Yang Tak Kusangka

Yang Tak Kusangka
Mei 8th, 2007
Aku punya seorang tetangga yang tinggal di seberang rumah. Namanya Ana, dan kupanggil Ci Ana, karena ia seorang wanita keturunan Chinese. Sebenarnya aku tidak suka pada gaya dan cara hidupnya yang menurutku ‘ngegampangin’ apa-apa. Ia suka memandang ringan pada semua hal. Termasuk hubungan dengan tetangga sekitarnya. Ci Ana ini sudah menikah dan punya anak satu, Rachel namanya.
Wanita tetanggaku ini memang orang yang bertipe mudah bergaul dan ia gampang akrab dengan siapa saja, termasuk dengan isteriku, Rini. Kadang aku muak bila Ci Ana ini sering memanggil orang dari kejauhan seperti memanggil seekor anjing. Tapi tidak apalah, pikirku, mungkin udah jadi kebiasaannya. Kalo denganku, aku sengaja tidak mau akrab. Entah kenapa. Mungkin karena aku tidak mau bergaul dengan sembarang orang atau karena memang aku tidak suka dengan tetanggaku yang tergolong baru pindah sekitar dua bulan yang lalu itu.
Sekitar seminggu yang lalu, saat hendak berangkat ke kantor aku tanpa sengaja menengadah dan memperhatikan seseorang berjalan mendekati isteriku yang akan naik mobil kami. Kebetulan saat itu aku sudah ada dalam mobil dan hendak menginjak pedal gas. Ternyata si Ci Ana. Kebetulan ia hendak pergi ke arah yang berlawanan. Waktu lewat, kulihat ia mengenakan kaos hadiah dari produk cat “CATYLAC” dengan tulisan merah dan kaosnya itu amat tipis dengan warna dasar putih. Wah.. Buah dadanya itu lho. Tidak kusangka ia punya payudara yang besar. Kayaknya lebih besar dari punya isteriku.
Sepanjang perjalanan ke kantor, badanku terasa panas dingin memikirkan payudaranya itu. Oh.. andaikata aku punya kesempatan.. aku ingin tidur dengannya.. atau paling tidak kalo dia tidak mau, aku akan memaksanya. Aku ingin menikmati payudaranya. Orangnya memang cantik, tinggi dan putih. Walau berkacamata, dapat kulihat wanita itu kelihatannya memiliki gairah seks yang tinggi. Entah hanya khayalanku saja atau memang demikian adanya. Rupanya kesempatan itu akhirnya datang juga.
Dua hari yang lalu, saat lingkungan tempat tinggal kami sedang sepi, terjadilah hal yang tidak kusangka-sangka. Saat aku pulang beristirahat pada sekitar pukul dua belas, seseorang wanita memanggilku. Waktu itu aku hendak menutup dan mengunci pintu pagar.
“Win..! Sini bentar, Win.”
Ternyata Ci Ana. Kudekati dia di pintu pagar rumahnya lalu aku bertanya padanya dengan hati dag-dig-dug tak karuan.
“Ada apa Ci?”
Sambil membuka pintu pagar ia menjawab, “Masuklah dulu.. ada sesuatu yang hendak aku bicarakan..”
Tanpa bertanya lebih lanjut, aku mengikutinya masuk ke dalam rumah (tentunya setelah pagar itu aku tutup dan kunci). Di ruang tamu, aku kemudian duduk dengan perasaan deg-degan. Sementara ia berjalan masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia muncul dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.
“Aku mau tanya ini, Win.. kamu ‘kan pintar bahasa Inggris. Terjemahin ya, untuk aku. Kotak ini isinya kamu lihat sendiri aja deh..” ujarnya dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa.
Kuraih kotak dan kertas yang berisi petunjuk tentang cara pemakaian benda di dalamnya. Kotaknya memang masih terbungkus rapih. Saat kubuka bungkusnya, aku kaget bukan kepalang. Tidak pikir benda apa, eh tidak tahunya itu alat kelamin pria alias penis palsu terbuat dari semacam plastik yang dapat digerakkan sesuai dengan kemauan pemakainya. Alat itu harus menggunakan arus listrik. Setelah kubaca petunjuknya, lalu kujelaskan pada Ci Ana.
“Ci.. daripada Cici pakai alat ini, mendingan pake yang aslinya aja gimana.. Maaf, Ko Teddy (nama suaminya) ‘kan pasti mau tiap malam..” jawabku sambil memandangnya.
“Wah, Win.. dia jangan diharapin deh.. pulang malam terus.. Datang-datang pengennya tidur aja.. jadi gimana mau melakukan hubungan intim, Win.. sementara wanita kayak aku ‘kan butuh dicukupin juga dong kebutuhan biologisnya..” jawabnya enteng namun wajahnya masih terlihat bersemu merah. Ia pun tertunduk setelah itu.
“Gimana kalo.. aku aja yang mencoba memuaskan Ci Ana..?” tanyaku tiba-tiba.
Aku tidak percaya dengan suaraku sendiri. Beraninya aku berkata begitu pada wanita tetangga yang sudah bersuami. Bisa repot nih jadinya.
“Apa kamu bilang? Enak aja kamu ngomong. Emang kamu mau dilemparin tetangga lain. Berselingkuh seperti itu nggak boleh tahu..!” jawab Ci Ana dengan nada tinggi.
Baru sekarang aku melihatnya benar-benar marah. Menyesal juga jadinya. Beberapa lama kami pun berdiam diri. Lalu Ci Ana bangkit dari duduknya dan sepertinya ia hendak mengambilkan minum untukku.
“Nggak usah repot-repot, Ci.. Sebentar lagi juga aku pulang..” ujarku mencoba merebut kembali hatinya.
Tidak kusangka ia malah membalas, “Ngaco.. siapa yang mau ngambilin minum buat kamu.. aku mau minum sendiri kok.. Udah sana, pulang aja. Dan terima kasih udah terjemahin petunjuk alat itu..” jawabnya masih dengan nada ketus.
Aku pun bangkit dari dudukku. Namun saat aku hendak berjalan keluar, tiba-tiba muncul ide jahatku.
Dengan berjalan berjingkat-jingkat, kuikuti ke arah mana si Ci Ana berjalan. Rupanya ia menuju kamar tidurnya. Kebetulan jalan menuju pintu kamar, dibatasi oleh korden. Aku pun bersembunyi dibalik korden itu. Untunglah ia tidak menutup pintu kamar itu sama sekali. Kulihat ia membelakangiku, lalu pelan-pelan menarik kaos ketatnya ke atas dan menurunkan celana panjangnya. Rupanya ia mau mandi.
Lalu perlahan-lahan kudekati pintu kamar itu. Ci Ana mulai membuka BH dan celana dalamnya yang berwarna krem. Kemudian ia meraih jubah mandinya yang tergeletak di tempat tidur. Sebelum ia sempat menutupi tubuhnya yang telanjang, aku segera berlari dan menubruknya. Buk..! Ia terjatuh dengan keras ke tempat tidurnya yang besar.
“Aduh..! Lepaskan..! Win.., kok kamu belum pulang, hah..? Mau apa kamu..?” ujarnya kaget setengah mati.
“Aku mau buktikan bahwa alat punyaku lebih hebat dari penis buatan itu, Ci..” jawabku dengan tegas.
“Nggak.. nggak mau.. nanti kalo suamiku pulang gimana..?” tanyanya lagi dengan nada ketus.
Karena sudah berada di atas tubuhnya yang telanjang, tanpa buang waktu lagi, aku mengangkangkan kakinya, dan terlihatlah lubang vaginanya yang berwarna merah muda. Dengan cepat kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ci Ana perlahan-lahan mengendurkan perlawanannya. Dari tadi ia terus mendorongku supaya aku segera terjatuh dari tempat tidur. Kepalanya mulai bergerak ke sana kemari. Aku langsung mengincar buah dadanya yang besar dan padat. Putingnya kuhisap dan kujilat. Kanan dan kiri.. kanan dan kiri.
Suara tanda ia mulai terangsang mulai terdengar.
“Ah.. ah.. ah..” erangnya.
“Masukkan sekarang Win.. aku sudah tidak tahan lagi.” ujarnya di tengah-tengah kenikmatan yang ia alami.
“Tapi kontolku belum tegang, Ci.. dihisap, ya..!” ujarku sambil menyodorkan senjataku ke mulutnya.
Kebetulan mulutnya sedang terbuka. Kaget juga jadinya dia. Aku memaju mundurkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Luar biasa hisapan mulutnya. Walaupun punyaku jadi basah, namun senjata andalanku itu langsung mengeras. Segera kutarik dari mulutnya. Sebenarnya, Ci Ana tidak rela melepaskan senjataku dari hisapan mulutnya. Ia mungkin ingin terus mengulumnya sampai air maniku muncrat ke dalam mulut dan kerongkongannya.
Beberapa menit kemudian, aku menyibak rambut kemaluannya yang tebal serta hitam. Bibir kemaluannya kusingkap dengan perlahan. Setelah mengetahui persis letak lubang senggamanya, kuarahkan penisku ke sana, dan dengan sekali hujaman, amblaslah penisku ke lubang surga dunia itu. Aku terus menghujamkan senjataku. Maju-mundur-maju-mundur.., bless.. ceplak.. cepluk.. memang lain rasanya bila bersetubuh dengan wanita yang sudah pernah melahirkan. Sepertinya penisku tidak menghadapi halangan berarti. Sementara Ci Ana mulai bereaksi dengan menggerakkan pantatnya secara memutar. Senjataku seperti dikocok-kocoknya dalam vaginanya.
Sudah lima belas menit, namun pertarungan birahi kami belum juga usai. Kami pun kemudian berganti posisi. Ci Ana sekarang dengan posisi menungging. Aku bersiap menusuknya dari belakang. Kuarahkan senjataku ke mulut kemaluannya sekali lagi. Sementara tangan kanannya membuka mulut vaginanya dengan lebar. Bless.. bless.. bles.., penisku masuk dengan lancar dan pasti. Tangan kananku meraih pinggangnya, sementara tangan kiriku memain-mainkan payudara kirinya. Tampak kepalanya menengadah setiap kali tusukanku kuulangi. Tiba-tiba ia menjerit sambil kedua tangannya memegang kepala ranjang dengan kuat.
“Ah.. ah.. ah.. ah..!” rupanya ia orgasme, namun aku belum juga mencapai puncak. Memang aku lumayan perkasa kali ini.
Beberapa menit berlalu.
Ci Ana akhirnya bilang, “Win, kamu tiduran sok.. aku yang aktif sekarang.. biar sama-sama dong orgasmenya.”
Setelah aku berbaring, ia meraih penisku yang amat keras dan tegak dan dihisapnya sambil jongkok di sebelah kananku. Ia juga menjilat dan mengulum batanganku. Duh.. duh.. duh.. seperti melayang di awan-awan aku dibuatnya.
“Wah, sebentar lagi kalau kuteruskan bisa-bisa aku nyemprotin mani di mulutnya nih.” pikirku.
Lalu buru-buru aku menyuruhnya duduk di atas penisku. Ia pun memegang penisku dan dengan pelan-pelan duduk di atasnya sambil mengarahkan ke bibir vaginanya. Dan.. bles.. jeb.. bless.. jeb! Kulihat penisku seperti tenggelam dalam vaginanya. Aku hanya dapat merem melek jadinya. Ci Ana terus saja bergerak ke sana kemari. Naik-turun, kanan-kiri dan setelah beberapa saat ia melakukannya, aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak dalam tubuhku. Segera saja aku bangkit sambil memeluk tubuhnya yang masih ada di atas selangkanganku.
“Ah.. ah.. ah.. ah.. crot..! Crot! Crot! Crot..! Crot..!” sebanyak sembilan kali semprotan maniku masuk ke dalam vaginanya.
Sesudah itu kami tiduran karena kelelahan. Ci Ana masih memeluk tubuhku.
“Win, aku sebenarnya sudah lama ingin berhubungan intim denganmu.. aku tahu kau punya senjata yang hebat. Jauh lebih hebat dari suamiku yang loyo. Cuma aku belum mendapatkan kesempatan untuk itu. Makanya aku pancing kau dengan alat penis buatan itu. Jadi jangan marah ya. Tadi aku bersuara ketus seolah-olah menolak kamu hanya permainan saja. Aku mau tahu seberapa tahan kamu melihat tubuh wanita sepertiku. Makanya aku tadi tidak menutup pintu kamar. Karena kutahu pasti kamu belum pulang dan kamu tidak akan pulang sebelum kamu bisa menaklukkanku..” ujarnya tiba-tiba sambil tangannya membelai pelan penis kebanggaanku yang sudah mulai mengecil.
Tidak kusangka ia mengatakan itu. Memang benar dugaanku. Ternyata Ci Ana memang hiperseks. Ia mau dengan siapa saja dan kapan saja memuaskan hasrat seksnya yang menggebu-gebu. Duh gusti, enaknya punya tetangga seperti dia. Oh ya pembaca, bagi Anda yang berjenis kelamin wanita, baik itu ibu-ibu maupun gadis muda alias ABG yang suka nge-sex dan ingin mencoba penis andalanku, silakan menghubungi saya.

Warung Langganan

Warung Langganan
Juni 3rd, 2007
Namaku Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost.
Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita (tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.
Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya..?, Ah.., aku coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.
“Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.
Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Tante Ita?”.
“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.
Yang keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas.
“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?
“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Otong Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.
“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Ita tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.
Malam gini kok belum tutup Tante..?
“Iya Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?
“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.
“Wah ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita.., sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.
“Trimakasih lho Mas Otong..?”.
“Sama-sama..”kataku.
“Tante saya lewat belakang saja”.
Saat aku dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.
“Mas Otong.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.
“Mas Otong.., burungnya bangun ya..?”.
“Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..”.
“Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar..”.
“Eh ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah..?”.
“Ah belum terpikir Tante..”.
“Yah.., kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Tante.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Otong.. kebutuhan batin..”.
“Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.
“Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.
Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Ita.., ough.., pikiranku tambah usil.
Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.
“Mas Otong burungnya masih bangun ya..?”.
Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba burungku.
“Wow besar juga burungmu, Mas Otong.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.
“Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.
“Mas.., boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat aku menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.
“Oh.., sampe’ keluar gini Mas..?”.
“Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Ita.
“Wah.., Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Otong..”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh.., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Ita sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu karena burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.
“Ough.., Tante.., nikmat Tante.., ough..”, desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot.., ough.., seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.
Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.
“Mas Otong.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.
Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya kalau Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.
“Ough Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.
“Terus Mas.., Maas..”, aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.
Kemudian Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.
“Ayo Mas Otong.., Tante sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu sudah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Otong.., burung Mas Otong kalau bangun dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.
“Aughh..”, teriak tante.
“Kenapa Tante..?”, tanyaku kaget.
“Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.
“Tante.., sempit sekali Tante.?”.
“Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian.., ntar juga nikmat..”.
Yah.., aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku amblas.., Tante Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.
“Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.
Begitu juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.
“Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Otong..”, katanya sambil merem-melek.
“Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Tante Ita.
“Mas Otong sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin mendesah, “Ough.., Mas..”, tiba-tiba Tante Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
“Oughh Mas.., aku keluar lagi..”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Ita.
“Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.
“Terrsseerraah..”, desah Tante Ita. Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, dia gigit dadaku.
“Mas Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu Mas”.
Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja.
“Mas Otong.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak digedor Tante jadi marah..”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.
“Tante ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Ita, aku di panggil tante.
“Rokoknya sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.

Wanita Penjaga Showroom 02

Wanita Penjaga Showroom – 2
Juni 3rd, 2007
Beberapa minggu kemudian ketika hari libur aku ke rumahnya. Ternyata rumahnya kosong. Kata tetangganya semuanya lagi ke Cibadak. Aku pulang lagi. Beberapa hari kemudian aku kembali ke rumahnya. Kuketuk pintu depan. Tak lama pintu terbuka dan seorang wanita keluar dari dalam.

