakin menjadi-jadi dalam menghisap kedua putingnya secara bergantian. Dan Desipun semakin terangsang dengan amat hebatnya, yang dibarengi dengan jeritan-jeritan kecil seperti orang yang mengigau.

Saat merintih panjang tiba-tiba aku berhenti menghisapnya dan melepaskan pelukannya, Desi agak terkejut, namun cepat kubisikan, “tunggu sebentar”. Sebelum Desi sempat berbuat sesuatu kuambilnya madu dalam botol yang tersedia di kamar itu. Melihat aku mengambil madu, Desipun tak diam, dibukanya cd yang bermerek Triumph itu. Saat aku balik lagi, tubuh Desi sudah tak terlindungi sehelai benangpun, Kulihat tubuhnya yang kini makin sempurna tak ada satu cacatpun dalam badannya yang tanpa penghalang apapun, di bagian bawah kulihat bulu-bulu yang belum lama bekas dicukur. 

Dengan sigap kubuka tutup botol madu itu, Desi bertanya “untuk apa?” “untuk terbang lebih tinggi,” jawabku, Desipun mencubit genit. Lalu kutuangkan sedikit madu itu kejari-jemariku yang kuoleskan ke kedua puting kecoklatan itu. Desi menjerit kecil ih….ih…..ih…..antara kebingungan dan geli. Namun setelah itu Desi menjerit dengan suara yang lain augh………augh………augh……… sambil tubuhnya mengelinjang-gelinjang menahan rangsangan. 

Lima belas menit telah berlalu aku bermain di atas puncak gunung kenikmatan. Lalu mulutkupun bergerak ke arah perutnyanya yang penuh wangi parfum yang menggairahkan itu. Kuciumi perutnya sambil terus turun ke bawah ke arah gua kenikmatan. Posisi Desi yang berdiri itu lalu kusuruh duduk di sofa, tanpa diperintah lagi Desi membuka selangkangannya lebar-lebar sehingga tampak gua kenikmatan itu. Perlahan tapi pasti mulutkupun mulai mengarah ke arah gua itu.

Kulihat itil Desi sudah agak memerah, bibirkupun mulai usil, kugigit dengan bibirku itilnya yang agak memerah itu. Desipun menjerit auw……auw…..hayo teruuuuuussssss, jeritnya dan mulailah kujilati itilnya itu, bukan main dampaknya, Desi menjerit-jerit, auw………auw……aduh ………..enggak tahan……….auuuuuuuugh………… auuuuuuuuugh………auuuuuuuugh………dan terus menjerit-jerit. 

Melihat Desi yang menjerit-jerit aku semakin menjadi-jadi, kali ini kuolesi lagi itil dan dinding memeknya dengan madu. Lalu kujilati dengan lahapnya laksana menjilati permen, tapi kali ini bukan permen melainkan memek rasa madu. Desi semakin menjerit-jerit enggak tahaaaan………….terus……..masukiiiin………ayo terusss……..auuuuuugh…….enggak tahaaaaannnn………tiba-tiba Desi mengangangkat pantatnya dan kedua pahanya menjepit kepalaku dan tangannya menekan kepalaku ke arah memeknya. Gerakan Desi ini membuatku menjadi susah bernafas, karena lubang hidungku tertutup memeknya. Tapi aku mengerti kalau Desi akan orgasme, maka jilatankupun semakin menjadi jadi, lubang memeknya yang merah itu sudah kuolesi madu semakin kujilat, sehingga bisa dibayangkan betapa nikmatnya Desi merasakan jilatan itu. 

Duuuud…………..enggak tahaaaaaaaaaaaaan………..aku keluuuuuuuaaaaaaar………..
auuuuuuuuuugh…………auuuuuuuuuugh……..auuuuuuuugh……..Desi menjerit panjang dan mengejang. Sambil berteriak Desipun semakin mengangkat pantatnya dan semakin menjepit pahanya dan menekan kepalaku. Jilatankun mulai ku kendorkan, untuk memberi kesempatan agar cairan putih itu keluar. Di tengah jeritannya itu keluarlah cairan putih, bagaikan bendengan jebol, keluar dari memeknya.

Dengan sebelah tangan kuambil bagian dari cairan kenikmatan itu, dan kutunjukan pada Desi yang mukanya kini memerah itu, Desi tak berkomentar hanya merintih augh…..sambil menuangkan cairan putih itu ke dadanya. Setelah itu, memek Desipun kujilati lagi untuk menghilangkan sebagian cairan yang tadi. Desi kembali merintih dan berkata gila kamu Duuud…….. Akupun paham kalau dia kecapaian dan baru saja sampai kepuncak kenikmatan dan butuh istirahat.