“Cari siapa ya?” tanyanya.
“Ida ada?”
“Oh ada. Silakan masuk dulu, dia lagi di kamar”.
Aku masuk dan duduk di ruang tamu. Wanita tadi, temannya, masuk ke ruang dalam. Tak lama Ida keluar. Wajahnya terlihat berantakan.
“Sorry, habis baring-baring di kamar. Habis mandi agak siang tadi lalu mengantuk” katanya sambil mengulurkan tangannya. “Kok nggak pernah ke sini lagi?”.
Kusambut tangannya dan “Waktu libur kemarin aku ke sini tapi kosong, nggak ada orang sebiji acan. Kata tetangga sebelah ke Sukabumi”.
“Iya, memang waktu itu rame-rame ke rumah teman kost di sini. Ke Cibadak beberapa hari. Tunggu sebentar aku ambilkan air” katanya sambil berlalu.
“Nggak usah repot-repot”.
“Ah. Nggak kok cuma air putih saja”.
Ia kembali dengan membawa nampan berisi segelas air putih. Mukanya terlihat sudah lebih rapi.
“Diminum ya, cuma air putih. Nggak ada temannya”.
“Cukup kok, terima kasih” jawabku sambil meminum air di dalam gelas sampai setengahnya.
Ida menarik kursi dan duduk di dekatku. Ia tersenyum-senyum. Mungkin membayangkan peristiwa waktu itu.
“Kenapa senyum-senyum sendiri. Bahaya, nanti keterusan” kataku.
“Ah nggak, cuma.. Hmm” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
“Mau diulangi di sini?”
“Hussh, nggak enak sama teman-teman. Prinsipnya sih mereka nggak mau campur urusan orang, tapi jangan di sini”.
“Kalau begitu kita jalan aja yuk!” ajakku.
“Boleh, tapi tunggu sebentar aku ganti baju dulu” katanya sambil berjalan.
Ida keluar lagi. Kami jalan dan nonton lagi di Sukasari Theatre. Hanya kali ini nggak ada kesempatan untuk “pemanasan”. Ada penonton lain di samping dan belakang kami. Selesai film diputar, kami keluar.
“Kemana sekarang kita, Da?”
“Terserah kamu. Aku ikut saja kok”.
Kupegang tangannya “Da, aku mau belajar lagi sama kamu, boleh nggak?”
“Dimana?” Ida balik tanya.
“Kita ke Gadog. Nginap di sana, tapi sebentar ya aku ke apotik dekat situ!”
“Mau beli apa ke apotik?”
“Aku takut kamu hamil, jadi cari pengaman dulu, sarung karet”.
“Nggak usah. Aku nggak mau kalau pakai itu” nada suaranya meninggi.
“Kenapa, kan supaya kita sama-sama aman”.
“Aku percaya kamu bersih dan aku masih ikut KB. Aku belum lepas spiral. Makanya waktu itu aku berani aja. Berapa kali kita waktu itu, tiga atau empat kali kan?” suaranya kembali merendah.
“Enam kali. Ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat!”
Kami berangkat ke Gadog. Sampai di Gadog kuajak dia ke salah satu wisma yang ada. Ida menunjukkan raut muka heran. Kami masuk ke kamar. Room boy mengiringkan kami dengan membawa handuk dan air putih di teko. Setelah room boy keluar Ida menuangkan air ke dalam gelas yang tersedia, meminumnya sedikit dan mengisinya kembali hingga penuh, menutup lalu meletakkannya pada meja kecil di samping bed. Kurogoh kantungku, masih ada permen mint beberapa butir, kuletakkan di dekat gelas.
“Kamu sering ke sini?”
“Nggak juga, cuma pernah rame-rame dengan teman nginap di sini”.
“Kamu bayar penuh nginap satu malam?”.
“Iya, tapi dapat diskon, kurayu penjaganya. Aku mau mandi dulu, kamu nggak mandi?”
“Sudah tadi mandi di rumah agak siangan”.
Ida melepas celana panjangnya. Baru kuperhatikan bahwa ternyata dia mengenakan baju yang sama dengan pakaian yang dipakai pada pertemuan yang dulu.
“Kamu pakai pakaian yang sama dengan waktu itu ” komentarku.
Aku melepas baju dan celana panjang, ke kamar mandi berlilitkan handuk. Selesai mandi kembali ke kamar, aku masih berlilitkan handuk tanpa pakai celana dalam lagi. Kulihat Ida di bawah selimut, bagian bahunya terbuka. Aku ikut masuk ke bawah selimut dan melepas handuk yang kukenakan. Ternyata Ida sudah full bugil di bawah selimut. Kucium lembut bibirnya, kami saling merapatkan badan. Udara di Gadog cukup dingin, apalagi setelah mandi. Badanku beberapa kali menggigil.
“Dingin ya?” tanya Ida.
“Lumayan, tapi sekarang sudah mulai hangat”.
Tanganku mulai gerilya, merayap di sekujur tubuhnya. Kurasakan kehangatan merayap ditubuhku. Adik kecilku mulai bangun, kurapatkan pada pahanya. Ia tertawa kecil, merasakan adik kecilku yang mendesak dan bergerak membesar di pahanya. Selimut yang menutupi tubuh kami tersingkap semuanya sehingga tubuh kami terbuka tanpa ada penutup selembar benangpun.
“Matikan lampunya, kain kordennya berlubang-lubang. Nanti diintip orang!” katanya.
“Nggak usah, aku ingin bercinta sambil melihat wajahmu. Kalau ada yang ngintip paling dia nanti yang kepingin. Biarin aja”.
Kami mulai berciuman. Gerak tubuhnya mengisyaratkan keinginannya. Kujilati leher dan dagu kemudian kucium bagian belakang telinganya. Ia menggelinjang.
“Merinding ah, kamu kok jadi pintar. Jangan-jangan selama ini belajar dengan perempuan lain”.
“Nggak kok, cukup satu gurunya”.
Kubalikkan tubuhnya sehinga dia memunggungiku. Kugigit tengkuknya dan kususuri punggungnya dengan lidahku. Ia merintih perlahan. Kurasakan ia semakin terangsang. Kubalikkan tubuhnya dan kutindih setengan tubuhnya.
Kembali kami berciuman. Kali ini dengan nafsu yang membara. Suara-suara kecipak dan desahan tertahan terdengar ketika kedua mulut kami beradu dan saling menyedot. Lehernya kucium dan kujilat, ia makin mendongakkan kepalanya memberi kesempatan kepadaku untuk menjelajahi lehernya. Tangannya mengusap pipi, leher kemudian punggungku sampai ke dekat pinggang dan berputar menggesekkan kukunya perlahan pada kulitku, memberikan sensasi tersendiri. Sementara tangan kirinya mengusap punggung, tangan kanannya mulai mengelus kantung zakar dan mengurut batangku mulai dari pangkal ke ujungnya. Mr. P-ku makin menegang dan membesar. Ida berguling sehingga kini ia di atas. Tangannya masih mengurut senjataku.
Ia melepaskan diri dari pelukanku dan membuka tasnya. Kulihat ia mengambil sesuatu, ternyata adalah baby oil dan eau de toilette. Ida duduk di samping pinggangku menghadap ke arah kepalaku. Ia menuangkan sedikit baby oil ke tangan kanannya dan kembali mengurut senjataku.
“Aduh.. Achh, luar biasa nikmat. Ternyata masih ada pelajaran baru yang aku belum tahu”.
Kupegang tangannya menahan kenikmatan. Dilepaskannya tanganku “Sudah, kamu diam saja. Jangan ganggu aku. Kalau nggak tahan pegangan kasur dan gigit ujung bantal saja. Kalau terasa mau keluar bilang”.
Kuikuti perintahnya. Diurutnya terus penisku yang makin keras. Kepalanya yang besar kelihatan memerah dan mengkilat terkena baby oil. Aku makin terlena, kadang kuangkat pantatku menahan rangsangan yang luar biasa.
“Ouhh Ida.. Aku mau keluar, aku mau ke.. Lu.. ar”.
Ida menggenggam dan merenggut kantong penisku dengan perlahan. Kurasakan rangsangan itu menurun pelan-pelan. Ida melepaskan genggamannya pada batang penisku. Kini dengan kedua tangannya ia mengurut pinggangku dari bagian luar ke bawah dalam ke arah penis. Beberapa menit ia lakukan itu. Kemudian ia menuangkan eau de toilette dan mencampurnya dengan sedikit baby oil lalu mengusapkannya pada dada dan perutku. Setelah itu dia berbaring miring menghadap ke arahku. Kuremas payudaranya yang sebelah kanan dengan kuat karena gemas. Ia tersenyum kecil dan menggelinjang.
“Sudah istirahatlah dulu, rileks dan buat pikiranmu menjadi santai. Hilangkan pikiran yang merangsang. Masih ada babak berikutnya”.
Ida berbaring telentang di sampingku dan menutupkan matanya. Ditariknya kembali selimut yang tadi sudah terlepas untuk menutup tubuh kami berdua. Aku mencoba untuk rileks dan menghilangkan bayangan dan pikiran yang merangsang. Agak susah memang tapi terus kucoba sambil menarik nafas dalam-dalam. Harumnya eau de toillette sangat membantu untuk menenangkan pikiranku. Lama-lama pikiranku menjadi tenang. Kulihat tarikan nafas Ida teratur, tetapi aku tahu ia tidak tidur meskipun matanya terpejam. Setengah jam lebih berlalu.
Ida bangun kemudian ke kamar mandi, dalam keadaan polos. Ketika keluar kulihat ia membawa air dalam gayung, sabun dan handuk kecil. Ia duduk di sampingku dan membasuh penisku dan menyabuninya sampai bekas baby oil tadi hilang, kemudian mengelapnya dengan hati-hati. Setelah selesai ia ke kamar mandi membuang air dalam gayung tadi.
“Ayo kita masuk babak berikutnya!” Katanya ketika kembali dari kamar mandi.
Aku berpikir apalagi yang akan dilakukannya. Ia membuka selimut yang masih menutup tubuhku, menindih dan menciumiku dengan ganas. Harumnya eau de toilette masih tercium. Aku kembali terangsang dengan cepat oleh aksinya. Ia memberi isyarat agar aku berada di atas. Adikku yang terangsang sudah mengacung dan siap menembus guanya. Ida memegang penisku dan mengarahkannya ke lubangnya yang agak lembab. Kedua kakinya mengangkang lebar dengan lutut agak diangkat. Kali ini penisku bisa langsung masuk dan menerobos ke dalam hingga tenggelam sampai ke pangkalnya. Ida memegang pinggulku dan membantu menggerakkannya ke atas ke bawah. Kupacu kuda betinaku mendaki lereng kenikmatan. Gerakan kami semakin liar. Erangan dan lenguhan kami semakin kuat dan sering. Sampai akhirnya aku merasakan hampir sampai ke puncak kenikmatan. Kupercepat gerakan naik turunku sambil mendesah.
“Ida.. Ouuhh.. Ida, kita sama-sama.. “.
Berbeda dengan kehendakku, Ida malahan mendorong tubuhku dan melepaskan pelukanku. Aku menolaknya.
“Apa-apaan kamu Da!” kataku kecewa. “Sudahlah lepaskan aku dulu, aku akan memberikanmu sesuatu yang luar biasa malam ini. Percayalah” katanya lembut sambil mengecup keningku.
Aku berbaring menjauhi tubuhnya dengan hati kecewa dan penuh tanda tanya. Ida mencoba menghiburku.
“Berikutnya aku akan memberikan kepuasan yang lain yang belum pernah kamu peroleh”. Aku masih diam saja.
“Sekarang istirahatlah lagi agak lama dari yang tadi,” sambil berkata begitu jari tangannya memegang erat jari tanganku. Aku menurut saja dan berpikir lagi, pastilah dia tidak bermaksud untuk mengecewakanku. Tapi apa berikutnya?
Kulihat kali ini Ida benar-benar tertidur. Akhirnya aku mencoba juga untuk tidur. Sempat kulirik arlojiku. Jam sepuluh lewat sedikit. Beberapa lama kemudian entah karena dongkol atau lelah karena perasaan “menggantung” akupun tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur sampai aku merasakan ada tubuh yang mendesakku dengan lembut. Ida sudah bangun rupanya. Dadanya meskipun kecil tapi masih terasa menekan lenganku. Aku terkejut,
“Jam berapa sekarang?” tanyaku.
“Jam dua belas lewat” jawabnya.
Berarti sudah dua jam aku tertidur. Ida menggapai gelas yang ada di meja kecil dekat ranjang, meneguk airnya dan memberikannya padaku.
“Minum dulu, mulut orang habis bangun tidur bau “.
“Siapa bilang?” kataku sambil mengambil permen yang kuletakkan di dekat gelas tadi, membuka bungkusnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Ih curang, bagi dong permennya” katanya sambil menciumi bibirku. Kami saling memainkan permen tadi, bergantian mengulumnya sampai akhirnya habis.
Ida di atasku, menciumi dadaku dan menjilati putingku. Diganjalnya kepalaku dengan bantal satu lagi sehingga kepalaku agak ke atas. Aku tidak tahan dengan aksinya sehingga kutarik mukanya ke mukaku. Kami berciuman dengan penuh gairah. Kaki kami saling menjepit, kakiku menjepit kaki kirinya dan kakinya juga menjepit kaki kiriku. Kugesekkan selangkanganku pada pahanya. Ia mendesah. Gantian sekarang selangkangannya yang menggesek pahaku.
Kami makin terbuai dengan gerakan masing-masing. Kini kedua kakinya menjepit kakiku. Sementara penisku yang dari tadi penasaran sudah kembali mengeras. Dalam posisi di atasku sambil menahan tubuh dengan tangannya Ida menggerak-gerakkan pinggulnya mencoba memasukkan penisku ke dalam liang kenikmatannya tanpa bantuan tangannya. Agak sulit memang, tapi ketika kepala penisku sudah mulai masuk ke dalam liang vaginanya ia memutar-mutar pinggulnya sambil menekan ke bawah. Kurasakan gerakan peristaltik yang kuat dari otot kemaluannya. Sampai kemudian seluruh batang penisku terbenam dalam vaginanya. Ia masih memutar-mutar pinggul dan membuat gerakan naik turun. Aku meremas, memilin serta mengulum payudaranya. Kami saling berbagi kenikmatan dengan posisi seperti itu.
“Ouh.. Mmmhh.. Ngngngnhhk” Ida mendesah tertahan.
Aku mencoba duduk dengan Ida tetap dalam pangkuanku. Kami bisa berpelukan dan berciuman dengan sangat intens. Ida tetap menggerakkan pinggulnya naik turun. Penisku terasa seperti dikocok-kocok.
Kurebahkan Ida ke arah yang berlawanan dengan posisi tidur semula, sehingga kini bantal berada di posisi kaki. Kugenjot pinggulku naik turun dengan ritme yang berubah-ubah. Kadang cepat kadang sangat lambat. Tapi setiap gerakanku selalu kubuat agak tinggi sehingga penisku terlepas dari vaginanya, lalu kutekan lagi. Setiap penisku dalam posisi masuk, menggesek bibir vaginanya ia terpekik kecil. Kami berdua sangat menikmati permainan ini.
Kakinya bergerak dan kedua kakinya kujepit dengan kedua kakiku. Dalam posisi begini aku tidak bisa menarik penis terlalu tinggi karena susah untuk memasukkannya lagi. Namun dalam posisi begini jepitan vaginanya jadi sangat terasa.
Kami mengubah posisi lagi. Kali ini kaki kirinya di luar kaki kananku dan kaki kanannya di dalam kaki kiriku. Kubelit kaki kirinya dengan kaki kananku dan sebaliknya. Dengan posisi begini kami bisa menghemat gerakan. Dengan sedikit gerakan saja rangsangan kenikmatan yang timbul sangat terasa. Kadang kami hanya diam saja dan cukup menggerakkan otot kemaluan kami untuk saling memberi rangsangan. Ketika kurasakan akan mencapai puncak kenikmatan kuubah posisi kaki dalam posisi konvensional. Posisi konvensional ini paling memungkinkan bagi kami untuk mengekspresikan puncak kepuasan secara maksimal.
“Ida.. Ouhh nikmat sekali, hebat sekali permainanmu.. “
Kuperkirakan sudah setengah jam kami bercinta, namun terasa ada energi tambahan yang membuat kami bertahan untuk tidak segera mencapai puncak. Kupercepat gerakanku dan gerakannya juga semakin liar.
“Agak ke atas sedikit.. Oooh” pintanya.
Kuikuti saja permintaanya. Aku menggeser tubuhku agak ke atas bagian tubuhnya, sehingga gerakan penisku menggesek bagian atas vaginanya. Rupanya dengan posisi ini gesekan penisku dengan klitorisnya mebuat dia sangat nikmat. Tubuhnya kadang seakan merinding dan gemetar. Pinggulnya memutar-mutar dan naik seakan-akan menghisap penisku.
Bunyi deritan ranjang, erangan dan bunyi selangkangan beradu seakan-akan berlomba. Tubuh kami sudah basah oleh keringat yang membanjir. Dinginnya udara Puncak tak terasa lagi. Kurasakan ada gerakan menjalar dalam penisku. Inilah saatnya sebentar lagi akan kuakhiri permainan ini. Ida terengah-engah menikmati kenikmatan yang dirasakannya.
“Ida.. Da sebentar lagi aku mau keluar.. “
Gerakanku semakin cepat hingga seakan-akan tubuhku melayang. Lututku mulai sakit.
“Ayolah Anto aku juga mmau kkel.. uar. Kita sama-sama sampai”.
Ketika kurasakan aliran pada penisku tak tertahankan lagi kuunjamkan dalam-dalam sambil memekik tertahan.
“Ida.. Ouh .. Sekarang.. Sekarang”
“Ouh Anto aku.. Keluar”
Kakinya membelit kakiku, kepalanya mendongak dan pantatnya diangkat. Kurasakan denyutan dalam vaginanya sangat kuat. Kutembakkan laharku sampai beberapa kali. Giginya dibenamkan dalam bahuku sampai terasa pedih. Aku merasakan hal yang luar biasa sepertinya melayang di udara dan rasanya cairan laharku menjadi lebih banyak. Napas kami masih tersengal-sengal, kucabut penisku dan menggelosor di sampingnya. Jarinya memegang erat jariku.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Wouw.. Luar biasa” jawabku.
“Aku baca dari sebuah buku tentang teknik pijatan untuk melancarkan aliran darah ke penis dan memperbanyak tembakan mani”.
“Pantas saja, rasanya maniku sangat banyak dan senjataku sangat keras. Terima kasih Ida”.
Kami tidur sampai pagi dan rasanya cukup sekali saja kami bercinta dalam semalam kalau kepuasan yang didapat luar biasa seperti kali ini. Kuantarkan Ida kembali ke rumahnya. Temannya yang membukakan pintu kemarin tersenyum-senyum dan melirik genit ke arahku.
“Boleh dong lain kali ajak kita, masakan Ida terus yang diajak. Kita punya oke juga lho” katanya sambil melihat ke arah Ida sambil meleletkan lidahnya.
“Silakan aja kalau Antonya mau”.
Hmm, dipikir kita takut.

Wanita Penjaga Showroom 01

Wanita Penjaga Showroom – 1
Juni 3rd, 2007
Suatu sore ketika aku berjalan-jalan di sekitar Pasar Ramayana ada seorang wanita mendahuluiku berjalan tergesa-gesa. Isengku timbul, sambil kususul kupanggil dia dari belakang.

“Da, Ida!”
Dia menoleh ke belakang tersenyum dan memperhatikanku.
“Siapa ya?” tanyanya.
“Maaf, maaf kukira temanku,” sahutku, “Kebetulan dia bernama Ida”.
“Mau ke mana sih?” tanyaku sambil kuulurkan tangan mengajak berkenalan. “Saya Anto”.
“Ida, Farida” jawabnya sambil menyambut tanganku.
“Sebenarnya saya mau nonton di Ramayana Theatre, tapi sudah terlambat lagipula filmya nggak bagus”, sambungnya lagi.
“Sekarang mau kemana lagi” pancingku.
“Nggak ada, mau pulang aja” jawabnya.
“Jalan yuk ke Sukasari”.
“Mau ngapain?”
“Jalan aja, kalau ada film bagus kita nonton di sana aja”.
“Ayolah, kebetulan aku juga nggak ada acara, daripada bengong di rumah”.
Sambil ngobrol akhirnya kuketahui bahwa Ida bekerja di sebuah showroom mobil di Jakarta. Ia janda cerai beranak satu. Sudah dua tahun ia menjanda. Umurnya lima tahun di atasku. Tinggal di daerah Warung Jambu, kost dengan beberapa temannya. Perawakannya sedang, tinggi 160 cm dengan badan yang agak kurus dan dada kecil. Wajahnya lumayan, kalau dinilai dapat angka tujuh. Kacamata minus satu nongkrong di hidungnya.
Sampai di Sukasari Theatre ternyata film sudah diputar setengah jam.
“Sekarang bagaimana?” tanyaku.
“Terserah kamu saja”.
Kuajak dia jalan mutar-mutar di Matahari lihat-lihat baju dan kosmetik. Akhirnya dia ngajak minum jamu di kedai dekat jalan. Tiba-tiba saja dia menggandeng lenganku berjalan ke kedai jamu tersebut.
“Mau minum sari rapet” godaku.
“Nggak ah, saya biasanya minum sehat wanita saja”.
Akhirnya dia pesan jamu sehat wanita dan aku minum sehat lelaki. Setelah minum jamu duduk-duduk sebentar di sana dan kami kembali ke Sukasari Theatre. Tak berapa lama loket buka.
“Jadi nonton?” tanyaku, “Tentu saja jadi, buat apa nunggu lama-lama di sini?”.
Aku ke loket beli tiket. Dan kembali duduk di sampingnya di lobby. Suasana kelihatan sepi, hanya ada beberapa orang saja yang duduk-duduk di lobby. Sukasari Theatre memang bukan bioskop favorit di Bogor. Kalah sama Sartika 21 yang baru dibuka.
Akhirnya kami masuk ke dalam bioskop, kemudian film mulai diputar. Beberapa lama kemudian tangannya menyusup ke lenganku. Aku diam saja. Ida semakin merapat. Aku berpaling dan menatap wajahnya. Ia tersenyum dan membuka mulutnya sedikit. Tampak giginya yang berderet rapi. Ia menyorongkan mukanya ke arahku dan mencium pipiku. Aku sedikit kaget atas tindakannya. Aku melepaskan tangannya dari lengan kiriku, lalu kulingkarkan ke bahu kirinya. Muka kami berdekatan. Kutatap lagi wajahnya dan perlahan-lahan muka kami saling mendekat. Matanya agak terpejam dan mulutnya terbuka. Kukecup bibirnya pelan dan lama-lama menjadi ciuman yang dalam. Kacamatanya menghalangi aksiku, kuminta dia melepas kacamatanya. Kuremas dada sebelah kirinya dari luar baju dengan tangan kiriku. Ia menolak dan menepiskan tanganku, tetapi dibiarkan tanganku memeluk bahunya.
Praktis kami nggak konsentrasi lagi ke cerita film yang sedang diputar. Sepanjang pemutaran film itu kami saling merapat dan berciuman. Kadang-kadang lidah kami saling mendesak ke dalam rongga mulut, bergantian kadang lidahnya menggelitik rongga mulutku, kadang lidahku yang masuk ke dalam mulutnya. Ia mendesah menahan dorongan nafsunya yang tertahan sekian lama.
Film habis, kami keluar dan berjalan mencari angkutan.
“Kalau sudah malam begini dari sini susah cari angkutan ke rumahku ” katanya.
“Jadi bagaimana?”
“Kita coba saja ke Ramayana, nanti disambung lagi”.
Akhirnya kami dapat angkutan, tetapi hanya sampai Pajajaran saja. Kami turun di depan pintu Kebun Raya yang di Pajajaran. Kami menungu lagi di situ.
“Jam segini nggak ada lagi angkutan ke Warung Jambu kali ya?” tanyaku.
“Kelihatannya sih nggak ada lagi. Kita cari penginapan saja yuk, saya pernah nginap rame-rame dengan teman-teman di satu penginapan. Agak murah, tapi saya lupa tempatnya”.
Sekilas terpikir olehku Wisma T dekat Pasar Kebon Kembang.
“Benar nih mau nginap? Saya tahu ada penginapan yang bersih dan murah”.
Setelah lima belas menit menunggu ada mobil omprengan plat hitam berhenti di depan kami.
“Kemana Pak? Mari saya antar” tanya sopir sambil membuka kaca jendelanya.
Kami naik dan minta diantar ke Wisma T. Sampai di sana ternyata hanya ada kamar standar double bed. Setelah menyelesaikan bill, kami berdua masuk ke kamar. Di dalam kamar kami rapatkan dua bed yang ada. Karena agak gerah kubuka kausku. Ida hanya memandang dan tersenyum saja. Kami berbaring berdampingan di bed masing-masing.
“Boss-nya yang punya showroom orang mana sih?”
“Keturunan Arab” Jawabnya.
“Asyik dong pasti gede punya barangnya. Kamu sering diajak sama boss dong “.
“Nggak pernah kok”. Entah dia berbohong atau benar.
“Terus kalau tiba-tiba kepengen gimana?” Ida hanya diam saja.
Ida bangun dan kulihat dia membuka celana panjangnya.
“Eh ngapain dibuka?” kataku terkejut.
Ida hanya tersenyum saja. Ternyata dia mengenakan celana pendek santai sebatas lutut di dalamnya. Kembali Ida berbaring di bednya. Karena kedua bed sengaja kami susun berhimpitan, tanganku bisa menjangkau tubuhnya dan kurengkuh mendekat tubuhku. Kembali kami berciuman. Mula-mula hanya kukecup bibirnya saja dengan lembut. Ida membalas lembut dan lama kelamaan mulai menjadi liar. Tangannya memainkan bulu dadaku. Beberapa menit kami saling berciuman dengan dengus napas yang berat. Kutindih dia sambil berciuman. Meriamku di bawah mulai bangkit. Ida merapatkan selangkangannya pada selangkanganku. Mulutku turun ke atas dadanya dan kucoba membuka kancing blouse nya dengan bibirku dan gigiku.
“Sebentar, aku buka dulu bajuku ya,” Katanya sambil membuka kancing bajunya satu persatu.
“Jangan, nggak usah dibuka” kataku sambil menahan tangannya.
“Nggak apa-apa kok. Kamu mau kan”. Katanya mendesah.
Ia terus membuka baju dan celana pendeknya. Kemudian tangannya membuka ikat pinggangku dan akhirnya menarik ritsluiting dan kemudian dengan perlahan ia menarik celanaku ke bawah. Kini kami hanya mengenakan pakaian dalam saja.
“Kamu sering mengajak perempuan untuk begini ya?” tanyanya.
“Ah nggak, aku belum pernah kok berhubungan dengan wanita” kataku berbohong. Aku memang sudah beberapa kali berhubungan dengan wanita.
“Nggak percaya, kelihatannya kamu lihai sekali dalam bercumbu tadi”.
“Kalau sebatas ciuman emang sih, tapi untuk lebih jauh lagi belum pernah. Paling hanya nonton film dan baca cerita saja”
“Jadi kamu masih perjaka?” ia meyakinkan lagi.
“Emangnya kenapa?”
“Eehhngng..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati.
Ida menindihku dan tangannya kebelakang punggungnya membuka pengait bra-nya. Kini terbukalah dadanya di hadapanku. Buah dadanya tidak besar, hanya pas setangkupan jariku. Terasa sudah agak kendor. Ida mendorong lidahnya masuk jauh ke dalam rongga mulutku. Lidahnya liar memainkan lidahku. Aku hanya pasif saja, sesekali membalas mendorong lidahnya. Tanganku memilin puting serta meremas payudaranya. Ida menggeserkan tubuhnya ke bagian atas tubuhku sehingga payudaranya pas di depan mulutku. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil.
“Aaacchh, teruskan Anto.. Teruskan”. Ia mulai mengerang dan meracau, punggungnya melengkung ke belakang.
Meriamku semakin keras. Ida semakin merapatkan selangkangannya pada selangkanganku, sehingga kadang terasa agak sakit jika dia terlalu keras menindihku. Puting dan payudaranya semakin kencang dan keras. Kukulum payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku, sambil putingnya terus kumainkan dengan lidahku. Dadanya terlihat memerah dan menjadi lebih gelap dibanding bagian tubuh lainnya pertanda nafsunya mulai terbakar. Napasnya tersengal-sengal.
Tangan Ida bergerak ke bawah menyelusup di balik celana dalamku, meremas, mengocok dan menggoyang-goyangkan senjataku. Akhirnya dia menarik celana dalamku sampai ke lutut dan dengan bantuan jari kakinya ia melepaskannya ke bawah. Kini aku dalam keadaan telanjang bulat. Ida menggeserkan mulutnya ke arah bawah, menjilati leher dan menggigit kecil daun telingaku. Hembusan napasnya terasa kuat menerpa tubuhku. Dia mulai menjilati putingku. Aku terangsang hebat sekali sehingga harus menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk pinggangnya erat-erat.
Tangannya kemudian membuka celana dalamnya sendiri. Kini tangan kiriku leluasa bermain di antara selangkangannya. Rambut kemaluannya tidak begitu lebat dan pendek-pendek. Dengan jari telunjuk dan jari manis kubuka labia mayora dan labia minoranya. Jari tengahku menekan bagian atas organ kewanitaannya dan mengusap bagian yang menonjol seperti kacang tanah. Setiap aku mengusap kelentitnya Ida menggigit kuat dadaku dan mengerang tertahan.
“Aaauhh.. Ngngnggnghhk”
Mulutnya bergerak semakin ke bawah, bermain-main dengan bulu dada dan perutku, terus semakin ke bawah, menjilati bagian dalam lutut dan pahaku. Sendi-sendi kakiku terasa mau lepas. Tangannya masih bermain-main di kejantananku. Kini mulutnya mulai menjilati kantung penisku. Tanganku meremas-remas rambutnya untuk mengimbanginya. Aku pikir dia mau meng-oral, tetapi ternyata tidak, dia hanya sampai pada kantung penis saja. Aku hanya menunggu dan mengimbangi gerakannya saja, seolah-olah aku belum pernah melakukan hal ini.
Kembali Ida bergerak ke atas, tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri mengeras. Ia dalam posisi jongkok di atas selangkanganku. Perlahan lahan ia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Agak susah dia kelihatannya berusaha memasukkan kejantananku ke liang vaginanya. Mungkin benar juga setelah menjanda dia tidak pernah merasakan lagi nikmatnya berhubungan badan. Penisku memang lebih besar di bagian ujung daripada pangkalnya. Kepala kejantananku dijepit dengan kedua jarinya, digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa hangat dan lembab, lama-lama seperti berair. Dia mencoba lagi untuk memasukkan kejantananku. Kali ini..
Blleessh.. Usahanya berhasil.
“Ouhh.. Ida ouhh” kini aku yang setengah berteriak.
Ida bergerak naik turun dalam posisi setengah jongkok. Mula-mula perlahan-lahan dia menggerakkannya, karena memang terasa masih agak kesat dan kering. Aku mengimbanginya dengan memutar pinggulku dan meremas payudaranya. Kepalanya mendongak ke atas dan bergerak ke kanan kiri. Kedua tangannya bertumpu pada pahaku. Ketika lendirnya sudah membasahi organnya Ida mempercepat gerakannya, kadang-kadang dibuatnya tinggal kepala penisku saja yang menyentuh mulut vaginanya.
Ida menghentikan gerakannya, merebahkan tubuhnya di atasku dan kini terasa otot vaginanya meremas penisku. Terasa nikmat sekali. Aku mengimbanginya, ketika dia relaksasi aku yang mengencangkan otot perutku seolah-olah menahan kencing. Demikian bergantian kami saling meremas dengan otot kemaluan kami. Beberapa saat kami dalam posisi itu tanpa menggerakkan tubuh, hanya otot kemaluan saja yang bekerja sambil saling berciuman dan memagut tubuh kami.
“Anto, .. Nikmat sekali .. Ooouuhh” desisnya sambil menciumi leherku.
Ida berguling ke samping, kini dalam posisi menyamping aku yang bergerak maju mundur menyodokkan kejantananku ke dalam vaginanya. Dalam posisi ini gerakanku menjadi kurang nyaman dan kurang bebas. Kugulingkan lagi tubuhnya, kini aku yang berada di atas. Kuatur gerakanku dengan ritme pelan namun dalam sampai kurasakan kepala penisku menyentuh mulut rahimnya. Kuangkat penisku sampai keluar dari vaginanya dan kumasukkan lagi dengan pelan, demikian berulang-ulang. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ida mengangkat pantatnya sehingga tubuh kami merapat.
“Lebih cepat lagi, oohh.. Aku mau keluar aacchhkk..” Ida memeluk punggungku lebih erat. Betisnya membelit pinggangku, matanya setengah terpejam, kepalanya terangkat sehingga seolah-olah tubuhnya menggantung di tubuhku.
Kuubah ritmeku, kugerakkan dengan pelan namun hanya ujung penisku saja yang masuk beberapa kali kemudian sekali kutusukkan dengan cepat sampai seluruh batang terbenam. Matanya semakin sayu dan gerakannya semakin liar. Aku mendadak menghentikan gerakanku. Payudaranya sebelah kuremas dan sebelah lagi kukulum dalam-dalam. Tubuh Ida bergetar seperti menangis.
“Ayo jangan berhenti, teruskan.. Teruskan lagi” pintanya.
Aku tahu wanita ini hampir mencapai puncaknya. Kugerakkan lagi tubuhku. Kali ini dengan ritme yang cepat dan dalam. Semakin lama semakin cepat. Terdengar bunyi seperti kaki diangkat dari dalam lumpur ketika penisku kunaikturunkan dengan cepat.
“Ayolah Anto, aku mau sampai “.
Gerakan pantatku semakin cepat dan akhirnya
“Sekarang.. Anto.. Sekarang.. Yeeah!!”
Kurasakan tubuhnya menegang, vaginanya berdenyut dengan cepat, napasnya tersengal dan tangannya meremas rambutku. Kukencangkan otot perutku dan kutahan, terasa ada aliran lahar yang mau meledak. Aku berhenti sejenak dalam posisi kepala penis saja yang masuk dalam vaginanya, kemudian kuhempaskan dalam-dalam. Serr.. Seerr beberapa kali laharku muncrat di dalam vaginanya. Ida hendak berteriak untuk menyalurkan rasa kepuasannya, namun sebelum keluar suaranya kusumbat mulutnya dengan bibirku.
“MMmmhh.. Achh” pantatnya diangkat menyambut hunjamanku dan tubuhnya bergetar, pelukan tangan dan jepitan kakinya semakin erat sampai aku merasa kesulitan bernafas, denyutan di dalam vaginanya terasa kuat sekali meremas kejantananku. Setelah satu menit denyutannya masih terasa sampai penisku terasa ngilu.
Ketika penisku mau kucabut dia menahan tubuhku.
“Jangan dicabut dulu, biarkan saja di dalam. Ouhh kamu hebat sekali Anto. Terima kasih kamu telah memuaskanku” Ida mengecup bibirku.
Kubiarkan dia memelukku sampai penisku mengecil dan akhirnya keluar sendiri dari vaginanya. Malam itu dalam waktu kurang lebih tujuh jam kami bertempur sampai enam ronde. Paginya dia memelukku dan berkata,
“Aku mau lagi di lain hari”.
“Ah kamu nakal, perjakaku kamu ambil”.
“Kamu yang nakal, kamu yang mulai”.
Kupeluk dia dan kuangkat ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri. Akhirnya kuantar dia pulang dan aku berjanji untuk datang lagi ke rumahnya. Ternyata dia tinggal serumah dengan beberapa teman-temannya. Semuanya wanita, sebagian janda dan sebagian lagi masih gadis. Mereka masing-masing punya pekerjaan tetap.

Waktu Masih SMA

Waktu Masih SMA
Masih ingat dengan cerita saya yang judulnya “Sari dan Lina” di cerita ini saya ingin menceritakan kisah saya sewaktu SMA… memang sich gak ada hubungannya dengan cerita saya yang pertama hahahahaha…

Saya mulai saja ya…

Ketika saya masih SMA dulu boleh dikatakan termasuk salah satu pelajar yang banyak digandrungi oleh cewek. Muka ganteng dengan dagu terbelah dan badan yang tegap. Terus terang saja saya juga sering melakukan hubungan seks dengan beberapa teman ceweq di sekolah ku itu yang memang menganut freesex. Meskipun demikian saya masih memilih yang benar-benar sesuai dengan selera saya. Tidak heran kalau setiap akhir minggu ada saja telepon berdering mengajak nonton atau pesta yang kemudian berakhir dengan hubungan intim.

Saat itu saya juga mempunyai pacar dia adalah adik kelas, Nama nya Lusi, Lusi adalah gadis yang cantik dan sexy menurut saya, Wajahnya manis, lugu, ditambah lagi dengan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya gadis 17 tahun yang berdarah Belanda ini sangat proposional, pinggangnya ramping, rambutnya panjang, tingginya sekitar 150 cm, tetapi sintal. Pantatnya dan payudaranya besar kira-kira payudaranya berukuran 36C.

Perkenalan kami di mulai dengan makan di kantin sekolah… Waktu itu saya makan di kantin dan saya di tegur oleh adik kelas saya. Saya tidak kenal dia, soal nya saya belom kenal sama sekali dengan Lusi waktu itu, tapi Lusi sudah kenal saya…? Soal nya saya waktu itu salah satu anak yang paling bandel dan nakal di SMA itu, makanya banyak yang kenal saya tapi saya gak kenal hahahahaha… biar nakal, saya selalu masuk ranking 3 besar loh…, panggilan Lusi waktu itu saya jawab “ada apa?” dia waktu itu panggil aku dengan kakak, 

“Boleh saya duduk dengan kakak?” balasnya

“Boleh sini” jawab saya dan kami pun makan bersama. 

Setelah kejadian itu kami pun agak akrab, tapi saya belom kepikiran suka apa tidak suka dengan Lusi. Banyak dari teman teman dari kelas dua yang suka sama Lusi, tapi semuanya di tolak oleh nya… 

Pada suatu siang, tanggal, hari dan tahun nya saya lupa… seingat saya waktu itu pulang sekolah, saya di kenal kan dengan temen nya Lusi nama nya, Vinna, Poppy dan Ratna

Ratna berusia 17 tahun Badannya tinggi (hampir setinggi saya. Kalo pake hak tinggi pasti saya kalah tinggi). Bodinya sexy sekali dan yang paling bikin saya gemes adalah payudaranya yang gede banget. Kira-kira 36 B ukuran bra nya dan kulitnya yang putih sehingga kalo rambut panjangnya di gelung ke atas (warnanya asli merah), akan menampakkan tengkuknya yang jenjang, bikin saya ingin mengelus dan mencium tengkuknya itu. 

Vinna berusia 16 tahun, rambutnya lurus panjang sebahu, kulitnya putih mulus, yang saya tahu dari teman-teman dia itu masih ada darah Manado. Beratnya kira-kira 50 kg. Tubuhnya cukup tinggi untuk gadis seusianya 172 cm. Cocok denganku yang memiliki tinggi 183 cm. Rambutnya panjang, hitam, mengkilat. Kulitnya putih, lembut walaupun ia menyukai olah raga. Dadanya cukup besar. Kira-kira 34C

Sedangkan Poppy berusia 18 tahun orangnya imut, kulit nya lebih hitam di banding yang lain (apa karena keturunan arab kali ya) tapi manis. Rambutnya panjang, hidungnya mungil dan mancung, bibirnya tipis, payudara Poppy kira-kira berukuran 32b (memang serasi untuk ukuran tubuh Poppy yang bertinggi 165 cm, jadi terlihat sexy).

Sejak perkenalan pertama dengan Ratna, Vinna dan Poppy, saya malah sering pergi jalan-jalan dengan mereka bertiga ketimbang dengan Lusi.

Karena Lusi termasuk anak yang gak suka ngelayap kalau gak ada perlunya, salah satu sifatnya inilah yang bikin syaa suka sama dia.

Kalau gak salah hari Sabtu, 1 minggu setelah perkenalan saya dengan Ratna, sewaktu masuk masuk kelas, saya lihat ada secarik kertas yang isinya ternyata dari Lusi yang menyatakan Lusi ingin ketemu dengan saya di kantin, saya pun menemuinya sewaktu bel istirahat pertama di kantin.

Sesampainya di Kantin saya menemui Lusi sedang duduk sendirian di meja paling pojok, saya mendekati nya dan menegurnya

“Lusi ada apa?”

“Lusi ingin bicara sama Anton” jawabnya.

“Soal apa sih?” tanyaku, dengan wajah yang tertunduk, dia menjawab

“Soal Ratna…” 

“Ada apa dengan Ratna?”, balasku

“Kemarin sewaktu Ratna main ke rumah saya, dia cerita kalau dia sayang kamu dan cinta kamu”, saya pun kaget mendengar kata-kata Lusi… betapa tidak kaget, karena selama ini saya sayang dan cinta hanya sama Lusi. Dan saat itu juga saya berterus terang kalo saya sayang dan cinta sama Lusi, bukan sama Ratna temannya itu, setelah mendengar kata-kata saya. Lusi malah terbenggong dan diam tanpa kata sepatah pun, saya tunggu jawabannya tapi sepertinya gak akan ada, saya pun langsung bangkit dan kembali ke kelas dengan hati yang penasaran.

Keesokan harinya sesampainya di sekolah, waktu itu kalau gak salah masih jam 6:30 pagi dan saya waktu itu sedang duduk di pinggir lapangan basket. Ratna mendekatin saya dan duduk disebelah saya, dia bilang kalau Lusi juga sayang juga sama saya, saya pun kaget mendengarnya, tapi terus terang terasa pagi itu merupakan pagi yang paling indah sepanjang hidup ini. Dan sejak itu Lusi resmi menjadian pacar saya, pulang sekolah selalu sama-sama dan makan di kantin pun selalu sama-sama.

Awalnya, kami berdua pacaran seperti biasanya. Karena aku jauh lebih dewasa dari Lusi, jadi aku lebih banyak mengajari dan melindungi Lusi. Sampai-sampai waktu pertama kali aku cium bibirnya, dia masih lugu. Hal ini terjadi pada saat kami pacaran di belakang rumahnya yang mempunyai halaman serta kebun yang lumayan luas. Malam Minggu, kami duduk berdampingan di kursi, kulingkarkan tangan kiriku kepundaknya, dia merebahkan kepalanya ke dadaku. Kuraba dengan lembut pipinya dan berkata, “Lusi…” 

“Apa honey?” jawabnya perlahan. 

“Malam ini kamu sangat cantik dan saya kangen sama kamu…” aku berkata lagi. Kepalanya diangkat dari pundakku sambil memandangku dengan matanya yang bulat dan berbinar-binar sayu. Tanpa kusadari, wajah kami saling mendekat dan terasa nafas kami yang agak memburu. Kusentuh pipinya dengan kedua telapak tanganku. Kukecup keningnya dan reaksinya, dia diam dan waktu kulihat matanya tertutup. 

“Lus, saya sayang kamu…” bisikku di depan bibirnya. 

“Iya honey?” berbisik jawabnya lagi.

“Saya ingin mencium bibirmu.. boleh ya…?” suaraku kubuat selembut mungkin dan seyakin mungkin, karena dia tidak bereaksi seperti anak gadis lainnya kalau kucium keningnya biasanya langsung menyediakan bibir mereka. Lusi mengangguk pelan dan memejamkan matanya, menunggu dengan lembut kukecup bibirnya yang sensual itu, reaksinya sesaat diam. 

Setelah beberapa saat, tangannya melingkar di leherku dan kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Kemudian tanpa melepaskan bibirku di bibirnya, dengan perlahan kuangkat tubuhnya sehingga dia berada di pangkuanku. Bibirnya yang lembut kukulum dengan erat. Saat kupermainkan, lidahku masuk ke dalam mulutnya, dia terkejut dan melepaskan bibirnya sambil berkata pelan. 

“Kalau ciuman memangnya mulutnya di buka dan lidahnya di julurkan ya honey…???”

“Iya dong say, coba kamu buka dan julurkan lidah kamu, sekarang, boleh aku cium kamu lagi?” tanyaku dengan lembut. Lusi hanya mengangguk dan langsung kukecup lagi bibirnya sambil mempermainkan lidahku dan ternyata reaksinya lidahnya ikut main dengan lidahku dan sementara tanganku mulai meraba-raba punggungnya dengan lembut, membuat nafasnya Lusi memburu ditengah-tengah kecupan dan pagutan bibir kami berdua. 

Sementara itu, tanganku mulai turun ke arah susunya. Dia tidak bereaksi terhadap tanganku yang sudah mengusap susunya yang ternyata, montok dan memang benar-benar besar dan kenyal. Maklum umurnya masih 17 tahun. Nafasnya makin memburu tatkala kecupanku turun ke lehernya dan kugigit-gigit kecil. Rintihan halus mulai keluar juga saat tanganku masuk ke dalam bajunya setelah kancingnya berhasil kulepaskan satu persatu tanpa disadarinya. Tanganku terus meraba susunya yang masih terbungkus BH. Yang kurasakan hanya setengah menutupi susunya yang besar dan montok serta lembut itu, atau memang BH-nya terlalu kecil untuk menampung bukit indahnya Lusi yang montok. Bibirku terus mengecup turun dari leher ke susunya sementara tanganku bergerilya ke punggungnya yang akhirnya berhasil melepaskan kaitan BH-nya. Kurasakan Lusi tersentak pada saat aku berhasil melepaskan BH-nya. 