Maka kutarik wajahku dari memeknya, lalu aku berdiri mengambilkan beberapa botol minuman buah yang tersedia di kamar itu. Kuberikan satu padanya, Desipun mengambilnya sambil berkata “Dud kamu memang luar biasa” katanya memuji. “Aku bilang itu belum seberapa”, oh ya…..jawabnya. Kamipun duduk beristirahat mengatur nafas, mengumpulkan tenaga. Sambil istirahat ku puji-puji kecantikan Desi sambil meraba-raba bagian tubuhnya yang paling sensitif, kulihat Desipun sangat menikmatinya.

Karena selalu kugoda Desi nampaknya cepat terangsang lagi, tiba-tiba Desi berdiri dan bertolak pinggang sambil berkata agak marah “Dud kamu curang, celana piama kamu belum dibuka,”. Melihat Desi yang berdiri sambil bertolak pinggang itu tampak nyata betapa hampir sempurnyanya wanita ini kala telanjang. Lalu akupun menjawab “kalau mau buka sendiri”, sambil kutarik tubuh Desi yang telanjang itu dalam pangkuanku.

Tubuhnya yang molek itu menindih aku, tanpa diperintah Desi kini jauh lebih agresif. Dia mula menciumi aku mulai dari mulut hingga ke leher terus ke dadaku yang penuh bulu dan terus ke perut. Dan terus kebawah lagi, tapi terhalang oleh celana piamaku, iapun menarik celana piamaku dan kini hanya tinggal cdku yang menggelembung. Perlahan tapi pasti Desi membuka perlahan cd, dan perlahan pula timbul rudal yang telah lama dinantikan Desi. 

Desi langsung melorotkan cdku dan betapa kagetnya Desi ketika melihat kontolku yang gede, panjang dan hitam itu. Saking kagetnya, Desi sampai menarik badannya kebelakang dan melihatku sambil bertanya “Dud ini punya kamu, apa kontol kuda, gede amat,” katanya terheran. “Muat enggak ke memek aku yang kecil ini”, sambung sambil tangannya meraba memeknya. Lalu kubilang “mau enggak nih, kalau enggak tutup lagi,”. “Oh jangan yang gede gini justru yang akan memberikan kenikmatan yang luar biasa,” jelasnya. Sambil berkata demikian mukanya diarahkan pada kontolku yang gede itu dan mulutnya yang mungil menjilati kontolku dan tak lama kemudian, dimasukannya kontol ke mulutnya dan sibuklah Desi menghisap dan menjilati kontolku, aku yang duduk merasakan kenikmatan yang tiada taranya, ku belai-belainya rambut Desi. Desipun kelihatan sangat menikmati kontolku yang gede itu, dihisapnya kontol dalam-dalam lalu kepala Desi bergerak maju mundur mengocok kontol gede itu. Namun kontol itu hanya masuk seperempat saja kemulutnya. 

Desi rupanya cukup punya inisiatif, cairan putih yang tumpah dari memeknya dan kini masih membasahi dadanya digunakan untuk meremas-meremas kontolku. Desi melepaskan hisapannya dan sedikit mengangkat badannya, sehingga kontolku dan susu Desi tepat berhadapan. Maka didekapkanlah dadanya dan kedua tangannya digunakan untuk mendorong susunya untuk menekan kontolku. Kini kontolku terjepit dan menghilang diantara dua buah susunya. Dan Desipun menggerak-gerakan ke atas kebawah sehingga kontolku timbul dan tenggelam dianatara dua susu itu. Dengan adanya bekas cairan itu maka, keadaan menjadi licin dan bukan main enaknya yang kurasakan, kontol dijepit oleh kedua susu. 

15 menit sudah kunikmati permainan mulut Desi atau kontolku, aku tahu Desi tak akan sanggup mengeluarkan lahar yang ada dalam kontolku. Maka akupun mulai bergerak, duduk agak tegak agar tubuh Desi mendekat dan mulailah kupermainkan kembali teteknya yang indah itu. Desipun merintih iih….iiiiiih…..iih….lalu kuangkat tubuh Desi dan Desipun melepaskan hisapannya. Aku ajaknya Desi pindah ke atas kasur busa yang empuk itu. Sesampai di atas kasur, posisi kami berubah menjadi 69, bukan main sukanya Desi, jerit dan rintih kenikmatan kembali keluar dari mulut Desi. Auuuuugh….. “kontol rasa madu”, katanya berteriak, akupun menimpali “memek rasa madu,”. Ditengah asyiknya saling menghisap tiba-tiba Desi menarik badannya, sambil berkata Dud aku enggak tahan……. masukin doooong………..kontolmu” pintanya merintih. 