“Honey… jangaaan..” rintihnya terengah-engah sambil menunduk melihat ke arah mukaku yang hampir terbenam di antara kedua susunya yang besar dan montok itu. Aku melepaskan kecupanku di pangkal susunya sambil melihat ke arahnya dengan lembut tetapi masih penuh nafsu. Sambil tersenyum lembut, 

“Kenapa sayang.. kamu takut yaa..?” tanyaku hati-hati.

“Iya…” jawabnya dengan suara bergetar akan tetapi kedua tangan masih tetap memeluk leherku dengan kencang.

“Jangan takut sayang, saya tahu kamu belum pernah seperti ini, rasakan dan nikmati saja pelan-pelan.” jawabku lagi sambil tanganku tetap membelai susunya yang putih disertai puting kecilnya yang berwarna merah muda.

Rupanya dengan gerakan Lusi tersentak itu, BH yang dipakainya terlepas dari susunya yang montok. Kukecup lagi bibirnya dengan lembut. Sejenak kusadari bahwa ini adalah hal yang pertama kali Lusi alami bersama lelaki dewasa seperti aku jadi aku berniat untuk petting dulu sama dia agar tidak kaget dan terlalu memaksa. Aku takut akibatnya dapat merugikanku sendiri untuk menikmati tubuh perempuan berdarah Belanda ini. Demikianlah kejadian demi kejadian yang aku dan Lusi lakukan, yaitu petting atau French kissing sejak kami pacaran yang kuajari dia, baik di rumahnya maupun di rumahku dan dengan pasti kami lakukan pada saat rumah kami berdua dalam keadaan yang memungkinkan. 

Sampai satu hari Minggu, aku bisa mengajaknya keluar dari pagi jam 08:00 sampai jam 17:00, atas izin orang tuanya. Kami berdua naik motor HarleyDavidsonku berputar-putar keliling Jakarta. Kami makan mie ayam Gajah Mada dan berakhir di rumahku yang kebetulan lagi sepi. Orang tuaku sedang mengunjungi famili di America, kedua kakakku sibuk dengan urusannya masing-masing dan tinggalah pembantuku bik Inem di kamar belakang. Lusi langsung kuajak ke kamarku, terpisah dari ruang utama cukup jauh. 

Mungkin karena rasa kangen yang meluap-luap, begitu masuk ke kamarku, Lusi memelukku dengan erat dan sepertinya kurasakan dia agak buas. Menciumiku dengan cara menarikku dengan kasar, sehingga kami terjatuh di atas tempat tidurku dengan posisi dia berada di atasku. Padahal, biasanya kalau kami berdua ada kesempatan, ciuman sambil pegang-pegang, seingatku aku selalu ambil peranan dan dengan lembut serta very enjoyable bagiku dan Lusi sendiri yang kulihat dia sangat menikmati permainan petting dariku. Tetapi hari ini aku hampir kewalahan menghadapi ciumannya yang bertubi-tubi dan kurasakan ciuman wanita yang lagi berahi tinggi. Menyadari hal tersebut, aku akhirnya mulai memberikan respon yang tinggi juga. Dengan segera aku membalikkan badanku, sehingga posisiku berada di atasnya serta kubalas kecupannya dengan gairah tetap i juga dengan lembut serta gigitan-gigitan kecil di bibirnya, serta permainan lidah pada saat mengulum bibirnya yang sensual itu. 

Sementara tanganku bergerak membuka baju casualnya, seperti biasanya Lusi sudah tahu kalau kami mau petting, dia selalu pakai baju casual dengan kancing di depan. Desahan-desahan kecilnya mulai terdengar bersamaan dengan kecupan dan gigitan kecilku yang turun ke arah susunya yang besar dan montok itu sampai aku berhasil menjilati puting susunya yang berwarna merah muda bergantian, kiri dan kanan. Desahannya makin menjadi-jadi sewaktu aku menghisap putingnya yang kecil dan mulai keras disertai gigitan-gigitan kecil yang menggemaskan dan menikmatkan dia.

“Aduuuuh… hooneeeyyy…!” erangannya sambil mencengkramkan tangannya di kepalaku. Sementara itu, penisku mulai berontak di balik jeans dan CD-ku. Cepat-cepat aku membuka ruistzleting jeansku agar Mr. P agak leluasa untuk diperbaiki letaknya. 

Kulepaskan kecupanku dari susunya Lusi yang besar dan aku memandangnya dengan penuh kasih dan lembut, kukecup bibirnya Lusi. 

“Lusi sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya, kamu mau kan sayang…?” 

“Honey, aku mau…” jawabnya mesra dan nafasnya mulai memburu.

“Sayang… aku akan membuat kamu untuk tidak melupakan hubungan kita dan aku mau kamu menjadi wanita pertama yang merasakan kenikmatan dari ku, mau kan?” kataku lagi dengan lembut setengah bebisik, dia mengangguk manja. 

Sambil berbaring side by side, kukecup bibirnya yang sensual sambil kubuka habis bajunya. Tanganku yang cukup berpengalaman melepas BH-nya yang berwarna pink, hal ini membuat Mr. P ku tegang. Akhirnya terlihat dua bukit susunya yang besar dan halus, 

“Wwoooww… kok anak SMA klas1 bisa punya seperti ini?” dalam hatiku, putih ,besar, montok dan kenyal dengan putingnya yang kecil berwarna merah muda. Sejenak aku memandanginya sambil perlahan-lahan tanganku menjamah, membelai serta mengusap-usap putting yang menggemaskanku. 

Lusi tersadar saat aku masih memandang ke arah susunya dan tiba-tiba dia mengeluh sambil menyusupkan kepalanya di dadaku yang juga sudah telanjang. 

“Honey.. jangan diliatin terus dong.. Lusi kan malu!” katanya perlahan dengan nada manja. Aku tertawa perlahan sambil memeluknya dengan mesra. 

“Malu sama siapa sayang? Sama aku? Iya? Kan yang ngeliatin juga cuma satu orang kan..?” jawabku tersenyum geli melihat kelakuannya ini. 

“Tapi Lusi kan tetap aja malu.. soalnya kamu orang laki-laki yang pertama yang lihat Lusi ngga pakai BH.” katanya lagi. Kukecup lagi keningnya, terus turun ke matanya yang indah, hidungnya yang bangir, terus turun ke sudut bibirnya yang sensual, merah merekah disertai desahan-desahan kecilnya terdengar olehku. Di sana aku mempermainkan lidahku serta kugigit lembut. Dia menggelinjang dan dengan tidak sabar dia mengecup bibirku dengan buas, sementara tangannya mulai mengusap kepalaku, aku pun tidak tinggal diam. Dengan segera tanganku turun ke susunya yang menjadi kegemaranku bermain, kuraba dan kuputar-putar putingnya yang mungil. Dia mengerang nikmat. 

Tanganku terus turun. Kusibak rok mini nya, terus ke arah belakang tempat resletingnya, langsung kubuka perlahan-lahan. Dia diam saja dan aku merasakan bahwa dia sudah pasrah dengan apa yang akan kulakukan. Kutarik roknya ke bawah dan dia membantu untuk melepaskannya. 

“Honey… peluk Lusi dong…” tiba-tiba katanya dengan sendu membuyarkan lamunanku. Kembali aku memeluknya dengan lembut dan aku merasa penisku melakukan pemberontakan yang gila. Sambil mencium bibirnya, lehernya terus turun ke susunya serta putingnya yang menggairahkan, aku melepaskan jeansku. Kukecup kedua puting merah muda itu berulang-ulang dengan lembut sampai basah oleh air liurku. Kuturunkan kecupanku ke arah pusarnya, dia bergerak sambil terus menjambak rambutku sambil mendesah disertai erangan-erangan nikmatnya yang halus. 

Sampai akhirnya bibirku berada di atas vaginanya yang sudah basah tertutup oleh CDnya. 

“Sayang.. CD kamu saya buka ya?“ kataku sambil mulai membuka CD-nya lepas dari tubuhnya. Lusi hanya menganggukkan kepalanya dengan rintihan kenikmatan yang kuyakin belum pernah dirasakannya seumur hidup. Dihadapanku terlihat anak gadis, perawan, telanjang dengan lubang kewanitaan ditumbuhi bulu-bulu halus yang teratur rapi nan cantik. Vagina anak perawan yang belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Kukecup bibir atas benda indah itu yang dengan serta merta mengeluarkan aroma yang khas. Aku merasakan gerak gelinjang Lusi serta keluhan panjang. 

“Ooohhh… Honneeeyyy…!” Kuyakin Lusi sudah kehilangan kata-kata untuk menyatakan kenikmatan yang belum pernah dia alami, karena umurnya baru 17 tahun. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan nafsuku serta pemberontakan Mr. P di balik CD-ku, aku ingin memberikan kepuasan kepada Lusi semaksimal mungkin, sehingga dia akan menyerah dengan apa yang akan kulakukan demi kepuasan bersama. Kujilat belahan vaginanya sambil perlahan-lahan kubuka pahanya yang sebelumnya Lusi jepitkan untuk menahan gejolak kenikmatan pada saat aku pertama kali mengecup pucuknya. Pahanya yang putih mulus itu terbuka sedikit demi sedikit sambil lidahku bermain dengan lembut. Klitorisnya yang mungil tampak merekah merah muda. Aku tidak tahan. Kukecup dan kugigit-gigit kecil. Hal ini membuat Lusi menggoyangkan pantatnya yang padat, kenyal serta mulu s itu dengan gila. Kedua tangannya mencekal rambutku dan menekankan ke arah vaginanya sambil berteriak kecil menahan. Basah sudah bibirku, hidungku, lidahku dengan cairan putih bening yang keluar terasa agak asin namun harum dengan aroma yang khas dari vaginanya. Cengkraman serta jepitan di kepalaku mengendur, dia telah mencapai orgasme. Kujilat dan kutelan habis cairan itu di sekitar vagina indahnya dengan nafsu yang memuncak

“Honey.. sini dong, peluk Lusi…” rintihnya sendu. Aku tersadar dengan kejadian yang baru saja kulakukan. Gila.. aku baru saja menelan cairan orgasme anak perawan. Aku bangun dan memeluk Lusi dengan lembut dan mesra, dia kaget melihat mulut dan hidungku masih tercecer cairan putih bening. Tiba-tiba, “Cup.. cup.. cup..” dikecupnya bibirku, hidungku, daguku sambil menjilati sisa-sisa cairan putih bening yang masih ada di wajahku dengan liar. Dia terus memandangku dengan matanya yang indah berbinar itu. Posisi kami rebah berhadapan berdampingan, dia berada di sebelah kiriku dan aku berada di sebaliknya. Tanganku menyentuh dan mengusap susunya yang putih, montok dihiasi putting kecil merah muda. 

“Honey…” desahnya lembut. 

“Apa sayang..?” jawabku berbisik.

“Kamu sayang sama Lusikan…?” katanya lagi sambil memandang serta membelai pipiku, menyentuh bibirku dengan jarinya. 

“Iyaaa… ada apa sayang… kok nanyanya begitu…?” balasku lembut. Jariku tetap nakal bermain-main di puting susunya yang menggairahkan.

“Honey… soalnya Lusi belum pernah begini..” katanya lagi sambil melirik ke arah mataku. Usapan tangannya tidak berhenti di antara pipi dan bibirku. Aku balas memandangnya sambil tersenyum. 

” Jangan diliatin begitu dong… Lusi kan maluuuu…” katanya sambil merajuk menyusupkan wajahnya di leherku, kakinya yang indah dibelitkan ke pinggangku seperti memeluk guling. Tiba-tiba dia tersentak saat perutnya menyentuh perutku yang mau tidak mau, vaginanya menyentuh sesuatu yang tegang di balik CD-ku yang sudah basah. Secara refleks Lusi mencoba meregangkan tubuhnya, tetapi dengan sigap kutahan dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya sambil berbisik,

“Jangan dilepas sayang.. biarkan nempel.. aku ingin kamu merasakan milik laki-laki yang menyayangimu, menyentuh kulitmu.” kataku dengan nada pasti. Dia terhenyak dan tegang sesaat, dengan sabar dan lembut aku cium kening dan bibirnya dan aku berkata sambil melepaskan CD-ku perlahan-lahan, 

“Kamu belum pernah melihat yang namanya penis laki-laki dewasa dalam keadaan tegang kan? Kamu mau lihat?” tanyaku sambil menatap pasti ke arah matanya yang indah itu. Sepertinya dia bingung sesaat dan aku tetap memandangnya dengan tatapan mata yang menusuk serta meyakinkan. 

Akhirnya dengan sikap pasrah dia mengangguk pelan. Kami melepas pelukan dan dengan perlahan-lahan, Lusi menundukkan kepalanya melihat ke arah pangkal pahaku. 

“Ooohhh…” teriaknya kecil dan kaget serta merta memeluk leherku menyembunyikan mukanya. Aku rasanya ingin tertawa melihat sikapnya yang lugu itu, maklum saja anak perawan melihat pertama kali Mr. P laki-laki dewasa lagi tegang.

“Kenapa sayang..? Lihat indah kan?” kataku menggoda. 

“Ngga mauuu.. Lusi maluuuuu…!” jawabnya tanpa melepaskan wajahnya di leherku dengan nafas yang agak memburu dan tangannya memeluk leherku. Dengan sigap aku peluk dia di pinggangnya yang berakibat Mr. P ku yang masih tegang itu menempel di antara vaginanya yang lembut. Dia kaget dan berusaha melepaskan tetapi kutahan pinggangnya, nafasnya makin terengah-engah. Terasa ada cairan hangat mengalir menyentuh Mr. P ku perlahan-lahan dan ketegangan tubuh dia mulai agak mengendur. 

“Honey.. Lusi.. aaahhhh geeellliii…” desahnya terengah-engah. Pelukanku di pinggangnya kukendurkan sambil menatap matanya yang agak redup sambil berbisik,

“Sayang.. ini bagian dari perasaan cinta dan kasih sayang, say.. ayo lihat..” Aku mengambil tangan kirinya dan kuarahkan ke Mr. P ku yang tegang, dia mengikuti gerakan tanganku sambil pelan-pelan menundukkan kepalanya ke arah Mr. P ku, kuusapkan tangannya ke Mr. P ku sambil menggenggam dengan lembut. Aku rasakan nafasnya memburu dan aku mulai merasakan sentuhan lembut itu dengan nikmat. “Gile.. coy..! Mr. P ku dipegang oleh anak perawan yang cantikkk..!” pekikku dalam hati. Kuajari Lusi sambil menggengam si Mr. P untuk mengurut dengan lembut, tanganku kemudian melepaskan tangannya yang halus, terus mengurut Mr. P ku secara berirama. Sementara tanganku sendiri menyentuh vaginanya yang lembut dan mulai mengelus bibir hangat tersebut dengan penuh rasa cinta. Beberapa saat kemudian dia berteriak kecil, 

“Hooonnneeeyyy.. ooohhh… ssshhhttt…” dia bergerak dan tangannya yang masih memegang Mr. P ku disentuhkan ke vaginanya. Tiba-tiba dia memelukku sambil melingkarkan pahanya yang putih dan mulus itu serta menekankan vaginanya dengan Mr. P ku. Tanganku terpaksa kulepas dari bibir vagina cantik itu, tangannya memeluk badanku, kemudian bibirnya dengan buas mengecup bibirku sambil mengerang karena nikmat. Terasa basah Mr. P ku yang masih menempel di bibir hangatnya Lusi, orgasmenya yang kedua. Wooow.. seprei tempat tidurku sudah tidak karuan lagi bentuknya serta basah pada bagian di mana kemaluan kami berdua saling menempel. Aku mulai tidak tahan dengan keadaan seperti itu, Mr. P ku makin keras dan tegak sementara agak terjepit di antara bibir vagina lembut miliknya. Yang agak mengherankan adalah, aku masih bisa menahan dir i untuk tidak mulai melakukan penetrasi karena sadar bahwa anak ini masih perawan, meskipun keadaannya tinggal tancap, beres kan? 

Pikiran sehat muncul sejenak.

“Kalau elu perawanin, gawat nich ceritanya coy… !?” dalam hatiku bergejolak. Aku yakin bahwa aku harus mengakhiri kenikmatan ini dengan kondisi baik. Aku dan Lusi harus benar-benar puas. Kubalas kecupan-kecupan ganasnya Lusi di bibirnya, lehernya, susunya dan berhenti serta bermain-main agak lama di kedua susunya yang menggairakan serta putingnya yang kecil merah muda itu. Tanganku bergerilya ke arah vaginanya yang lembut berwarna merah muda pada kedua labia mayora-nya. 

Pahanya yang putih mulus masih melingkar di pinggangku, sehingga jari tengahku bebas berkeliaran mengusap-usap vaginanya yang sudah amat basah dengan cairan putih bening yang keluar terakhir. Desahan, erangan serta teriakan-teriakan kecil terus meluncur dari bibir yang sensual di depan wajahku. Sekali-kali dia mengecup dan juga menggigit bibirku dengan ganas selama jariku mempermainkan labia mayora serta clitorisnya yang agak keras. Kugeser tubuh putih mulus itu perlahan-lahan, sehingga Lusi telentang dan posisiku berada di atasnya. 

“Lusi sayang, saya ingin kamu merasakan kenikmatan orang bercinta.. kamu mau kan..?” aku berkata sambil menatap wajahnya yang terlihat pasrah dan bertambah cantik dengan sebagian keringat menitik di dahinya. 

“Honey… semuanya saya berikan untuk kamu?” jawabnya lembut setengah tersenyum juga dengan nafas mulai memburu.

“Sayang kamu sebentar lagi akan merasakan gimana yang namanya Make-Love?” kataku dengan lembut dan pasti sambil mengecup bibirnya yang menggemaskan. Dia mengangguk pelan tetapi kuyakin pasti dia ingin merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya. 

Dengan sabar dan lembut tanpa melepaskan pandangan mataku ke arah matanya yang mulai setengah terpejam, kurenggangkan pahanya, kuarahkan Mr. P ku yang sudah tegang dari tadi ke atas vaginanya yang kuraba dengan jari tengahku. Sudah merekah terbuka, lembut, perlahan kuusap-usapkan ujung Mr. P ku ke vagina Lusi sambil kukecup bibirnya, susunya, putingnya. Kujilat mesra tangan kirinya dengan segera memegang dia meremas kepalaku dan tangan kanannya membelai punggungku dengan mesra seolah-olah mulai merasakan kenikmatan lidahku bermain pada putting susunya yang kecil mungil kemerah-merahan serta usapan-usapan Mr. P ku pada vaginanya. Perlahan-lahan kudorong Mr. P ku memasuki kira-kira setengahnya ke liang vaginanya.

“Hooonnneeeyyy… pelan-pelan… peerrriiiihhh…” jerit kecilnya. Aku agak kaget dan langsung berhenti bergerak karena meskipun aku sudah tidak tahan ingin penetrasi penuh tetapi aku masih sadar bahwa ini adalah ML dengan Lusi yang anak perawan 17 tahun berdarah Belanda yang amat kusayangi, jadi aku harus sabar dan penuh rasa kasih serta cinta yang lembut. 

“Maaf sayang.. sedikit lagi.. saya pelan-pelan.. atau dicabut aja..?” kataku tanpa sadar. 

“Jangan… pelan-pelan aja…” jawabnya lirih. Aku merasa tidak tahan, antara mau terus dan takut dia kesakitan. “Gila lu Ton, ini anak masih perawan!” kata hatiku kembali berkata. Tetapi karena sudah tanggung, Mr. P ku sudah masuk setengah kuteruskan amat perlahan. Penetrasi yang berakhir dengan keluhan Lusi yang terdengar lirih,

“Honeeeyyy… aaaahhhh saaakkkkiiittt..!” Nafasnya memburu, terasa liang vaginanya yang sempit itu basah melumasi Mr. P ku yang masuk dan menyentuh sesuatu batas, selaput dara. Aku bingung sejenak untuk berusaha menguasai diriku. “Tanggung Ton.. terusin aja…” bisikan hatiku lagi. 

Sambil mengatur nafas, aku diam beberapa saat sambil memandang gadis perawanku yang cantik ini. 

“Sayang… kamu apa udah siap…?” aku berbisik di depan bibirnya yang sensual, reaksinya membuat aku tertegun. Dia angkat pantatnya sehingga Mr. P ku masuk penuh ke dalam vagina indah itu, tiba-tiba kedua kakinya melingkar di pinggangku dan sekaligus menjepitnya. “Luar biasa ini gadisku yang perawan!” pujiku dalam hati. Aku langsung goyangkan pantatku maju mundur perlahan-lahan tetapi pasti, makin lama makin cepat, kukecup sudut bibirnya, ujung dagunya. Nafasnya dan nafasku tidak karuan lagi iramanya. 

“Honey… oooohhh… teeerrruss… ssshhhhhttt…” erangannya makin keras. Gerakan pantatnya yang bulat makin menjadi-jadi. Kupeluk Lusi dengan erat karena aku mulai merasakan denyut-denyut gila Mr. P ku di bagian kepalanya. Gerakan otot vagina Lusi yang menghisap Mr. P ku setiap gerakan mundur membuat aku benar-benar tidak tahan. Rasanya belum lama penetrasiku, tiba-tiba Lusi menjerit lirih disertai pagutannya di bahuku sebelah kanan serta jepitan kedua pahanya di pinggangku. 

“Haooonnneyyyy… aaakkkhhh…” Aku tidak bisa menahan lagi kenikmatan badaniah ini, di mana kurasakan seluruh Mr. P ku terbenam di liang vaginanya. Ini ML yang paling gila dan paling edan yang pernah kulakukan sampai saat itu. Aku mengalami orgasme hebat bersama Lusi, gadis kecilku, anak SMA dan yang telah kuperawani. Spermaku keluar menyemprot di dalam vagina lembutnya bersamaan dengan pahanya yang mulus menjepit pinggangku dengan kuat tanda dia mengalami hal yang bersamaan denganku. Kami berpagutan, berkecup, berpelukan, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh-tubuh telanjang kami. 

Beberapa saat, kami berpelukan seolah-olah tidak akan melepaskan satu sama lain. Kuputar tubuhku sehingga posisi kami berdua berhadapan berdampingan tanpa melepaskan pelukan kami masing-masing. Peluh kami berdua mengalir membasahi punggung, leher, dada, perut dan hampir seluruh tubuh. 

“Sayang.. buka dong matanya..” kataku lembut sambil mengelus pipinya, menyentuh bibirnya dengan ibu jariku sewaktu melihat dia dengan matanya yang masih menutup. Menikmati atau berusaha menyadari apa yang baru saja terjadi, mungkinkah? Dia membuka mata coklat tua yang indah dan berkaca-kaca. Perlahan-lahan dia memandang ke arah mataku, dua butir air mata mengalir dari mata yang indah itu. 

“Honey…” suaranya terdengar lembut sambil jarinya mengusap pipi dan bibirku.

“Kamu sayang sama Lusi kan..?” katanya lagi dengan agak tersedan manja. “Iyaa sayang.. saya sayang kamu.” jawabku dengan tetap mengelus pipi dan bibirnya yang sensual indah itu. Kuusap tetesan air matanya dan kami saling mengelus muka masing-masing dengan penuh kasih dan cinta. 

” Lusi ngga nyesel lakukan sama kamu.. karena Lusi sayang dan cinta sama kamu honey…” katanya lagi dengan lembut. 

“Saya juga sayang sama Lusi.. kamu ngga nyesel kan dengan apa yang kita lakukan tadi..?” tanyaku lagi. Dia mengangguk pelan tetapi pasti dan tersenyum manis. Kupeluk dia dan kukecup keningnya, bibirnya dan kugigit kecil sudut bibirnya, dia mencengkram rambutku sambil membalas kecupanku di bibirnya. 

Perlahan-lahan kami saling melepaskan diri dan secara refleks kami berdua melirik ke arah pangkal paha kami masing-masing. Kami termenung sejenak melihat seprei tempat tidurku basah dan ada bercak merah. 

“Honey.. Lusi takut.. ada darah di…” dia berkata dengan ekspresi wajah khawatir. Segera kupegang kedua belah pipinya dan melekatkan pandanganku ke matanya. 

“Jangan takut sayang.. itu tandanya kamu masih suci, saya yang pertama melakukan dan akan bertanggung jawab atas perbuatanku, jangan khawatir sayang.” jawabku dengan tenang dan pasti dan langsung kembali kupeluk dia sambil mengecup keningnya. Dia membalas pelukanku. Kami berpelukan seolah-olah tidak akan saling melepaskan. Aku bangun dan meraih bajuku dari lantai segera kubersihkan tubuh Lusi, di pangkal pahanya, vaginanya, sambil memandang tersenyum puas kepadanya. Dia pun bangun dan ikut membereskan bajunya yang berserakan di atas lantai. 

Kami berdiri berhadapan, saling berpandangan mesra dengan tubuh telanjang. Kupeluk Lusi, dia membalas pelukanku dan kami berpagut lembut mesra. Kugandeng tangannya, kami berjalan beberapa langkah mendekati lemari pakaianku, kuambil CD yang bersih. Tanpa sadar Lusi terlihat termenung memadangiku. 

” Lusi sayang.. udah sore sayang..” aku berkata mengingatkannya juga menyadarkan diriku sendiri sambil menyodorkan CD-ku yang bersih. Dia tersentak dan terlihat pandangan yang lucu waktu matanya melihat CD-ku yang kusodorkan kepadanya. 

“Buat siapa..?” tanyanya heran. 

“Ya buat kamu.. masa kamu mau pakai CD kamu yang udah basah dan lengket?” aku jawab sambil menahan tawa geli, dasar anak kecil. Dia tersadar dan merajuk manja serta merta memelukku, menyembunyikan wajahnya di dadaku. 

“Aaahhh.. honey.. Lusi jadi malu kan..?” sergahnya manja. Kutuntun Lusi duduk di tempat tidurku, kukenakan CD cowok putihku. Lucu juga melihat cewek pakai CD cowok. Lusi memakai baju dan rok mininya kembali. Kemudian aku sendiri berpakaian. 

“Sayang, saya mau tahu, kok kamu mau melakukan ini sama saya? ngga takut hamil..?” tanyaku serius sambil memandang matanya yang indah itu. “Lusi mau karena Lusi sayang kamu.. honey kan udah janji ngga akan meninggalkan Lusi.. iyaa kan?” jawabnya sambil memeluk leherku. “Sekarang udah sore. Mau pulang nggak?” tanyaku sambil memeluk pinggangnya. Dia memandangku sambil tersenyum sendu melingkarkan tangannya di leherku sambil mengangguk pelan. 

CD-nya yang berwarna pink masih tergeletak basah di atas tempat tidurku. Kuambil sambil kuciumi, dia berusaha merebutnya dari tanganku tetapi kutahan tangannya. 

“Ini milik saya untuk selama-lamanya..” kataku tegas sambil menatap matanya yang cantik berbinar-binar itu. 

“Jangan… itu kotor dan bau kan..?” sergahnya. 

“Biaaariiin… kotoran yang cantik dan bau yang haruuummm.. kenang-kenangan dari gadis kecilku yang cantik.” jawabku sambil mengecup bibirnya yang sensual. Cepat-cepat aku melepaskan diri dan melemparkan CD pink itu ke dalam lemari pakaianku, kututup, kukunci. Dia terdiam dan tersenyum cerah. Kuantarkan Lusi pulang kerumahnya, jam menunjukan jam 18:00. Kami berkasih mesra hampir 5 jam di rumahku, edan, gila dan sebagainya. Sore itu aku merasakan bahagia sekali…

Waktu terus berjalan dengan indahnya… sampai ketika waktu liburan kenaikan kelas, saya disuruh jaga rumah saudara, soalnya saudara saya itu pada pergi ke luar negeri jalan jalan ke Africa mau ketemu macan kali ya… hahahahaha. Malam minggu nya karena saya gak bisa kemana-mana, akhirnya Lusi yang datang nga pel in saya di rumah saudara saya itu. Kita ngobrol kesana-kemari dan saya bilang kalau saya kangen dia. Tak tahunya pancingan saya berhasil juga, dia berkata sambil menyenderkan kepalanya di pundak saya 

“Saya juga kangen…” mendengar itu saya langsung mendekati dia dan berbisik padanya

“Kamu malam ini cantik say…?” sebelum menyelesaikan ucapan saya, saya sudah langsung di sambut dengan ciuman dibibir yang hangat. Seketika itu saya kaget, tapi dengan cekatan tangan saya merangkul dia dan menyambut ciumannya. 

Satu kata pun tak terucap selama 5 menit pertama dari mulut kita masing-masing. Lalu sambil meneruskan ciuman tadi, tangan kiri saya mengambil bantal dan menidurkan dia sambil diteruskan membuka kaosnya. Setelah saya membuka kaosnya, tubuh Lusi bener-bener mulus tak ada satupun cacat ditubuhnya. Lama saya memandangi tubuh mulus itu, tapi Lusi sudah tak sabar, dia langsung menarik kepala saya ke susunya dan menyuruh untuk ngisep puting susunya itu. Tanpa basa-basi saya pun ngisep puting dan saya jilati sambil gigit kecil di seluruh susunya sampai dia mengerang keasyikan 

“Sayang… ooohhh… terusin aaahhhh… ssshhttt… enak say”.

Sambil mengisep-ngisep susunya Lusi, tangan kanan saya membuka sabuk dan menurunkan resleting celananya, terus tangan saya masuk ke CD nya dengan pelan-pelan dan menggosok-gosok dengan pelan klitrosnya yang sudah basah.

“Sayang jangan dulu, sabar ya say…” tangan dia menghentikan saya untuk meneruskan kegiatan tadi, dan dia mendorong tubuh saya sampai keadaan saya berbalik, dia diatas dan saya dibawah. Dia langsung membuka celana saya dan mencari-cari Mr. P yang sudah sedari tadi tegang. 

“Sayang saya kangen sama ini kamu say..,” dia langsung menjilati kepala Mr. P dan mengisep dengan lembut 

“Sayang yang dalam say…”

“Susah say mulut saya cuma sampai setengah doang” dia berusaha muasin saya dengan menyedot dari pelan sampe keras 

“Aaaahhh… terus say… emmmmhhhhh” dia memaksa melumat Mr. P ku yang gede ke mulutnya, sampai-sampai kepala dan batang Mr. P ku kena giginya, tapi itu semua membuat saya mengerang keasyikan.

“Udah dong Lus… entar keburu keluar, ga asyik kan” setelah itu saya langsung menidurkan Lusi dan membuka celana dan cdnya yang sedari tadi masih tergantung di sekitar paha. Saya langsung menuntun Mr. P gede ini masuk ke bibir mulut goa Lusi. Blesss… tanpa menunda lagi Mr. P saya sudah masuk ke vagina Lusi yang hangat dan masih menjepit Mr. P ku, meski sudah ga perawan lagi tapi memeknya masih sempit dan enak banget di Mr. P ku.

“Aaaahhh… Saaayyy… ooohhh enak say… saya merasa seperti waktu kamu perawanin dulu.” “Aaahhh… sssttthhh… ooohhh… ” saya terus mengenjot pantat ke vaginanya 

“Terusin say… yang cepat… aaahhhh…, cepet lagi say… saya maaauuu… keluuuaaarrr… aaahhh…”

Saya mempercepat gerakannya dan Lusipun mengimbangi irama saya. Dan saya pun mau keluar 

“Aaahhh… ssshhhtt… saya keluar sayyy…” 

“Sebentar say… bentar lagi saya juga mo keluar nih” 

“Aaahh… terus Lus… ooohhh…”

Setelah itu kami saling memeluk, dan selang beberapa menit, saya dan Lusi kembali ML. Kami melakukan itu dari jam 5 sore sampe 10 malem sampai 5 ronde. Enak banget rasanya memek Lusi itu. Setelah selesai saya mengantar dia pulang ke kos anya, dan setelah itu kami selalu meluangkan waktu untuk bercinta lagi. Baik itu di rumahnya kalau keadaan nya memungkin kan atau di kos an saya. 

Beberapa hari setelah itu saya bertemu dengan Ratna, dengan suaranya yang sangat pelan dan malu malu, dia mengatakan ingin ML sama saya. Saya waktu itu merasa kaget dan rada bingung juga, akhirnya dia cerita kalau dia juga mau merasakan enaknya ML seperti waktu saya melakukan itu dengan Lusi dan saya diminta untuk mengajarinya. Dia saya ajak ke kos an saya. Dan disana saya ajak untuk nonton VCD porno di komputer saya. Mulanya dia malu-malu untuk melihat adegan hot di komputer saya itu. Lalu saya tiup dengan pelan dibalik telinganya, reflek tangan dia memegang erat tangan saya sambil menggigit bibir 

“Aaaahhhh… ttteeerrruuusss Tonn… ajarin saya ya…” saya langsung menyambut bibir Ratna yang sedari tadi mengigit-gigit bibirnya sendiri. 

Sambil melumat bibir sexy Ratna, kedua tangan saya meremes-remes susunya yang besar itu, Lalu saya menuntunnya duduk di springbed sambil membuka kancingnya satu persatu. Setelah bosen ngelumat bibirnya yang sexy, saya turun ke susunya yang sedari tadi sudah terbuka menunggu jamahan bibir saya. 

“Gelliiii Ton… terusin, ahhhhh… sssshhhhttt…. aaaahhhhh…,” waktu itu saya menjilat-jilat sekitar susunya terus ke putingnya dan diakhiri dengan sedotan panjang dan gigitan.

“Ton kamu memang pinter buat aku terangsang, aaahhhhh… terusin… saya suka….” sambil tangan saya menyerosotkan celana jeansnya 

“Ton sekarang ngapain…???” sambil memelas mesra 

“Kita coba ikuti yang tadi di komputer” langsung aja kita ngelakuin gaya 69. Buset dah Mrs.V nya wangi banget dan bersih rapi dan sudah dipenuhi cairan kentel yang baunya khas.

Saya jilatin Mrs.V Ratna sambil sekali-kali menyedotnya. Dan Ratna pun dengan cekatan mengocok Mr. P saya. 

“Sssshhhhhh.. Naaa… enak… terusin dong… yang cepat say…” 

“Sama juga Ton… teeerrruuuss enak banget, dah ga tahan rasanya mo kencing aaaahhhh… ssshhhh… ton aku mau keluar nih” crot,..crot,..crot,.. Mrs.V nya ngeluarin cairan kentel yang banyak dan tumpah di sekitar bibir saya. Rupanya Ratna termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Ratna membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali. 

Sambil itu saya langsung menyedotnya dengan cepat dan sretttttt 

“Ssshhhhttt Tooonnn… enak banget….. serasa melayang” setelah Ratna organisme saya langsung ngubah gaya ke gaya tradisional, saya diatas dan dia dibawah. 

“Ratna sudan siap…? ” 

“Terusin aja Ton aku sudah ga tahan.” dengan bantuan tangan Ratna saya menemukan juga lubang yang masih perawan itu. Kepala Mr.P saya udah saya deketin ke bibir Mrs.V Ratna, dan perlahan-lahan saya coba masukin. Tapi ah… gagal, coba lagi …. gagal juga 

“Kenapa Ton… cepet dong, dah ga kuat nih, aku pengen ngerasain Mr. P mu yang gede itu” 

“Sabar ya Na… gua lagi coba nih” saya buka sedikit bibir Mrs. V Ratna dengan kedua jari kanan saya. Dan akhirnya blessssss…

“Aaahhhh… sakit Toonnn…” 

“Sebentar juga enak kok” perlahan-lahan Mr. P saya maju mundurkan hingga cairan kental dari Mrs.V Ratna memperlicin gerakan maju mundurnya Mr. P saya. 

“Ssshhhhhttt… enak perih perih sakit… aaaahhh… ooohhh terusin Ton… percepet… ssshhhttt…”. 

Setelah lancar Ratna pun mengimbangi dengan pinggulnya yang maju mundur keatas. Enak banget waktu itu, Ratna Mrs.V kamu memang masih perawan. 

“Aaaahhhh… aaaahhhhh… sssshhhttt…. ooooohhhh… Tooooonnnn” saya terus saja menggenjot Mrs.V nya Ratna dengan cepet dan sebelum Ratna organisme saya mencabut Mr. P saya 

“Ton! kok di cabut….” tapi saya tak menghiraukan perkataan Ratna, saya langsung mengangkat kaki kiri Ratna ke atas dan saya langsung menusuk lagi dari pinggir ke Mrs.V nya. 

“Oooohhhhh… Tooonnn kamu memang hebat, ini lebih asyik, Mrs. V ku rasanya penuh aaaahhh… ooohhhh… ssshhh…” saya menggenjot dengan keras, sampai terdengar bunyi plok plok plok….

“Naaa… ssaayyaaa…mmmaaauuu… keeeluuuaaarrr…. Dimana ngeluarinnya Na….?” 

“Didalem aja Ton… ga pa-apa, aku pengen ngerasain semuanya ” 

“Kamu nanti hamil…”

“Gak apa-apa…”

“Pinggul mu majuin ya”

“Aaaaah… ssshhhttt… Ton aku juga mau keluar nih, bareng ya aaahhhh….” 

“Aaaahhhh…. ssshhhhttt…. oooohhhh….” kita keluar sama-sama 

“Ton hangat benar air mani kamu di dalam memek ku.”

“Memek ku rasanya gatal gatal enak… aku jadi pengen lagi Ton ” tapi saat itu Mr. P ku dah mulai lemes, tapi karena Ratna meminta lagi. Saya bilang untuk mengocok dan mengulum Mr. P oleh mulutnya. Akhirnya Mr. P tegang lagi setelah menerima perlakuan yang enak dari Ratna. 

“Ton kontolmu dah tegang lagi, masukin lagi yaaa” saya langsung nyuruh dia nungging dan saya dimasukin Mr. P lewat belakang.

“Ooohhhh… Ton… enak banget… kamu emang pinter… aaahhhh…. aku ga sia-sia ngorbanin keperawananku sama kamu, kamu memang hebat” saya langsung aja maju mundurkan dengan cepat dari belakang 

“Sssshhhhh…. aaahhh… ” plak….plak…plak pantat Ratna sama selangkangan aku ngeluarin bunyi. Berulang kali sambil tanganku menampar pantat Ratna, dan Ratna pun keasyikan tak merasakan sakit malah keenakan dengan saya menampar pantatnya itu

“Aaaahhh… ssshhhhttt… terusin Ton… oooohhhhhh enakkk ” kami melakukannya dengan berbagai gaya dan berulang-ulang, sampe-sampe Ratna nginep di kos an saya, dan paginya juga kita ML lagi sampe siang. Bener-bener membuat saya kecapean tapi mengasyikan. Kemudian hari-hari selanjutnya Ratna selalu meminta lagi perlakuan sex dari ku, kadang-kadang kita bolos dan langsung kekhostanku untuk ML lagi. 

Saat itu hari senin, aku di kos sendirian. Teman-temanku menjalani aktivitas masing-masing. Siang itu saya sedang asyik melamun di kamar mandi sambil membayangkan indahnya tubuh Lusi. Seiring dengan khayalanku yang semakin indah aku mulai mengocok-ngocok Mr. P ku dengan perlahan, busa sabun yang melumuri kontolku terasa nikmat sekali, gerakanku semakin cepat dan mencoba mencapai puncak kenikmatan secepatnya, Tapi karena hari ini aku sedang gak berapa mood, aku agak susah keluar, aku lihat kepala Mr. P ku sampai memerah… tapi tiba-tiba saja.. “Brakkk” pintu terbuka dan menyembullah wajah Poopy, aku kaget setengah mati, begitu pula dia sampai berteriak, Aku segera mencari celanaku, tapi sialnya karena pintu terbuka jelas aku nggak bisa mengambil celanaku yang berada dibalik pintu kamar mandi. 

“Poppy… kamu sama siapa…??? tanpa menghiraukan Mr. P ku yang masih ereksi,

“Ooowww….” jerit nya, tapi aneh nya dia masih berdiri dan kulihat pandangan matanya tertuju pada Mr. P ku yang masih mengacung menunjuk langit-langit. dan tanpa disangka-sangka dia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, 

“Ehh, kamu mau ngapain?” aku masih kebingungan atas sikapnya. 

“Kamu tenang aja Ton” kata Poppy. 

Dia langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan telanjang bulat didepanku, aku pun mulai menyadari keinginannya. Aku yang masih mengenakan baju langsung dilepaskannya dan Poppy langsung dengan liarnya menciumi seluruh tubuhku, tangannya langsung saja menggenggam Mr. P ku dan menarik-nariknya dengan keras. Sungguh nikmatnya luar biasa. 

“Ton, kontol kamu gede, bikin saya puas yah?” 

Akupun tak bisa tinggal diam, seluruh ilmuku selama ini segera kupraktekan. Aku mulai melumat bibir nya sambil tanganku bermain di kedua susunya yang membusung padat. Putingnya yang kecil dan kemerahan aku pilin-pilin, kadang aku usap perlahan, bibir dan lidahku terus menjalar menelusuri leher dan melumat kedua susunya yang montok. Poppy hanya mengerang pelan, seluruh bagian tubuh Poppy tak ada yang luput dari jilatanku, mulai dari jari tangan, leher, buah dada, perut, pinggul, pantat, Mrs.V nya yang lebat sampai paha dan jari kakinya aku jilat dan cium. 