Aku tahu kalau kumasukan langsung dari atas mungkin akan agak sakit, karena itu, aku tarik tubuh Desi ke pinggir ranjang, pantat Desi kini ada di pinggir ranjang, dan selangkangannya ku buka lebar-lebar, sehingga tampak memeknya yang merah itu. “Masukin…cepeeeeet”, pintanya. Sebelum kumasukan kupegang kontolku dan kugesek-geskan ke itil Desi. Desi menjerit auuuuugh……..geliii…..enaaaaak……teruuusssss……. dan terus kugesek-gesekan. Diantara dinding memeknya kulihat cairan putih bening, pertanda Desi berada dalam puncak nafsu yang amat luar biasa.

Desi kembali teriak masukiiiiinn……….enggak tahaaaaaan……., mendengar teriakannya enggak tega juga kalau terus kepermainkan. Maka perlahan-lahan kontolkupun ku masukan perlahan-lahan, terasa olehku cairan putih bening itu memperlancar masuknya kontolku. Setelah kepalanya masuk, maka perlahan tapi pasti kumasukan lebih dalam lagi, saat itulah terdengar Desi merintih, iiihhhh……..iihhhhh……..auuuugh………auuuugh …….. sedaaappp……..enaaakkk………dan terus mulutnya berkicau. Akupun semakin bergairah maka kutekan terus hingga 70% kontolku amblas ke memek Desi yang kecil nan Indah itu. Karena memek itu kecil maka kurasakan seperti ada yang meremas-meremas kontolku, nikmat bukan main. Maka mulailah aku mengolahnya, mula-mula ku tarik ke depan dan kebelakang hingga Desi menjerit histeris auuuuuuugh…………
auuuuuuuuuuugh………………auuuuuuuuuugh……………….teruuuuuussssss…………
terusssss…… sambil tangannya memegang seprai kasur seperti orang yang mau melahirkan. Setelah maju mundur, maka kini kuputar-putar kontolku yang gede itu dalam memek Desi yang mungil itu. Sehingga kini dinding memek atas, bawah kiri, kanan benar-benar tersentuh kontol, maka bukan main jeritan yang keluar dari mulut Desi augh……..augh………ah……..aahhhh………., ennaaakkk……….
teruuuuussssss………………., ssssttt, kataku mengingat Desi yang menjerit-jerit, sebab khawatir terdengar oleh orang lain. Namun Desi kini sedang diatas puncak kenikmatan yang tiada taranya, diapun mengacuhkan peringatanku. 

“Wah bahaya kalau begini caranya”, pikirku. Karena itu, kudoyongkan badanku ke arah badannya, dan kuremas-remas susunya yang montok nan indah itu. Jeritan Desi semakin menggila auwww…………auw……..augh……jeritnya. Agar tidak terus berisik, maka kusumpel mulutnya dengan mulutku, kulumat bibirnya dan kuhisap lidahnya, maka kini Desi tak bunyi lagi. Namun demikian, Desi sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sekaligus. Memeknya yang kecil terus kutusuk-tusuk dengan kontolku yang gede, sementara itu tangaku meremas-remas susunya yang montok, pada saat yang sama mulut dan lidahnya kuhisap habis. Sementara itu Desi sendiri menggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pantatnya hingga kontol yang besar itu masuk ke segala arah dari memeknya.

Namun tiba-tiba Desi mempercepat goyangannya dan memeluk erat tubuhku dan mulutnya menggigit mulutku, aku mengerti Desi tak akan lama lagi segera orgasme, karena itu, semakin ku percepat genjotan kontolku. Benar saja tiba-tiba Desi menjerit dan mengeong seperti kucing beranak. Augh……..aku enggak tahaaannn……..keluaaaaaar lagi………… augh………..segala macam bunyi keluar dari mulut Desi. Pada saat yang sama terasa olehku adanya lahar panas yang membasahi kontolku. Ketika ku genjot lagi terdengar bunyi berdecak creek……creekk……. Bunyi ini rupanya memberikan kenikmatan dan tenaga baru bagi Desi.