Dan saat lidahku bermain di Mrs.V nya dia mengangkat sebelah kakinya ke bathub dengan begitu aku semakin leluasa menyedot klitoris nya dan memasukkan lidahku kedalam Mrs.V nya, Poppy meremas remas rambutku semakin kuat, sambil terus menjilat kedua tanganku meremas dan memilin kedua p uting susunya.

“Aaahhh… Tonnn…” rambutku terasa mau tertarik dari akarnya saat Poppy melepas orgasmenya yang pertama. Aku tak begitu perduli, aku terus menciumi seluruh bagian tubuhnya dan saat aku menciumi punggungnya, Mr. P ku terasa nikmat terganjal diantara belahan pantatnya yang besar, tapi mungkin Poppy sudah naik lagi nafsunya, dibimbingnya senjataku dari belakang, 

“Tekan Tonnn… aaahhhh…” aku langsung memajukan pingggulku dan Mr. P ku terasa memasuki lorong hangat yang sempit 

“Aaahhh…, enak Ton, terus yang dalam” Poppy semakin meracau sementara aku sendiripun merasakan nikmat yang luar biasa, jepitan Mrs.V nya terasa sekali meremas batang Mr. P ku,

Perlahan aku gerakkan pinggulku maju mundur, sementara tanganku tak tinggal diam meremas dan memilin puting susunya. Kian lama gerakanku semakin cepat, seluruh urat syarafku terasa agak kaku dan aliran darahku semakin cepat. Aku sengaja menahan hasratku, supaya aku gak cepet keluar sampai Poppy orgasme 8 kali dan mengalami berbagai macam gaya barulah aku mulai merasakan spermaku sudah terasa di ujung Mr. P ku, 

“Pop.. saya mau keluar” 

“Sebentar, Ton.. tahan” Dia lalu menggerakan pinggulnya kedepan sehingga Mr. P ku tercopot, dia langsung mengocok Mr. P ku dengan tangannya yang halus, sementara bibir dan lidahnya menggelitik ujung dadaku dengan rakusnya. Nafasku bagai terhenti saat dengan kuatnya dia melumat ujung dadaku dan mempercepat kocokan tangannya di Mr. P ku, akhirnya seluruh tubuhku bagai merinding dan bergetar saat spermaku terpancar dengan beberapa kali denyutan-denyutan kenikmatan di seluruh Mr. P ku. .

Kulihat Poppy tersenyum puas, 

“Ton, kamu termasuk hebat dalam urusan ini, besok-besok lagi, yah?” aku hanya mengangguk, dan tanpa banyak kata-kata lagi Poppy langsung mengenakan pakaiannya kembali dan meninggalkanku sendirian di kamar mandi. 

Saya menerima masukan dari siapa saja untuk membuat cerita saya makin erotis dan makin asyik dan untuk para wanita (single, menikah, tante, gadis, cewek) yang ingin bertukar pengalaman SEX / ML, denagn syarat kita harus saling jaga rahasia. Hubungin email saya gue_8989@yahoo.com; tapi kalau saya sedang ada waktu dan mood nya lagi bagus loh.

T A M A T

[ add to favorites | contact | kembali ]

Wah Indahnya

Wah Indahnya…

Pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada situs ini, aku dapat ceritakan pengalamanku dengan pacarku, yang selama ini belum pernah aku ceritakan sama siapapun ini rahasia Aku dan Pacarku saja. Aku tinggal di kota Bdg daerah dago usiaku saat ini 24 thun . katakan saja nama ku Dedi dan pacarku Rose

Ketika malam minggu aku datang kerumah rose yah seperti biasanya aku apel namun saat itu cuaca mendung ketika aku sesampainya dirumah rose hujanpun turun lebat wah untung aku dah sampai, dengan napas yang bersenggal-sengal karena berlari lalu ku ketuk pintu tok…tok..tok… terdengar suara di dalam sebentar….! lalu di buka gorden samping pintu eh…aa jawab rose dengan senyum manis sambil buka pintu dan bertanya ujan-ujannan a…? ia hampir aja ke ujanan, ayo masuk a’ ajak rose sambil pegang tanganku ayo duduk lalu kami duduk berdua di sopa, kami bercerita sana kemari, lalu tiba-tiba rose peluk aku dan mencium pipiku awalnya aku cukup kaget, namun barlahanlahan suasana tambah panas, rose bertubi-tubi cium pipiku sampai pada bibirku bibirku, aku gak tau yang terjadi dalam dadaku dag-dig-dag detak jantungku memicu cepat lalu ku ku dorong pelan ia he…Ose nanti ketahuan Mami..eh, aa mamikan lagi gak ada pada pergi ke jkt, jadi…kita be dua aja dirumah…! ak u bengong bercampur gembira, lalu aku lanjutkan awal dari ciuman lalu kuraba-raba buah dadanya yang padat berisi rose dengan napas tersenggal-senggal ia berkata a geli…i….sambil menggelum lidahku dengan gemes, tambah berani tangan ku ku masukan dalam bajunya dan ku buka BHnya berlahan setelah nampak lalu kuciumi buah dada yang putih dan indah ih….kurasakan ada mengganjal dalam ceranaku ternyata kejantaanku berdiri tegak kayak keram bercampur geli setelah 10 menit ku cium buah dada rose yang padat berisi berlahan ku buka baju dan BH nya kini tampaklah dua bukit yang kenyal depan mataku, wah….Indahnya Rosepun malu malu lalu ia arahkan mukaku pada dadanya, ia bertanya a’ apa enaknya sih….? gimana yah … gak tau sambil mengelus ngelus pahanya berpindah pada vaginanya yang masih tertutup celana hawai yang tipis, Rose tersentak kaget ah….geli a’ sambil mencium bibirku dan mengemutnya dengan perasaan yang melambung, dan ia mulai berani sentu kejantannku lalu ia mengelus-ngelus aku pun rasakan kegeliaan luar biasa…..!!!!

Sambil berciuman dan saling mengelus kemaluan, aku rubah posisiku ku hadapkan muka depan vagina yang masih tertutup hawai lalu ku cium dan kutiup-tiup rose terangsang luar biasa ssst ah iiiiii- geli………sambil menjambak rambutku dan mengigit bibirnya, lalu ku buka celananya yang tampak hanyalah celana dalam warna putih ku lelus dan kuraba-raba apa yang ada dalam celana ku masukan jari tangan ku ke dalam celana dalamnya kurasakan ada cairan yang mengalir dalam vaginanaya dan kurasakan juga ada bulu-bulu yang tipis, Rose makin keranjingan lalu ia menggoyangkan pinggulnya dan berusaha buka bajuku dan celanaku, kini tingallah celana dalamku yang tampak dan kejantannanku tang tegak berdiri a..emmh….kami besebelahan sambil beciuman dan saling mengelus kemaluan, gimana rasanya tanyaku…? geli tapi enak a’ dengan polos ia jawab a’ ..? apa jawabku…coba masukin jarinya ..aku gak tahan lalu cu masukan jari tengahku… sakit…a’ emmmh,,…sakit, emmmhhhhh ahhhh…… hhh lalu ku rubah posisiku kini ia berada di bawah aku di atas sambil kugesek-gesekan kejantananku ke vagina rose a’ ko ada yang mengganjal, aku jawab ia itu kemaluan aa yah uda aa masukan yah ia hanya diam saat menyentuh kurasakan keindahan luar biasa kayak berada di awan dan aku bertanya ini masuk gak..? rose jawab gak ini cuman mengesek aja sambil pejamkan mata kadang meronta menciumi bibirku, ssst…..a’ masukin aja…pintanya padaku… dengan wajah yang memelas,

Aa gak berani sayang dengan segera Rose merubah posisi kini aku ada di bawah Rose diatas ku pijat-pijat pantatnya yang padat ah …geli emmh a’ lalu ku buka celana dalamnya sambil ku pijat-pijat dan Rose bergegas buka celanaku lalu ia mengarahkan kejantananku pada vaginanya yang sudah basah bercampur keringat berlahan-lahan kurasakan ada yang berbeda dengan yang tadi sa…..ya…ng dengan napasku bersenggal-senggal di masukan yah tanyaku polos ia….sakit a’, lalu ia tarik kembali trus menekannekan pantatnya kurasakan ada yang robek didalam dan kurasakan bunyi tulang tulang dalam vagina rose dan aku juga rasakan geli teramat bercampur nikmat luar biasa…emmmh…sayang, dan akhirnya amblas semua kejantananku dalam vagina Rose..ah… sambil menahan sakit ia bertanya a masuk semua yah….? ia sayang aa geli..? selang satu menit ia angkat pantatnya dan manekan ber ulang kali kulihat buah dada yang saling beradu dan menyentuh dadaku akurasakan nikmat teramat melambung tinggi dan aku rubah sekarang Rose berada di bawahku lalu ku genjot dengan cepat clok…clok….clok…bunyi gesekan kemaluanku sssst…..ahhhhhh….sssssttt ah…a..a..h emmmh enak a terus a’ clok….clok…clok….clok….emmmh tiba-tiba rose meregang dan memeluk tubuhku yang kurasakan kenikmatan teramat sampai ke ubun-ubun otaku kayak yang kesemutan dan ah….rose melemas bagai tak bertulang a’…terasa gak Rose tlah keluar…..? ia lalu ku lanjutkan berlahan-lahan berubah jadi cepat lagi kini kurasakan ada yang mau keluar seperti mu pipis bercampur geli pada kejantananku lalu tidak lama kemudiaan ku cabut kejantananku dan crot..crot …crot ah……kini akupun melemas air maniku basahi perut dan buah dada rose…..!!! dan kamipun berpelukan sampai pagi. karena di luar hujan belum reda….

Itu pengalamanku yang terindah dalam hidupku dan itu terjadi hanya sekali dengan Rose karena tidak lama setelah kejadian itu ia pergi ke luar negri….sampai sekarang aku ke hilanagan dia….!!! dan aku tidak pernah melakukannya lagi….dengan siapaun. kritik, kenalan Dedi234@yahoo.com

Ulang Tahun Lina

Ulang Tahun Lina

Hei ketemu lagi ama Tomi.Aku tinggal di kota kembang dan Lina adalah ce-ku.Dulu ia ngekos di Bandung, sekarang semua keluarganya pindah ke Bandung. Tapi bukan dengan Lina yang akan kuceritakan sekarang.
Malam itu adalah hari ultah Lina yang ke 20.Dan sebagai seorang pacar yang baik, tentu saja aku hadir disitu.
Pestanya sendiri diadakan di rumahnya yang sedianya akan dimulai jam 7 malam, namun karena banyak gangguan, akhirnya baru dimulai jam 8 malam.
Singkatnya pesta berlangsung meriah seperti pesta ultah layaknya.Akhirnya pada jam 11 malam pestapun diakhiri atas permintaan ortu Lina mengingat banyak tamu yang harus segera pulang (tamunya kebanyakan abg sih).
Semua tamu harus pulang,termasuk aku.
Lucunya, setelah semua tamu pulang, ada seorang teman Lina (dari Jakarta) yang tertinggal.Namanya sebut aja Tasya.
Tingginya sekitar 165 cm-lah dengan berat sekitar 45 kg-lah.Gemuk ga yah?Kulitnya putih dengan rambut hitam sepunggung yang di-‘shaggy’ (bener kan nulisnya?).Dan yang paling menarik adalah pinggangnya yang ramping (kecil malah) tapi toketnya yang gede (mungkin sekitar 36 A) dan pantat yang bohay!Poko nya ToGePaSar-lah!Tau ga?TOKET GEDE PANTAT BESAR!!!Hehehehe
Karena aku tamu yang paling akhir pulang, yah dengan sangat ‘terpaksa’ aku harus mau mengantarnya pulang.Waktu itu Tasya nginap di sebuah hotel yang berada di lembang.Dia bilang nginep disana enak,dingin…lagian waktu itu hotel di kota full book semua.
Mulanya aku bilang kalau aku udah ngantuk bgt buat nganter Tasya ke hotelnya, tapi karena ngga enak ama Lina (Tasya adalah anak dari temen ibunya Lina di Jkt dan Tasya ‘keukeuh’ ga mau nginep karena takut ngerepotin) akhirnya aku mau juga.
Alhasil kami berangkat dari rumah Lina jam 12.05 malem.
Malem itu udara kota Bandung dingin bgt karena baru turun hujan.Sambil terus mendengarkan lagu-lagu R&B,aku terus mengemudikan mobilku sambil sesekali menguap.
“Tom,sorry ya udah ngerepotin.Sorry bgt.”kata Tasya memecah kesunyian.
“Ahh ga papa ko.Daripada kamu naek taksi,ntar kalo diperkosa, aku juga yg disalahin.Hehehe..”jawabku.Aku sendiri heran ko aku bisa ngelawak ‘kasar’ gitu ama Tasya, padahal aku kan baru kenal hari itu!
“Ga…abisnya udah malem bgt sih…lagian aku kan jauh nginepnya.Kalo sekitaran Dago sih masih berani pulang sendiri.”seru Tasya lagi.
“Ya udahlah…tapi kalo ogut ngantuk, kamu yang nyetir yah…hehehe”,kataku.
“Boleh, tapi palingan nyampe nya ke Boromeus, bukan ke hotel.UGD lagi!Hihihi!”,serunya ngocol.
Buset, nih anak gokil juga.Untung bukan gue yang sompral.
Dari yang asalnya cuman sindir-sindiran akhirnya aku mulai berani colek-colekan.Dari yang asalnya colek tangan… terus ke pinggang…terus ke toket(walaupun secara gerak cepat…takut ketauan Lina siihhh).
Tasya kadang-kadang ngehindar tapi kadang-kadang dia diem sambil berlaga kaget.
Hujan rintik-rintik mulai turun waktu aku nyampe ke cihampelas.Ketika lewat ke sebuah diskotik, kami melihat banyak ce dengan baju yang seksi sedang berlalu-lalang.
“Wah…ini diskotik SE itu yah?Katanya ada tempat karaoke juga di dalamnya yah?”tanya Tasya.
“Ahh ini sih cuman tempat dugem doang.Kalo mau karaoke-an mah ya bukan disitunya…”
“Emang dimananya?”
“Ya… di mobilnyalah!”,jawabku sekenanya.
Sejenak Tasya memandang heran padaku,lalu kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Ihh…jorok lo!!!”
Lama juga Tasya diem,kaya mikirin sesuatu.
“Emang lo pernah ya?”,kata Tasya tiba-tiba.
“Ih..ya belomlah!Ntar keliatan orang gimana?Gila apa!”,seruku sewot.
“Kalo gue mau gimana?”,tantangnya.
“Yeeeee…mimpi kali yeee…!”,jawabku sedikit kaget juga, antara beneran ama ‘bluffing’.
“Ga berani yah?Hihihi…padahal kaca pilm lo kan gelap!”,katanya lagi.
Buset!!!Aku baru inget kalo malem itu mobilku masih di bengkel dan aku pake cherokee punya papap yang kacanya gelap abissss…
“Oooo jadi nantangin yah…Oke deh, tapi with one condition.”,aku mulai bluffing.
“Apaan?”
“Jangan sampe Lina tau.OK?”
“As you wish!”
Tasya langsung senyum-senyum sendiri.Tangannya mulai gerayangan di pahaku.Aku sih (pura-pura) cuek aja, soalnya masih belom yakin kalo Tasya emang berani bj in the car.Dengan perlahan jemarinya mulai bermain meremas penisku. Mulai dari batangnya hingga ke bijinya. Penisku-pun mulai mekar, hampir ke ukuran maksimal.Sampai sini aku masih belom yakin dengan niat Tasya, walaupun hatiku mulai tambah deg-degan.Kupelankan mobilku sambil terus memperhatikan jalan.
“Ih…ko jadi pelan???Kaget ya…”,godanya sambil terus meremas pelan penisku.
Aku cuman nyengir mendengarnya sambil memindahkan persenelling ke gigi 2.
Shit!!Jarinya mulai menarik reslettingku!!Lalu tangannya bergerak cepat masuk untuk ‘membebaskan’ penisku.Sedetik kemudian tangannya ditarik untuk membawa penisku keluar!!Man…it so wonderfull!!
“Hehehe…udah makin keras ya…Ready for the next action?”,tanyanya dan tanpa memberiku kesempatan untuk berpikir…Plup..Mr P udah berada dalam mulutnya.
Sekali lagi : Shit!!Aku yang kaget membuat mobilku oleng kekanan.Mobil dibelakangku yang hendak menyusul langsung membunyikan klakson sehingga aku harus sedikit menepi untuk memberinya jalan.
“Mmmm…shlowwlyy…”,katanya ga jelas sambil tak lepas kulumannya.
Wow…rasa aneh mulai menggelitik di selangkanganku. Antara takut dan nikmat menjadi rasa kurious yang amat sangat. Takut karena banyak mobil lain disekelilingku yang mungkin saja memperhatikanku. Membuat kurious akan reaksi selanjutnya yang akan terjadi. Nikmat, udah pasti karena Mr P-ku berada dalam kuluman hangat seorang gadis cantik seperti Tasya.But what the hekk!!
Makin lama jalanan ke arah Lembang makin menanjak. Hujan gerimis belum reda pula. Persenelling tak pernah lepas dari gigi 2.Tasya masih asik dengan aktifitasnya. Rambutnya sudah acak-acakan. Tangan kirinya masih menggenggam Mr P, dan mulutnya terus maju mundur menghisapnya.Tiba-tiba tangannya yang kanan menarik tangan kiriku menuju toketnya. Mengerti keinginannya, segera ko rogoh kutangnya (waktu itu Tasya pake baju tank top)lalu kuremas susunya pelan. Lalu ku pilin-pilin putingnya yang udah tegang walau sedikit kagok.Ia sempat berhenti sejenak untuk menikmatinya lalu melanjutkan aktifitas kulumannya lagi.
Hebatnya, makin lama Tasya malah makin buas.Aku sempat, curiga jangan-jangan Tasya adalah seorang ‘pro’.But who cares anyway!!!
Makin lama makin terasa hangatnya Mr P ku dalam kuluman Tasya. Walau awalnya sulit (karena baru pertama), akhirnya mulai terasa aliran hangat di ujung selangkanganku yang terus naik.Apalagi ketika Tasya mendiamkan mulutnya sehingga Mr P-ku tertelan habis.Wow!!
Akhirnya sambil meremas toketnya, aku tumpahkan spermaku kuat-kuat di dalam mulutnya.Entah berapa kali kedutan yang kurasakan melepas spermaku.Bahkan kedutan itu terus terasa padahal spermaku udah abis terkuras.Mengetahui hal itu, Tasya bukannya langsung melepas kulumannya dari penisku, ia terus saja melakukan oral sehingga aku geli setengah mati.
Baru kemudian ia bangkit sambil merapikan rambutnya dengan mulut yang masih penuh oleh spermaku.Ia tersenyum sambil memandangku dan membuka sedikit mulutnya.Huekk…sperma gue doang tuh!!!
Tiba-tiba di balik tikungan, sinar lampu mobilku menerangi jalanan yang dipenuhi oleh polisi!!Shitt!!!Razia!
Tasya yang melihat itu ikutan panik. Tanpa sengaja..glek!Habislah sperma itu ditelannya.
Sempat kulihat wajahnya panik sambil tangannya meraba-raba mencari botol air mineral disampingnya.
Aku segera meminggirkan mobilku karena perintah polisi.
Sambil berusaha tetap tenang, aku bukakan kaca jendela setengah.
“Selamat malam.Tolong SIM dan STNK -nya,dik!”,kata polisi itu.
Segera kukeluarkan surat-suratku dan kuberikan padanya.
Setelah memeriksa sejenak lalu diberikan lagi padaku.
“Tolong KTP anda,Nona”,katanya lagi.
Ups..aku melirik Tasya yang masih meneguk air mineralnya.Lalu ia membuka dompetnya dan menyerahkan KTP tsb.Kulihat tali tanktop nya masih belum rapi.Hihihi…rasain!
Setelah meneliti sebentar, lalu KTP tsb dikembalikan dan beliaupun mengijinkan kami untuk terus.
Setelah lewat beberapa meter dari lokasi razia, akupun tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha…Kamu sadar ga kalo tadi tuh posisi tali tanktop kamu belom bener???Mana rambut acak-acakan lagi!!Hihihi”,kataku terpingkal.
“Emangnya celana lo udah diresletting!!”,jawabnya sambil minum lagi.
Shitt!!!Gue lupa!!!

Tepat jam 1 malam kami tiba di hotal tsb.Hotel besar yang indah (kalo ga salah bintang 5 kali yeee).
Suasana kami berdua udah balik lagi seperti awal.Hangat tapi rada-rada horny!!Hehehehe.
Karena ngantuk dan lemes (udah beraktifitas berat), Tasya menawarkanku untuk minum kopi sejenak di kamarnya. Ya udahlah…daripada celaka di jalan,pikirku.
Masuk ke kamarnya Tasya segera memesan segelas kopi pahit dan pamit untuk mandi.Aku menunggu sambil tiduran di bed yang menghadap ke tv.Tak terasa aku ketiduran.
Baru sejenak kurasakan, tiba-tiba ada yang hangat diselangkanganku.Dengan susah payah kubuka mataku, dan kulihat di bawah Tasya dengan tubuh bugil sedang meng-oral penisku!!Aku yang surprise memandang sekeliling kamar berusaha untuk mengenali tempat itu dan siapa gerangan yang ada di bawahku itu!!
Setelah kumpul semua roh-ku,aku berusaha untuk bangkit.Tasya yang daritadi memperhatikanku tidak berusaha untuk menghentikan aktifitasnya.Kulihat setengah tubuhku udah bugil,entah kapan ia membuka celanaku.
Merasa udah tegang maksimal, tiba-tiba Tasya meloncat ke pangkuanku dan langsung mengarahkan penisku ke lubang vaginanya yang telah basah.
“Tom, sekarang giliran gue!!”,serunya sambil langsung menduduki penisku.
Aku yang kaget segera menangkap pinggangnya yang ramping menahan tubuhnya yang terus memompa sambil mengerang-erang.
Di hadapanku, toketnya berayun ke atas ke bawah ke kiri ke kanan tak beraturan.Segera ku sergap yang kanan dengan mulutku sambil kugigit-gigit kecil.
“Yeaaahhh…Tom!!Terus!!Tapi jangan sampe nge-bekas ya!!!Ughhh…”,racaunya sambil menekan kepalaku.
Waahh…takut ketauan co-nya kali yeeee!!
Dari pinggang, tanganku turun menyusuri tubuhnya ke kedua bongkahan pantatnya. Kuremas-remas dengan keras (lupa kalo jangan sampe nge-bekas) sampe merah.Tasya makin mempercepat gerakannya dan tekanannya makin intens.
Perlahan jariku turun kearah anusnya.I got an idea!!Kumasukkan telunjukku ke mulut Tasya lalu setelah basah ku masukkan ke dalam anusnya secara perlahan. Mulanya Tasya menolak, tapi kelamaan ia tak peduli dan makin intens dengan gerakannya.Jariku terus mengorek-orek anusnya.Pantatnya udah basah oleh keringat yang dapat kurasakan asin karena juga mengaliri toketnya.
Tiba-tiba tubuhnya melenting lalu dengan cepat merangkulku sambil tangnnya menjambak rambutku.Kurasakan vaginanya semakin banjir disertai rintihan yang melepas orgasme pertamanya.
Beeuuhhh..keren banget!Tubuhnya yang basah dan bugil berkilap-kilap ditimpa cahaya lampu tidur, sementara rambutnya yang sedikit basah sebagian menempel di keningnya yang juga basah.Vaginanya masih berkedutan dimana tertancap penisku di dalamnya.Matanya setengah terpejam dan giginya menggigit bibir bawahnya dimana jarinya tertancap di kedua bahuku.
Kubiarkan sejenak sambil mengelus-elus rambutnya…
“That’s so great i’ve been waiting for…”,lirihnya.
“Specially for you, my dear…”,kataku pelan juga (supaya romantis).
“Ready for the next action ?”,tanyaku refleks mengucapkan dialog itu.
Tanpa menunggu jawabannya segera kubalikkan tubuhnya sehingga ia terpekik kaget.Kutindih vaginanya sambil membenamkan penisku. Lalu kupompa dengan cepat dan ganas.
Tasya sepertinya hendak protes, tapi sejurus kemudian ia mulai dapat mengikuti irama.Pada saat itu lah kemudian kuganti lagi posisi dengan doggy style. Matanya melotot protes dan mulutnya membuka setengah sambil menghadap ke belakang. Segera ku sumbat dengan mulutku dan kuhisap dalam-dalam.Tangan ku yang kiri meremas toketnya dari belakang.Kulihat punggungnya yang putuh berkilap-kilap dan butiran keringat berlarian di atasnya.Lalu ku tegakkan badanku dan meremas kedua bongkahan pantatnya.Kulirik Tasya hanya bisa merintih sambil menggigit bibir bawahnya.Kedua tangannya tidak punya pilihan lain selain menopang badannya.
Kukorek anusnya dengan jari basahku. Tasya menengok ke belakang sambil mengucapkan kata-kata yang ga jelas.Antara marah dan tidak tampaknya.
Aku masih mempermainkan jariku di anus dan tiba-tiba kulihat Tasya mengerang sambil menarikku untuk memeluknya dan meremas toketnya.Aha!!Anus is her G-spot!!
Orgasmenya yang kedua kurasakan lebih lama dan banyak.Pantatnya terus ditekankan ke penisku,padahal udah mentok.Mulutnya lama menghisap mulutku dan tangan kirinya meremas pantatku dari belakang sementara tangan kanannya menopang tubuhnya.
Setelah reda, segera ku ganti ke posisi konvensional.Kulihat di ujung matanya ada butir air mata.Nangis atau kelewat nikmat ya?
Kutarik kaki kanannya sehingga menyilang di hadapanku.Dengan begini kurasakan vaginanya menjadi lebih sempit.Setelah itu kedua kakinya kuangkat dan kugantungkan di bahuku sehingga panisku bisa merangsek lebih dalam lagi.Matanya merem melek dan dapat kurasakan bahwa ia kelelahan.
Aku tak dapat menahan lebih lama lagi.Rasanya spermaku sudah siap membludak dari penisku.Segera kupercepat genjotanku sambil bertanya :
“Yang,aku udah mau ngecret nihh…Diluar ato di dalem?”
Tanpa menjawab tiba-tiba Tasya segera bangkit sehingga penisku terlepas dari vaginanya.Aku hampir ‘ilfil’ karenanya.Sperma yang siap ditumpahkan seakan surut sesaat.Namun Tasya segera menangkap penisku yang udah ‘full ereksi’ lalu segera meng-oralnya!!
Shitt!!Ce ini penuh kejutan rupanya!
Spermaku yang sempat macet, seakan mengalir kembali.Apalagi saat Tasya menghisap kuat penisku sambil memijit-mijit kedua bijiku.
Tak tahan lagi, segera kutekankan kepala Tasya ke selangkanganku.Mau mati keabisan napas (ato bau keringat) juga sebodo amat!!
Spermaku kurasakan menyembur bagai air bah.Seakan tak berhenti-henti menyemprotkan spermanya (padahal setelah itu baru disadari kalo kita ga menyemprotkan sperma sebanyak yang kita bayangkan).Pijatan di kedua bijiku membuat spermaku semakin lancar keluar dan langsung ditelan…lan oleh Tasya!!.Masih kutekankan penisku ke mulut Tasya sampai akhirnya ku biarkan karena lemasnya tubuhku,sedangkan Tasya,sekali lagi, masih asik mengulumi penisku yang mulai mengecil.
“Uuuhhh…Tasya,U R the best!!”,pujiku sambil membelai rambutnya.
“Oh yeaahhh???Hebat mana ama Lina?”,tanyanya sambil melepas kulumannya.
“Ah don’t mention her name right now!!Or I will tell your boyfriend!!”
“So be it!!Jadi dia bisa putusin gue dan gue bisa jalan ama lo!!”,katanya.
Sekali lagi,beneran ato bluffing.But i don’t want to take a risk now.
“Jangan gitu dong…aku kan ga bisa putus segampang ini ama Lina!”
“My boyfriend is a jerk!!Dia ga bisa ngewujudin the wildest dream gue!!Di-oral di mobil…ga berani!!Maen di anus…ga mau!!!Posisinya juga konvensional mulu!!”,katanya sambil tertunduk.
“Well…kita ga boleh nge-judge seseorang cuman dari kekurangannya aja dong,tapi dia juga pasti punya banyak kelebihan kan”,kataku so alim tapi ‘ngambang’ gitu.
“Anyway gue pasti putus ama dia,tp selama gue belom dapat gantinya…lo mau kan muasin gue??Gapapa deh gue jadi slingkuhan lo, poko nya gue bakal keep silence dehh…”,katanya sambil tersenyum.
“Kalo itu sih,lain masalah…kata orang juga: ‘Perkuat di pusat, perbanyak di cabang!’Bener ga?”,kataku sambil meremas kedua toketnya.
“Ihh dasar lo mah emang udah bajingan ya!!!Nakal!!”,seru Tasya sambil pura-pura mukulin dadaku.

Sejak itu, Tasya putus ama pacarnya dan kami beberapa kali kencan sembunyi-sembunyi sampai Tasya jadian sama pacar barunya.Banyak wildest dream Tasya yang sempat kami lakukan, kaya ML di jalan tol,atau handjob di bioskop sampe main di anus (with condom,absolutelly!).
Saya ga tau apakah sekarang pacar barunya udah bisa satissfied Tasya seperti yang dia mau,tapi 1,the wildest dream yang dia ga akan pernah bisa lepasin, yaitu…ML ama co temennya!!
Well,that’s lucky me (that Lina is her friend) and don’t ever broke with her, that what she likes a lot!!
See U in my next experiencess!!

Tukang Lulur Nikmat

Tukang Lulur Nikmat
Mei 26th, 2007
Kring…, kring…!, Telepon di ruang kerjaku berdering. “Hallo, pap. Mamah pulangnya agak malam, Istri pemilik usaha ini, minta di temani jalan.” Dan bla-bla-bla, istriku ngoceh terus. Tapi yang penting buatku, katanya dia tidak enak dan kasihan sama Bu Eka (tukang lulur). Daripada ngebatalin, ya udah…, akhirnya aku yang menggantikan istriku luluran.
Jam 04.00 sore aku sampai di rumah. Rupanya Bu Eka belum datang. Jadi aku sempat makan sedikit.

Belum habis makanannya, Bu Eka sudah berada di muka pintu gerbang. Karena sudah biasa, dia langsung masuk dan membereskan kamar olah raga (biasanya di pakai istriku untuk senam dan luluran). Sebelumnya pembantuku, Ning namanya sudah aku beritahu, kalau istriku tidak luluran, yang luluran aku. Sambil membawa air putih, pembantuku menyampaikan, kalau Bu Eka sudah menungguku untuk luluran.
“Sore Bu…”, sapaku sambil membuka baju dan celana panjang. Tinggal memakai celana dalam saja. Mestinya seperti istriku, kalau luluran tidak memakai apa-apa. Tetapi karena aku cowok dan baru kali ini luluran, tidak enak juga rasanya, kalau ikutan polos. Bisa dibilang baru kali ini aku ngobrol banyak dengan Bu Eka. Katanya, dia sudah lama menjadi tukang lulur. Kira-kira 10 tahun dan menjadi tulang punggung keluarga. Dia bercerai dengan suaminya sudah 5 tahunan dengan menanggung 2 anak remaja. Sambil tiduran (karena di lulur), aku perhatikan Bu Eka. Umurnya kira-kira 45 thn. Kulitnya putih (turunan chinese), tingginya kira-kira 165 cm, beratnya 60 kg, dan berwajah menarik. Sekali-kali Bu Eka menunduk, sambil menggosok badanku dengan lulur, wah…, tangan Bu Eka ini termasuk lembut juga. Mungkin karena tiap hari ngelulurin, jadi lembut kali. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bu Eka memiliki payudara yang besar. BH-nya berukuran kira-kira 38D. Sampai-sampai brung di bawah pusarku bergetar, terangsang. Ingin rasanya memasukkannya ke dalam lubang kemaluan Bu Eka. Tapi aku tidak mempunyai keberanian untik itu, takut ketahuan istri, bisa gawat! Sambil nyoba-nyoba aku pancing-pancing Bu Eka.
“Bu…, pernah nggak ngelulur laki-laki?”, sambil bertanya aku sibakkan celana dalam. Maksudnya supaya dia ngelulur juga selangkaanku.
“Sering Pak, Malah ada anak remaja, beberapa langganan saya suaminya juga sering luluran”.
“Nggak malu Bu? Kalau sampe ada yang buka celana, trus ibu pasti liat barang terlarang khan?”, Coba-coba kupancing dia. Nah…, kelihatannya dia sudah mulai terbawa suasana hot.
Sambil ketawa dia bilang, “Ya…, nggak dong Pak, khan ngeliat aja, nggak di apain, paling dipegang aja”. Nah…, feelingku mulai merasa ini bisa dimainkan juga. Pikiran kotorku mulai beraksi.
“Kalau gitu, saya buka celana dalamnya ya…, bu? Biar bisa di lulur di selangkangan, kan dakinya banyak di situ”. Tanpa banyak ba.., bi.., bu.., celana dalam kulepas, kini aku bugil di depan Bu Eka, dengan penisku yang mendongak ke atas. Berdiri tegak dengan jantannya. Kulihat ekspresi mukanya sedikit, entah kaget atau takjub, melihat penisku yang besar dan panjang.
“Lho…, kog? Udah gede…, Pak, adik kecilnya” katanya, tapi matanya tetap tidak berkedip memandang penisku. Mulai terbakar birahinya.
“Wah…, ini sih belum apa-apa Bu, kalo dipanasi bisa tambah greng lho?, kataku sambil tangannya kupegang dan aku letakkan di atas penisku. Tapi Bu Eka bukannya mengelak, malah tangannya mulai memain-mainkan penisku. Gila…, acara lulurannya jadi berubah..! Tangan Bu Eka benar-benar lembut dan halus. Di mainkannya kemaluanku dengan mesranya. Diremeess, diusap-usap, sedikit kocokan…, membuat kepala penisku kian membesar. Kulihat juga Bu Eka makin terangsang.
“Aah…, mhemm…”, Tidak kusia-siakan kesempatan ini, kulepas tangannya dari penisku, langsung kumasukkan ke mulut Bu Eka. Bibir seksinya mencium dan mulai mengulum penisku, “Whooom…, ooopp…, whoomm…, whoop…, ooopp!” Bunyi mulutnya tatkala mengocok penisku.
“Besar sekali… Pak, sampe nggak muat ke mulut saya”, Sambil senyum Bu Eka kembali beraksi. Masuk…, keluar…, maju…, mundur…, penisku masuk ke mulut Bu Eka.
“Uuhh…, ooohh…, nikmat skali…, Bu…, trus…, Bu…, aduh…, nggak tahan saya!”
Aku benar-benar merasakan kenikmatan. Aku tahan spermaku yang mau keluar, aku ingin keluar di dalam lubang vaginan Bu Eka. Sambil aku tahan, Bu Eka makin menjadi-jadi memainkan penisku di mulutnya. Mulai aku buka bajunya, kupegang payudaranya yang besar, kuremas dengan lembut, Bu Eka tambah terangsang. Dari rintihan kecilnya, aku tahu, dia sudah dibawah kendaliku. Aku maki bernafsu…, dengan bangun pelan-pelan, kulepas bajunya sambil bibirnya dan big boobnya kucium, aku dan Bu Eka seperti lepas kendali…, saling cium…, peluk. Badanku yang masih berisi lulur menambah hangatnya pergumulan. Payudaranya yang besar menempel di badanku. Bergetar nafsuku.
“aah…” Bu Eka sedikit mengerang, sewaktu payudaranya kucium dan kugigit-gigit. Posisinya sekarang di bawah, telentang! Dari payudaranya kutelusuri (aku jilati) perutnya “cup…, csrut…”, lidahku mulai bermain. Semua detial payudaranya kucium, kujilati…, meluncur ke bawah, perutnya…, ke bawah lagi…, waah…, luar biasa…, bau badan Bu Eka begitu harum. Tinggal selangkah lagi lidahku bermain, hingga kutemukan bulu-bulu halusnya yang menyembul dari celana dalamnya. Sedikit usaha terlepas sudah celana dalamnya. Kelihatan bulu-bulu hitam menyembul makin lebat. Aku melongok ke bawahnya, bulu-bulu hitamnya kusibakkan…, terlihat lubang kenikmatan yang berwarna merah muda menantang. Aku tidak tahan! Kujilati semuanya…, bulu-bulunya…, clitorisnya…, lubang vaginanya. Sisi-sisi vagina Bu Eka memang sedikit keluar, aku hisap, “Sruuup…, cuuupp…” semuanya!
“Aahh…, Oooh…, aduh nggak tahan…, Pak..!” Erangannya menambah nafsu liarku, tidak henti-hentinya kujilati vaginanya dan clitorisnya aku kulum, kugigit-gigit kecil, sampai akhirnya, “aah…, aduh…, saya keluar..”, sambil berusaha duduk menghadap ke arahku. Akupun langsung berdiri. Kuarahkan penisku ke arah bibirnya, “Slup…, mhom…”, dikulumnya sekali lagi penisku.
“Oooh…, bagus Bu…, trus masukin semuanya…, hisaap…, Bu..” kulumannya membuatku semakin mabuk kepayang. Dari ujung penis hingga ke biji pelerku semua bersih…, dihisep…, dikulum…, masuk…, keluar, “ooohh….” Karena kita sudah makin memuncak, aku tarik penisku, kucium Bu Eka sambil tiduran, kakinya menjulur ke bawah tempat tidur. Pahanya kubuka, lubang kenikmatannya sedikit terbuka.
Pelan tapi pasti penisku mulai masuk, “Bleeep..”, sedikit basah…, Sreet…, bleeep…, penisku maju mundur menembus lubang kenikmatan Bu Eka. Semakin lama semakin dalam aku benamkan penisku, hingga menembus bagian dalamnya…, cairan Bu Eka makin banyak keluar.
“Oohh…, saya keluar…, pak!”, Sambil badannya mengelinjang orgasme. Aku benar-benar seperti kuda liar, lepas kendali. Aku suruh Bu Eka nungging, lubang pantatnya kelihatan jelas, aku gosok-gosokan penisku di lubang duburnya, sambil penisku turun ke bawah mencari lubang kenikmatan Bu Eka. Kuintip lubang vaginanya, gila! Bagaikan sumur dalam yang tidak ada ujungnya.
“aahh…, aduh…, Pak..? Bu Eka menjerit kecil. “Sreeet…, bleeep…, penisku masuk ke lubang vaginanya. Lalu kupompa Bu Eka…, “Bleepp…, sreet..”, bunyi penisku dan vagina Bu Eka, bersatu padu.
“Aahh…, ooohh…, keluar…, Bu…!” Bersamaan dengan air maniku keluar, Bu Eka juga mengerang, “aahh…”. Crooot…,crot! air maniku keluar dari dalam lubang Bu Eka. Hangat…, penisku masih terbenam. Terasa disedot. Bu Eka sengaja memainkan lubangnya, sambil berbalik memciumiku, kupeluk Bu Eka, Mesra!
Jam 09.00 malam istriku sampai di rumah, diantar sopir kantornya. Panjang lebar dia cerita tentang kegiatannya dengan ibu pemilik perusahaan. Sambil muji badanku, “tambah putih dan bersih lho…, Pap…? Pinter ya…, Bu eka ngelulur.” Aku hanya mengangguk saja, no comment! Padahal dalam hati, pikiranku melayang membayangkan lubang Bu Eka!