Dengan bunyi itu Desi tak minta untuk istirahat sejenak, namun terus menggenjot pantatnya dan minta ganti posisi. Kini Desi minta diatas, maka kupersilahkan posisinya diatas. Desi pun berdiri tepat diatas kontolku, lalu dia dari atas merendahkan badannya, dengan selangkangan terbuka dan memek yang menganga, saat kepala kontolku menyentuh memeknya Desi sempat berhenti sejenak dan melihat kontolku yang gede, seakan takut kalau memeknya yang mungil itu rusak. Belum lagi memek itu masuk semuanya Desi sudah merintih sambil mengangakan mulutnya, karena ia sedang mengkhayalkan kenikmatan yang akan segera datang.

Perlahan tapi pasti, maka bleessssss…..semua kontolku masuk semuanya ke dalam memek Desi. Desipun pun mengangkat badannya, lalu menurunkannya lagi diatas kontolku, nikmat bukan main rasanya yang kurasakan. Tubuh Desi yang bergoyang turun dan naik membuat pemandangan menjadi lebih indah, sebab kedua susunya juga turut bergerak-gerak beriringan. Bergoyangnya susu Desi bagiku merupakan tantangan, maka kuangkat kepalaku menuju ke arah susu yang indah itu, lalu kuraihnya dan kuisapnya. Desipun menjerit augh………..nikmaaaat………teruuussssss………..gila enaaakkk……entah kata-kata apalagi yang keluar dari mulut Desi yang kini berada di puncak kenikmatan.

Dalam buku psikologi sek yang aku baca biasanya kalau perempuan posisinya berada diatas akan lebih cepat orgasme. Kini apa yang terjadi dengan Desi tak jauh beda, meski telah dua kali orgasme, namun Desi adalah jenis orang yang sensitif. Maka ketika susunya kuhisap dan kuremas, juga kujilati, maka lagi-lagi tubuh Desi menggelinjang-gelinjang laksana cacing kepanansan. Augh…….augh…….oohhhhh………oohh………
terusssssss…….enak gilaa………luar biasa………..kontolll………memekkkkkk……..
auuuuuuuuuuuugh………….auuuuuuuuuugh……Dud kamu gila aku enggak tahan lagi niiiihhhhhhhhh……………..Desipun mempercepat genjotannya dan tiba-tiba dia mengejang sambil mendekapku, aku keluaaaarrrrr……….enaaakkkkkk……enaaakkkk………kata sambil menjerit-jerit. Akupun merasakan ada cairan panas menyirami kontolku.

Tubuhnya yang pebuh keringat itu lunglai sambil memeluk ku. Namun aneh Desi memang hiper sek mungkin, perlahan kugerakan kembali kontolku yang dalam memeknya tiba-tiba, Desi menjerit lagi, augh……aku mau lagi……..gila enak…….kontol kamu dud……enaaakkk………….luar biasa…….. diapun menggoyang-goyangkan dengan lebih cepat tubuhnya dan aahhh……augh……….aku mau keluar lagiiiiii………ampuuuunnnn…… enaaakkkkk………., cairan panas keduapun kembali kurasakan. Sementara iu aku sendirpun belum ada tanda-tanda akan keluar.

“Dud kamu belum mau keluar?” tanyanya. “Gila benar-benar gilaaa”…. katanya geram. Aku tahu Desi kecapaian, “istirahatlah dulu”, pintaku sambil kuturunkan tubuhnya dari atas badanku. Lalu kuambilkan handuk kecil dan minuman buah segar. Kuserahkan minuman buah segar itu dan kuelap tubuh Desi yang basah kuyup oleh keringat itu. Desipun mulai minum buah segar itu sambil duduk, dan dengan penuh perasaan kuelapi sambil kupuji-puji kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Desi rupanya sangat menikmati segala yang kulakukan.

“Dud kok kamu kuat amat, sudah empat kali aku orgasme, tapi kamu belum sekalipun,” gila!” kamu minum obat, atau jamu atau racun apa sampai kuat amat” katanya. Aku dari sejak kecil di kampung biasa makan buah paria yang pahit itu atau buah sejenisnya yang memang pahit tanpa kusadari buah-buahan itu ternyata berkhasiat dapat menahan untuk tidak cepat orgasme. Kalau begitu beruntunglah aku malam ini mendapatkanmu. Setelah 10 menit kami beristirahat, jam sudah menunjukan jam 11.30 berarti kami bermain sudah 1,5 jam.