Tik

Tik.. Tik.. Tik.. Bunyi Hujan Di Atas Ranjang

Sore itu aku baru saja mengantar istriku Ine piknik ke Bali bareng-bareng murid SMU dan teman-temannya sesama guru. Aku antar sampai bis berangkat menuju Bali diiringi lambaian tangan istriku tercinta. Sebelum berangkat istriku berpesan agar segera mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada istri kakaknya, yang berarti adalah kakak iparku juga yang bernama Arti. Walaupun cuaca agak mendung, tetapi kuantarkan juga uang itu kepada kakak ipar istriku. Sampai di sana ternyata sepi, nggak ada orang dan pintu rumah tertutup rapat. Ku ketuk pintu rumah “ Dok…dok…dok…..kula nuwun”, sapaku. Nggak ada jawaban. Berulang-ulang kuketuk pintu juga nggak ada jawaban. Akhirnya iseng-iseng pegangan pintu ku dorong, ehhhh..ternyata pintu nggak terkunci. Teledor benar kakak iparku ini, begitu pikirku. Aku masuk ke kamar tamu, sepi. Sayup-sayup ku dengar suara gemercik air di kamar mandi belakang. Segera aku ke sana dan menyapa kakak iparku. “Mbak…mbak”sapaku agak keras, karena suara air mandipun keras juga. “Siapa itu ?” jawab dari dalam. “Aku….Unang”jawabku. “Ada apa…”tanyanya lagi. “ Ini mbak aku disuruh Ine mengembalikan uang yang dipinjam kemarin” jawabku. “ Ya…tunggu sebentar” jawab mbak Arti dari dalam kamar mandi. Akhirnya aku duduk-duduk di depan TV sambil menonton acaranya. Lima menit berlalu, sepuluh menit, limabelas menit sudah aku menunggu, ternyata mbak Arti belum juga kelar acara mandinya. Iseng-iseng aku bangkit menuju kamar mandi dan mencoba melihat dari luar apa yang sedang dilakukan kakak iparku ini. Waah……ada lubang kunci, itu cukup buatku untuk mengintipnya. Deg..plasss….jantungku seakan rontok melihat pemandangan yang belum pernah aku saksikan. Kulihat kakak iparku ini sedang menggosok-gosok badannya dengan sabun mandi sambil duduk di pinggir kamar mandi dengan kaki mengangkang. Terlihat jelas di mataku, karena posisi duduknya menghadap ke pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat memerah, matanya tertutup rapat dan bibirnya menganga sambil sesekali mengeluarkan erangan halus, ahhhhgg….ahhhhhg….ssshh. Kulihat payudaranya ranum banget, walaupun agak kecil, putingnya merah dan menegang, indah sekali. Pandangan ku alihkan ke bawah. Srettt…darahku mendidih seketika, karena pussy-nya terlihat sangat bagus, seperti mawar merah yang sedang merekah, yang sekelilingnya dihiasi dengan bulu-bulu halus membentuk lingkaran di sekitar mulut luar dan sekitar perut. Mbak Arti terus menggosok payudara dan pussynya sambil pantatnya bergoyang-goyang. Diantara keluarga kami, mbak Arti ini mempunyai pantat yang paling bagus, padat dan besar, tetapi serasi dengan bentuk tubuhnya. Ohhh. Rupanya kakak iparku ini sedang masturbasi. Aku tak begitu saja menyia-nyiakan kesempatan ini. Kuteruskan kegiatanku mengintip. Pantat mbak Arti semakin bergetar keras ketika jarinya menyentuh klitoris yang menyembul di antara pussy-nya. Digosoknya pussy-nya dengan gerakan memutar seirama dengan goyangan pantatnya. Mungkin sudah klimaks, karena kulihat mbak Arti mengejang dan meluruskan kakinya sambil menciumi ketiaknya sendiri. Khawatir ketahuan aku segera berjingkat-jingkat menuju depan TV dan kembali duduk.Pura-pura membaca Koran yang ada di depanku. Jegleggg….pintu kamar mandi dibuka. Kakak iparku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster tipis tembus pandang, hingga membuat tenggorokanku kering menahan gejolak seksku yang kian meninggi. Tetapi aku pura-pura acuh dan bertanya “Mas Dwi pergi ke mana to mbak”tanyaku basa-basi. “ Masmu baru penataran di Ungaran selama 3 hari, tadi siang baru berangkat, mbak mengantar sampai terminal” sahutnya. Wahhh…duda ketemu janda nich, pikirku. “Ini mbak titipan dari Ine, mohon maaf karena baru sekarang baru bisa ngembali’in” kusampaikan permintaan maaf istriku sambil memberikan amplop berisi uang “ Ah..nggak apa-apa “ sahutnya. Baru berbincang-bincang sebentar, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seakan-akan mengguyur bumi ini. “ Waduh…hujan “ kataku memecah suara hujan yang jatuh di atas genting. “ Ya berteduh dulu to di sini, nggak usah sungkan, wong di rumah saudara aja. Sebentar mbak buat’in minuman hangat “ sahutnya. Mbak Arti berjalan ke dapur. Cleguk….aku menelan ludah karena kulihat pantat mbak Arti bergoyang ke kanan dan ke kiri, seakan-akan menantang setiap lelaki untuk menjamahnya. Kulihat terus setiap gerakan tubuhnya dengan seksama. Darahku seakan berhenti ketika kakak iparku ini mengaduk minuman di gelas. Seluruh tubuhnya bergoyang, payudaranya, perutnya, pantatnya pokoknya syuur banget. Tiba-tiba dia lari dari dapur menuju ke arahku dan memelukku erat-erat sambil berteriak, “ Dik Unang, kakak jijik lihat kecoa di dekat gelas itu “, katanya sambil menunjuk ke arah dapur. “ Tenang mbak, tenang, ayo kita bunuh kecoa itu “, sahutku sambil tetap memeluk kakak iparku itu dan berjalan menuju dapur. Dengan sebuah gagang sapu, kubunuh kecoa itu dan kubuang ditempat sampah, tetapi anehnya kegiatan itu kulakukan dengan tetap berpelukan dengan kakak iparku itu. Jantungku mulai berdetak sembarangan. Nafsu mulai naik ke ubun-ubun. Tiba-tiba kedua mata kami beradu pandang, lama sekali sambil nafas kami terengah-engah. Sementara hujan berubah menjadi rintik-rintik, mendukung suasana menjadi dingin dan sepi. Nggak sadar, entah siapa yang memulai, bibir kami saling berpagut, hangat. Kulumat bibir kakak iparku itu dengan penuh nafsu. Sekali-sekali kugigit bibirnya dan kumainkan lidahku di atas langit-langit mulutnya. Nafsu seks sudah mengasai kami berdua. Aku tahu itu tidak boleh, tetapi kami nggak kuasa untuk menghentikannya. Kami semakin tenggelam dalam birahi. Kini leher jenjang kakak iparku menjadi sasaranku berikutnya. Kuciumi dan kujilat sepuasnya. Hampir saja aku mencipok lehernya itu, kalau tidak ditepis oleh kakak iparku itu dan memprotes, “ Jangan dik…nanti membekas “, larangnya. Kemudian kujilat kuping belakang mbak Arti sambil kubisikkan sesuatu. Ia mengangguk. Sambil masih tetap berdiri di pinggir wastafel dapur kulepas pakaiannya satu per satu. Hingga kini tak selembar benangpun melilit tubuhnya. Kupandangi tubuh indah itu sampai lama, hingga lidahku tahu-tahu sudah memainkan puting payudara yang sudah memerah tegang itu. Pelan-pelan kaki kanannya ku angkat dan kuletakkan di pinggir wastafel itu. Jemarikupun refleks memainkan bulu-bulu halus di sekitar pussy-nya. Kudengar kakak iparku melenguh-lenguh tanda terangsang. “ Ahhhh….ouuuhgh…….sssshhhhhh…..nikkkkmaaaattt.. terussss…..”. Dengan penuh nafsu serangan kuteruskan dengan lidah di bibir pussynya yang sudah basah oleh cairan hangat itu. Kujilat –jilat mesra sambil sesekali menggigit bagian dalam bibir pussy itu. Rupanya seranganku membuahkan hasil. Mbak Arti bergetar keras dan mengajakku pindah ke sofa. Kami duduk berpangkuan sambil terus melakukan kontak seksual. Kini giliran Mbak Arti yang gantian menyerangku. Dicopotinya semua pakaianku. Ia sempat terbelalak begitu melihat peny-ku. Entah apa yang dirasakannya. Yang jelas ia langsung melahap peny-ku sampai habis. Diisap-isap, dikocok-kocok dan dijilati sampai puas. Gantian aku yang menggelinjang hebat, karena terus terang aku sudah terangsang ketika aku mengintip kakak iparku ini mandi. “ Mmmmhhhh…..srup…..srup…” peny-ku dihisap-hisap sampai badanku merinding semua. Ia memandang mataku dan memberi tanda agar pindah ke kamar tidurnya. Kami berbaring dengan ambil posisi 69. Kini didepan wajahku terpampang pussy yang menganga dan memerah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, langsung ku serang pussy itu hingga Mbak Arti menggelinjang penuh kenikmatan. Tetapi sebaliknya Mbak Artipun semakin gencar menyerang peny-ku dengan tak kalah hebatnya. Tiba-tiba ia bangun dan mendorongku hingga jatuh telentang. Hujan belum juga berhenti. Dalam hati kunyayikan lagu anak-anak yang kugubah syairnya , TIK…TIK….TIK BUNYI HUJAN DI ATAS RANJANG. Ia mulai ambil posisi membelakangiku dan membimbing peny-ku masuk ke dalam lobang pussy yang sudah becek itu disertai gerakan naik turun. Pelan-pelan…..agak cepat…..sampai seperti kesetanan ia terus menggoyang pantatnya naik turun. Kuimbangi gerakannya dengan mendorong peny-ku maju mundur. Mulutnya menceracau tak karuan. Dengan masih melakukan gerakan tadi kuremas-remas payudara yang kini semakin mengeras itu. Hingga akhirnya ia menjerit kecil “ Ohhhh…aku sudah nggak tahan lagi dik……Ahhhhssshhhh “ . Segera kuambil posisi konvensional. Kutelentangkan ia, pahanya ku buka lebar-lebar dan tumitnya kuletakkan di bahuku. Kuterobos lubang menganga itu dengan rudalku, dan kuserang habis-habisan. Permainan ini kami lakukan hampir 1 jam, sampai kakak iparku berdesah hebat sambil berkata “ Ahhhhgggg……ouuggghhh…ssshhhhh. Akkkkuuu mmmmaauuu kkkellluuaaaarrrrr dik. Ohhhg “. Kutambah kecepatan permainanku karena akupun sudah mendekati detik-detik orgasme. Kurasakan darah mengalir dari seluruh tubuh ke peny-ku Kugoyang,kugoyang dan kugoyang terus,sampai masing-masing kami mencapai puncak kenikmatan dengan kusemburkan mani ku ke dalam pussy kakak iparku itu sambil memeluknya erat-erat. Sepuluh menit kami berpagut mesra. Hingga akhirnya kami kenakan pakaian kami kembali. “ Mbakkk…” panggilku. “ Mmhhhhh…” jawabnya manja. “ Aku sebetulnya sudah mengintip waktu mbak tadi mandi “ godaku. “ Ahhhh…kamu nakal…” sungutnya sambil mencubit lenganku keras-keras. Senda gurau berakhir sampai aku berpamitan pulang dan kebetulan hujan sudah agak reda. Sebelum pulang kucium mesra pipi dan bibirnya sambil kubisikkan di telinganya “ Mbak adalah kakak iparku tersayang “.

Theodora Yang Asik

Theodora Yang Asik

Terima kasih atas pengalamanku ini termuat dalam situs nyamuk.com Kisah ini pernah aku alami beberapa tahun yang lalu.

Aku mempunyai kegemaran berolah raga, olah ragaku adalah renang, dan aku selalu melakukan renang setiap bulan pasti berenang.

Pada suatu hari aku aku pulang dari kuliah,aku istirahat sebentar kemudian aku menyiapkan pakaian renang,baju ganti serta peralatan anduk dan sabun juga shampoo. Setelah siap semua aku berangkat menuju tempat kolam renang umum dengan mengendarai sepeda motorku. Sesampainya ditempat kolam renang umum aku memarkir motorku setelah aku parkir aku menuju loket untuk membeli karci masuk kolam renang. Dan aku pun masuk ke area kolam renang. Setelah itu aku pakai baju renangku, aku menitipkan bajuku ke tempat penitipan. Akupu menuju kolam renang sebelum mulai renang aku selalu pemanasan terlebih dahulu. Setelah 5 menit pemanasan aku mulai masuk ke kolam dan aku selalu mengelilingi kolam renang. Dalam putaran berenang aku selalu mengelilingi 5 putaran. Merasa lelah aku istirahat. Pada saat istirahat aku berdiri di tepi dalam kolam kolam renang, aku melihat sosok wanita di sampingku. Dan aku pun membuka pembicaraan dengan basa basi.” Sendirian ya….mbak…… mana teman – temanya??? tanyaku kepada wanita disampingku. “ iya….belum datang yang lain”jawab wanita itu. “ kok belum berenang….”tanyaku kembali. “ saya ngak bias berenang dan saya hanya ikut – ikutan “ . Aku pun heran . dan tidak lama kemudian 2 orang temannya datang dan masuk pula disamping wanita itu. Akupun memberi senyuman kepada mereka dan aku mulai berenang dan berputar puitar kembali,akupun meninggalkan mereka. Setelah cukup lelah akupun istirahan yang kedua. Dan tempat istirahatku seperti yang tadi. Dan akupun menjumpai mereka kembali. “ lho….kok masih disini ……” kataku, “ iya nich… ngak bias bias berenangnya “ jawab wanita itu, “ oya boleh kenalan?tanyaku dengan menyodorkan tangan kananku, “Namaku rusman “kataku “ Theodora, Heni dan Kiki “ yang belum dapat berenang adalah Theodora dan Heni serta Kiki bisa, “ mau ngak ajarin saya,” “ kalau ngak mau ngak apa apakok” Kata Theodora. “ ya…sini aku ajarin tapi ngak bisa seperti pelatih pelatih renang yang lain” jawabku. Dan temanya berenang menjauh dari aku dan Theodora. Akupun mendekatkan ke Theodora. Akupun menyuruh Theodora telungkup dalam air dan aku menahan tubuh Theodora dengan kedua tanganku. Aku berada di sebelah kiri Theodora “ tangan kamu pegang pingiran kolam renang “ “ ya…begitu…” perintahku . Aku tanpa sengaja tangan kiriku memegang kiri buah dada Theodora ,buah dada Theodora kira kira 34A , dan Theodora menenggok kekana melihat aku, aku agak kaget melihat wajah Theodora namun Theodora memberikan senyuman kepadaku. Dan aku mulai lega. Dan aku memerintahkan gerak kakinya naik turun bargantian, aku tetap memegang buah dada Theodora karena aku piker kesempatan dan tidak terlihat siapa siapa, setelah cukup lama aku mulai ngak konsen karena adik yuniorku mulai bikin olah. “ udah duluan ya…aku mau putar putar kembali.” Untuk menjaga adiku, aku akhirin ajaranku untuk berenang putaran kembali setelah beberapa putaran aku akhirin berenang dan aku tidak melihat Theodora,Kiki dan Heni. Setelah aku bilas air pancuran, aku ganti pakaian dan keluar menuju parkir motorku.

Setelah aku mau meninggalkan parkiran aku melihat Theodora berjalan sendirian dan aku menghampiri. “ Kemana temannya tadi??” Tanya Aku. “ Udah pulang duluan sama cowoknya masing masing”jawab theodora “ mana cowok kamu?”Tanya aku “ aku….gak dijempu….”jawab Theodora. “ Tinggal dimana “ Tanya aku. “ di daera.” Jawab theo. “kalau ngak keberatan aku anterin kerumah kamu..” “ tapi mampir kerumahku dulu ya….naruh peralatanku” kataku. “ ya….bolehlah….” Kemudian aku suruh naik dibelakangku. Dalam perjalanan kerumahku aku ngobrol kesana kemari.dan Theo nama pangilanya Sesampainya dirumahku, aku masuk dan theopun aku suruh masuk. “ Kok sepi …” “kemana semuanya” Tanya theo. “ Ortuku baru saja pergi kunjungan kesaudara 3 harian lah” terangku. “ duduk sini aku mau naruh pakaianku dulu” theo duduk di ruang tamu.

Setelah naruh aku mulai membuatkan minuman teh buat theo, aku berikan ke theo “ silahkan minum” “ ngak aku racuni….”candaku “makasih” jawab theodora “ aku mau nyalain lampu dahulu ya…” kataku setelah aku menyalakan lampu rumah aku menjupai kembali theo. Dan duduk disebelah kanan theo. Kami pun gobrol macam macam dan aku melihat celahan baju theo yang terbuka, ternyata theo tidak memakai BH. Dan aku coba mendekatkan diriku semakin lebih dekat dengan theo setelah dekat aku coba membelai rambut theo dan theo bersandar ketubuhku. Aku semakin berani mencium theo dan disambut dengan ciumannya. Akupun menciumi leher theo “ aa….ahhhh mas….” mencoba mebuka kancing baju theo, dan aku singkapkan sehingga buah dada theo terlihat dariku. “ maaaasssssssss jjjjjjjjjaaaaaaaaannnnngggggaaaaaaannnnn “ “ takut ketahuan “kata theo” Aku ……sudah ….bilang……kalau semuanya sudah pergi tanggal kita….” Jawabku dengan terengah enggah. Lalu aku menidurkan theo kebangku panjang. Dan menyusu “aaahhhhhhhhh…….uuuhhhhhhhhh…..mmaaasss…” desah theo aku lalukan dari buah dadakiri ke kanan dan bergantian setah aku puas aku bangkit buka bajuku dan celanaku setelah terlepas celanaku “wwwaaaahh kontooooollll mmaaaaasssss ssuudaahhh ngggaaaccceennnggg “ kata theo dengan itu aku jadi napsu membuka Cdku dan berdiri menantang, aku membuka celana panjangtheo . Aku ngak kuat aku sodorkan kontolku kemulut theo dan di ciumin dan disertai desahan theo” oooohhhh……mmmaaassss”,tanganku mulai bereaksi menyelinap ke CD menuju Memek Theo dan ternyata ada cairan di memek theo. Selang beberapa saat aku bangkit melepas CD theo. Kemudian aku membuka paha theo dan aku mulai menciumi buah dadanya yang aku sukai. Dengan menyusui, theo mengerakkan pantatnya keatas dengan maksud memeknya dapat dicolok oleh kontoku yang sudah tegang.“ uuuhhhh….mmmaaaassss cccceeeepppeeeetttaaannnnn dddoooonnnggg” desah theo dan aku pun ngak sabar aku atur posisi yang baik supaya kontol aku dapat masuk ke memek theo. “ bbbllleeess…..” masuklah kontol aku. Akupun mulai menaik turunkan pantatku serta aku menyusui di buah dada theo”uuuhhh…..aaaahhhh….uuuhhhh….” desah theo. Aku tidak lepas dari buah dadanya . “ mmmaaaasssss…..kkkkkoooccccooookkk tteeerrruuusss kkooonntttooll mmaassss” kata theo “ ssshhhhhh….aaahhh….”sekitar 15 menitan “ aaakkkkkuuu……uuuuddddaaahhh kkkeeellluuuaaarrrr “kata theo dan ppplllaaakkk….pppplllloookkkk…bunyi gesekan kontolku dengan memek theo yang sudah mengeluarkan cairan .dan aku kocok terus masih tanggung sebentar lagi ingin keluar. “ thhheeeeeoooooo…..aaakkkkkuuu mmmmaaaauuuu….kkkeeeellluuaaarrrr nnnnniiiihhhh…..” kataku ,hitungan detik akhirnya pejuku keluar dan membasahi memek theo dan akupun mencium “ mas rusman makasih ya…aku ….sebenarnya ingin begituan ama pacarku tapi pacarku belum pulang dari belayar…”kata theo.”ya…makasih juga…aku juga sudah lama ngak gituan ama pacarku”jawabku. “ aku selalu melakukan ini kalau pacarku pulang dari berlayar namun sampai saat ini belum aku dapatkan” kata theo. Dan aku pun mencabut kontolku setelah kontolku kembali normal lagi “ ya..udah mari kita lakukan sepuas puasnya”kataku sambil memainkan buah dada theo. “ mas dimana kamar mandinya aku mau bersihin memekku dulu” Tanya theo. “ itu kelihatan kok “ kataku sambil menunjukan kamar mandi, kemudian theo bengkit dan duduk di tepi tempat duduk tanganku tak lepas dari buah dada theo “ mass ntar lagi….yyaaaa” “saya mau membersihkan memekku ini” kata theo sambil menunjukan memeknya,dan berdiri menuju kamar mandi beberapa langkah aku ikuti theo , sesampainya di kamar mandi theo membersihkan memeknya dan aku berdiri di sampingnya” bersihin sekalian ya…” kataku sambil menyodorkan kontolku, “ Sini bersihinya pakai apa?air atau ….” Kata theo sambil menunjuk ke mulut. “ wwwaaaahhh…. Hhhaaaaatttiii llooo….nnttaarr mmmiinnttaaa lllaaggiii lllooo…” kataku “ ya…nggakk aapppaaaa” “ ssiiiaappaa ttaakkuutt”tantang theo. Dan kontolku mulai muali isap sampai berdiri kemudian aku lakukan kembali di kamar mandi setelah itu aku puaskan di malam hari dan sebelumnya theo sudah minta ijin kalau menginap di rumah tamannya Kiki.

Itu pengalaman aku dengan theo dan aku masih punya pengalaman lain dengan theo. Akupun menunggu rekan rekan akan komentarnya di zusdian@yahoo.com

« Older entries
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.