Ditengah perbincangan itu, tiba-tiba Desi memegang tanganku sambil berkata, “Dud aku mencintaimu”, entahlah tiba-tiba ada perasaan lain dalam diriku, terhadapmu”. Aku bukan hanya terpuaskan olehmu, tapi terus terang sekarang ada perasaan cinta dalam dadaku ini. “Dada yang mana, kan sudah kuhisap, remas-remas,” sahutku berlagak bodoh. “Dud jangan bercanda aku serius mencintaimu, aku tak ingin berpisah denganmu,” oh…..betapa aku mencintaimu,” katanya. Melihat ini akupun menjadi tak tega, “aku juga menyangimu Des,” sahutku, Desi bukan main gembiranya mendengar ucapanku itu, “betulkah ohhhhhh”……. dan Desipun memeluku.

Desipun kemudian melihat kearah kontolku yang masih saja tegang, ohh…kontol wasiat. Tiba-tiba Desi naik lagi keatas tubuhku, dia tampaknya ingin mengambil posisi diatas lagi, namun hal ini cepat kucegah jangan diatas lagi, salah-salah kamu bisa mati kehabisan cairan,” kataku, Desipun tersenyum bangga, jadi sekarang bagaimana tanyanya. “Nungging”, kataku, “oh iyah”, jawabnya. Maka Desipun Nungging, perlahan tapi pasti kuarahkan kontolku yang gede itu ke memek Desi yang menganga itu. Blessss…….kembali kontolku memasuki memeknya yang mungil itu, tanpa dipinta Desi menggoyangkan pantatnya dan memaju mundurkan badannya. Gaya nungging ini kami lakukan cukup lama sekitar 10 menit.

Lalu posisi kami berganti lagi, kami berdiri berhadapan dan sebelah kaki Desi diangkat diatas ranjang, hingga lubang memeknya jadi terbuka, maka kumasukan kontolku ke memeknya. Desipun merintih ihhhh…….iiihhhh…………..enak juga ngewe sambil diri yah……sambil menggoyang-goyang pantatnya. Tangankupun bergerak menuju gunung kenikmatan dan kuremas-remas susunya. Augh……….enaaakkkkkk……Desi menjerit panjang.

Dud, kelihatannya aku enggak lama lagi niiihhhhh…. bakalan keluar lagi…Namun pada saat yang sama kawah didalam kontolku juga sudah bergelora mau keluar. Tahu akan hal maka Desi kuajak berbaring diatas kasur busa yang empuk. Pahanya kembali mengangkang sehingga memeknya yang memerah kelihatan dengan sangat jelas. Kupegang kontolku dan kugesekan ke arah itilnya, Desi menjerit iiiihhhh……..geliiii……. Cepet masukiiiiinnn……..enggak tahan niiihhhhh…….namun semakin menjerit-jerit semakin nikmat rasanya aku mempermainkannya. Puas mempermainkannya pelan pelan kumasukan lagi kontolku dan bless…..oooohhhh……..jerit Desi. Merasakan kontol sudah amblas Desipun menggoyangkan kedua pantatnya dengan amat cepatnya sehingga jadi agak berputar-putar, kondisi ini bukan main nikmatnya. Akupun semakin cepat menggenjot keluar masuknya kontol, hal ini membuat Desi terus merintih…..terusssss…….lagiii……. enaaaakkkkk…….sampai pada tahap tertentu tiba-tiba Desi berhenti dan mengatakan Dud aku udah enggak tahaaannnnn……..”aku juga sudah mau keluar,” jawabku. “Kita keluar bareng,” katanya. Maka laksana di komando kami menggenjot memek dan kontol dengan kecepatan yang luar biasa, sampai pada akhirnya Desi tiba-tiba mengejang memelukku sangat kuat sambil teriak Duuuuuuddd…………..keluaaarrrr…………… Enaaakkkk…………..augh…………..ooohhh………. pada saat yang samapun bendungan di kontolku sudah tak tertahan lagi, maka kudekap Desi dengan erat, akupun memanggil namanya Des………..aku keluaaaarrrrr……….auuuuugh………auuuugh…….auuuugh……..dan dua cairan panaspun beradu, bukan main nikmatnya, nikmat yang tiada taranya. 

Kami berduapun lunglai sambil tetap berpelukan. “Dud kamu perkasa,” kata Desi. Des susu dan memek kamu enak luar biasa, nikmatnya,” pujiku. Desi tampak senang. Namun segera aku ingat akan Pak Broto, maka aku bisikan “Des gimana pak Broto?” “tenang aja dia enggak bakal bangun sampai besok pagi jam 10,” jawabnya meyakinkan. Jam sudah menunjukan jam 12.00 dua jam sudah kami bertempur, kuambil selimut lalu kututupi tubuh Desi dan kamipun tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: